PERANG MU’TAH

PERANG MU’TAH

1. Mu’tah adalah nama sebuah negeri di Syam berjarak sekitar 80 km dari masjid al-Aqsho. Perang Mu’tah ini merupakan perang yang paling sengit dan berdarah dalam kehidupan Rosululloh . Perang ini disebabkan karena dibunuhnya utusan Rosululloh oleh pejabat raja Qaisar di al-Balqa negeri Syam. Tindakan tersebut bagi Rosululloh tak lebih sebagai pengumuman perang. Maka Beliau pun menyiapkan tentaranya sebanyak 3.000 prajurit.
2. Nabi mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan berpesan kepada para sahabat, apabila Zaid gugur, angkatlah Ja’far bin Abi Tholib sebagai panglima, apabila ia gugur angkatlah Abdulloh bin Rawahah sebagai panglima. Beliau meminta Zaid untuk mendatangi tempat pembunuhan Al-Harits bin Umair dan hendaknya ia mengajak mereka masuk Islam dari sana. Apabila mereka memenuhi, mereka akan selamat. Apabila tidak maka mohonlah pada Alloh dan perangilah mereka.
3. Ketika kaum muslimin sampai di tengah perjalanan, sampailah berita dari intelejen, bahwa Heraklius telah mengumpulkan bala tentara sebanyak 200.000 pasukan. Jumlah pasukan yang sangat tidak sepadan dengan jumlah pasukan muslimin. Maka kaum Muslimin bermusyawarah perihal masalah tersebut. Awalnya mereka berencana untuk meminta bantuan kepada Rosululloh . Namun Abdulloh bin Rawahah berkata, “Demi Alloh, sebenarnya apa yang tidak kalian sukai itulah tujuan kalian keluar, bahwa kalian semua akan mencari mati syahid. Kita berperang bukan dengan bermodalkan jumlah tentara dan kekuatan, tetapi kita berperang dengan semangat agama ini yang dengannya Alloh telah memuliakan kita. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid.” Akhirnya, pasukan kaum muslimin sepakat atas kesimpulan Abdulloh bin Rawahah tersebut.
4. Pasukan kaum muslimin bermarkas di sebuah tempat yang bernama Mu’tah. Di sanalah pertempuran antar dua belah pihak berkecamuk. Panglima Zaid bin Haritsh akhirnya gugur. Seketika itu bendera diambil oleh Ja’far bin Abi Tholib . Dia bertempur dengan perkasa. Di tengah pertempuran, tangan kanannya terputus, kemudian bendera itu digenggam tangan kirinya, kemudian tangan kirinya pun terpotong, maka bendera itu didekap oleh kedua lengannya hingga Beliau gugur. Bendera tersebut kemudian dipegang oleh Abdulloh bin Rawahah , lantas Ia berjuang hingga gugur. Setelah itu pasukan muslimin sepakat untuk mengangkat Kholid bin Walid sebagai panglima perang. Padahal ini adalah perang pertama yang diikutinya dalam Islam.
5. Kemudian Kholid membuat strategi perang dengan merubah posisi pasukan dengan susunan yang baru, sehingga pihak musuh mengira bahwa telah datang bala bantuan bagi kaum muslimin. Kemudian pasukan kaum muslimin pun dapat mundur dari pertempuran tanpa ada pengejaran musuh, karena sang musuh menganggap mundurnya itu hanya siasat saja. Akhirnya kaum muslimin kembali ke Madinah dengan selamat. Di sinilah Kholid tak henti-henti menggunakan kecerdikan strategi perang. Dalam perang ini Rosululloh menjuluki Kholid bin Walid sebagai “Saifulloh (Pedang Alloh).”
6. Meskipun perang ini tidak membuat kaum muslimin berhasil menuntut balas kaum Romawi atas kezoliman mereka, namun pengaruhnya sangat besar bagi kemuliaan kaum muslimin. Karena setelah itu bangsa Arab sangat takjub kepada pasukan kaum muslimin yang dapat selamat dari pasukan Romawi yang telah dikenal kuat dan berjumlah besar. Hal tersebut semakin menguatkan kebenaran yang dibawa oleh Rosululloh . Karena itu, suku-suku yang selama ini memusuhi Islam, mulai condong kepada Islam, seperti Bani Sali, Asyja, Ghotofan, Dzubyan dan lain-lain. 

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *