HUKUM ORMAS MENJAGA GEREJA MENURUT KYAI DAN SANTRI NU

HUKUM ORMAS MENJAGA GEREJA MENURUT KYAI DAN SANTRI NU

Di Indonesia ada ormas yang kerap menjaga gereja di saat non muslim mengadakan perayaan hari raya di gereja. Hal ini tentu mengundang kontroversi di kalangan umat Islam, karena perbuatan seperti ini tidak lazim bagi umat Islam.

Ormas tersebut dikenal sebagai ormas Islam yang berkembang di tengah-tengah para santri dan kyai. Sebenarnya bagaimana pandangan kyai dan santri NU terhadap ormas yang turut menjaga gereja?

Dalam buku “NGAJI FIQIH UNTUK BEKAL KEHIDUPAN DUNIA AKHERAT”, buku kedua (maksudnya jilid ke-2) yang dikeluarkan oleh Tim Kreatif Kajian Tanya Jawab (TIRAKAT) 2014, penerbit Purna Siswa 3 Aliyah 2014 dan Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Lirboyo Jatim, Cetakan Mei 2014 dan diberikan pengantar oleh KH. Ahmad Idris Marzuqi (Lirboyo Jatim) dan KH. Maimun Zubair (Sarang Rembang Jateng) disebutkan secara teks lengkap sebagai berikut;

11. ANSOR DALAM PENGAMANAN PERAYAAN NATAL

Pada perayaan Natal tahu 2011 yang lalu, salah satu dari ormas Islam berencana ikut membantu Polisi dalam pengamanan Natal dan menjaga stabilitas keamanan nasional. Dengan mengamankan tiap-tiap titik yang berada dekat dengan gereja tempat perayaan berlangsung. Apakah diperbolehkan bagi ormas Islam atau Ansor turut membantu dalam mengamankan kegiatan lain agama seperti halnya
Natal, dengan alasan menjaga kestabilisasian nasional?

Jawaban: Tidak bisa dibenarkan sebab mengamankan natal dan
gereja termasuk membantu dalam hal kemaksiatan.

Untuk menanggulangi dan mengatasi kerusuhan yang akan terjadi merupakan tanggung jawab pemerintah karena NON ISLAM yang berada di Indonesia statusnya adalah KAFIR HARBI* yang dijamin keamanannya oleh pemerintah. [Lihat Buku Ngaji Fiqih Untuk Bekal Kehidupan Dunia-Akherat Buku Ke-2 Halaman 238-239 Cetakan 1 Mei 2014]

Jadi, sangat jelas bahwa kyai dan santri NU menolak dan melarang ormas turut menjaga gereja. Karena sama saja ia andil dan tolong menolong dalam maksiat bahkan ia menjaga acara yang berisi ritual kekafiran menurut Islam. Allah Taala berfirman: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah: 2)
__________________
*Kami hanya mengutip teks asli dalam bukunya. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa status non muslim di Indonesia adalah KAFIR HARBI yang maknanya adalah kafir yang layak diperangi karena telah memerangi umat Islam. Entah salah tulis dari penulisnya dengan bermaksud KAFIR DZIMMI atau memang seperti itu pandangannya. Wallahu A’lam.

✍Oleh: Abul Fata Murod, Lc

Artikel: www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *