Wanita yang Ditalak Raj’i Apakah Masih Tinggal Bersama Suami?

Wanita yang Ditalak Raj’i Apakah Masih Tinggal Bersama Suami?

Dalam berumah tangga tidak selamanya berjalan sesuai yang dinginkan oleh kedua pasangan suami istri.

Talak atau perceraian inilah yang sering menimpa seseorang dalam berumah tangga, tentu banyak faktor yang menyebabkan talak atau perceraian tersebut.

Dalam pembagiannya talak ada 2, yaitu talak bain dan talak raj’i. Singkatnya, talak bain adalah sang suami (yang sudah berhubungan badan) menjatuhkan talak tiga sehingga istrinya tidak halal lagi untuknya dan tidak bisa ruju’ kecuali istrinya dinikahi orang lain dalam pernikahan yang sah dan diceraikan oleh suami barunya. Sedangkan talak raj’i adalah sang suami (yang sudah berhubungan badan) mentalak istrinya dengan talak 1 atau 2 yang memungkinkan untuk meruju’ istrinya tanpa dinikahi terlebih dahulu oleh orang lain. Jika ingin ruju’ dan masih dalam masa iddah maka tidak perlu akad baru. Adapun jika masa iddah selesai maka harus ada akad baru.

Pertanyaannya, wanita yang ditalak raj’i dan masih dalam iddah apakah masih tinggal bersama suaminya?

Untuk menjawabnya kami kutipkan dari kitab Fikih Muyassar yang disusun oleh Syaikh Abdul Aziz Mabruk, Syaikh Abdul Karim Al-Amri, Syaikh Abdullah bin Fahd Asy-Syarif dan Syaikh Faihan bin Syali Al-Muthairi;

“Wanita yang ditalak dengan talak raj’i adalah (tetap sebagai)
istrinya selama dia di dalam masa iddah. Dia berhak mendapatkan segala hak yang biasa didapatkan oleh para istri, berupa; nafkah
tempat tinggal, dan pakaian. Sebaliknya, dia wajib melaksanakan
segala kewajiban yang biasa dilakukan oleh para istri, berupa; tetap tinggal di rumah suami, dia boleh berhias untuk suaminya, berkhalwat (berduaan) dan berhubungan suami istri, serta saling mewarisi bila salah satunya mati.” [Lihat Buku Fikih Muyassar Pustaka Darul Haq Cetakan Ke-3 Halaman 508-509]

Syaikh Muhammad bin shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Istri yang boleh diruju’ memiliki ketetapan hukum sebagaimana yang berlaku bagi para istri.” (Lihat Buku Shahih Fikih Wanita Pustaka Akbar Media Halaman 373)

Semoga bermanfaat.

@Abul Fata Murod, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *