HUKUM MENANGGAP ORKES DANGDUT UNTUK RESEPSI PERNIKAHAN MENURUT KYAI DAN SANTRI NU

HUKUM MENANGGAP ORKES DANGDUT UNTUK RESEPSI PERNIKAHAN MENURUT KYAI DAN SANTRI NU

Menanggap orkes dangdut dalam acara pernikahan di tengah-tengah masyarakat seperti sudah menjadi budaya. Ketika mendengar kata “orkes dangdut” tentu yang terbayang dalam benak kita adalah adanya penyanyi wanita yang membuka aurat, lantunan-lantunan musik, campur baur lelaki dan perempuan.

Sebagian orang menganggap hal ini adalah perkara yang biasa, bahkan merasa senang bisa menghibur orang lain. Ada juga yang beranggapan bahwa acara pernikahan akan sepi dan tidak membuat menarik tamu undangan apabila tidak ada orkes dangdutan.

Terkadang budaya semacam ini ada di tengah-tengah lingkungan para santri atau orang yang sudah mengenal agama dan ilmu. Pertanyaannya, apa pendapat kyai dan santri NU mengenai fenomena ini?

Dalam buku “NGAJI FIQIH UNTUK BEKAL KEHIDUPAN DUNIA AKHERAT”, buku kedua (maksudnya jilid ke-2) yang dikeluarkan oleh Tim Kreatif Kajian Tanya Jawab (TIRAKAT) 2014, penerbit Purna Siswa 3 Aliyah 2014 dan Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Lirboyo Jatim, Cetakan Mei 2014 dan diberikan pengantar oleh KH. Ahmad Idris Marzuqi (Lirboyo Jatim) dan KH. Maimun Zubair (Sarang Rembang Jateng) disebutkan secara teks lengkap sebagai berikut;

25. MENANGGAP ORKES DANGDUT UNTUK RESEPSI PERNIKAHAN

Dengan tujuan menghibur masyarakat dan para tamu undangan, resepsi pernikahan kerap menyuguhkan hiburan orkes dangdut. Apakah hal ini diperbolehkan?

Jawaban: Tidak diperbolehkan (haram).

Referensi:

كفاية الأخيار الجزء الأول ص ۳۱۰ نور الهدی. ويحرم بذل الأجرة في مقابلتها ويحرم أخد الأجرة لأنه من قبيل أكل أموال الناس بالباطل وگذا لا يجوز استئجار المغاني ولا استئجار شخص لحملِ خمر ونحوه ولا لجبي المكوس والرشا وجميع المحرمات عافانا الله تعالى منها

[Lihat Buku “Ngaji Fiqih” Jilid 2 Halaman 109]

Dari keterangan di atas, sudah jelas bahwa menanggap orkes dangdut dalam acara pernikahan adalah dilarang.

Bahkan banyak sekali ucapan-ucapan ulama madzhab syafii tentang haramnya alat musik. Di antaranya sebagaia berikut;

1. Imam Ibnu Katsir Asy-Syafii rahimahullah berkata: Al-Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan bahwa firman-Nya: Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan. (Luqman: 6) Maksudnya, nyanyian dan seruling (musik). [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

2. Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii ketika berbica tentang syarat diwajibkan mendatangi walimah pernikahan adalah “Tidak ada kemungkaran didalamnya, contohnya minum khamr dan alat-alat musik seperti seruling dan lainnya.” [Lihat Kitab Kifayatul Akhyar Bab Nikah]

3. Syaikh DR. Musthafa Dib Al-Bugha berkata: “Jual beli sesuatu yang najis dan tidak ada manfaatnya maka hukumnya tidak sah. Hal ini berdasarkan pandangan syariat, seperti khamr, babi, alat-alat musik dan lain sebagainya. (Lihat Kitab At-Tahdzib Fi Adillat Matan Al-Ghayat Wa At-Taqrib Al-Masyhur Bi Matan Abi Syuja’ Fi Al-Fiqh Asy-Syafii Bab Macam-Macam Jual Beli)

4. Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya Minhajuth Thalibin dalam bab walimah beliau berbicara tentang wajibnya datang ke acara walimah akan tetapi disyaratkan ketika tidak ada kemungkaran dalam acara tersebut diantaranya dimainkan seruling.

5. Syaikh Zainuddin Al-Malibari Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya Irsyadul Ibad berkata:

الأصوات المحرمات, المطربة وغيرها من الأوتار وغيرها لأن اللذة الحاصلة منها تدعو إلي فساد كضرب خمر ولأنها شعار أهل الفسق كما مر

“Suara-suara yang diharamkan, suara biduan, gitar dan sejenisnya, karena kenikmatan yang diperoleh bisa mendatangkan kerusakan seperti minum arak (minuman keras) dan hal tersebut merupakan syiar orang-orang yang fasik sebagaimana yang telah terdahulu.”

الات اللهو المحرمة كالطنبور والرباب والمزمار. بل (و) جميع الأوتار

“Alat-alat lahwi, alat musik untuk permainan yang diharamkan adalah seperti genderang, rebana, dan seruling dan bahkan semua alat musik yang menggunakan tali (biasanya terbuat dari senar atau kawat)”

6. Imam Ibnu Naqib Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya Umdatussalik Wa Uddatunnasik dalam bab walimah ketika berbicara tentang wajibnya datang ke acara walimah juga mensyaratkan ketika tidak ada kemungkaran dalam acara tersebut diantaranya dimainkan seruling.

7. Syaikh Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Sullam At-Taufiq dalam bab maksiatnya kuping: “Diantara maksiat kuping adalah mendengarkan perkataan seseorang padahal itu sudah disembunyikan (bersifat rahasia), mendengarkan seruling, biola, dan suara-suara yang diharamkan”. Beliau juga berkata dalam bab maksiatnya tangan: “Diantara maksiat tangan adalah…..permainan yang menggunakan alat musik yang diharamkan seperti biola, rebab (jenis alat musik dengan senar), seruling dan gitar.”

Inilah beberapa pendapat ulama madzhab syafii tentang alat musik, memainkan dan mendengarkannya. Belum lagi jika kita kaji dengan melihat ayat, hadis sahih dan pendapat ulama madzhab lainnya maka kita akan dapati tentang haramnya alat-alat musik, mendengarkan dan memainkannya bahkan menjualnya.  Semoga bermanfaat

@Abul Fata Murod, Lc

Artikel: inilah fikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *