BAI’AT AQOBAH

BAI’AT AQOBAH

1. Ada 5 pemuda dari Yatsrib (Madinah) yang masuk Islam pada musim haji di tahun ke-11 kenabian. Mereka berjanji untuk menyampaikan misi yang dibawa Rosululloh kepada kaumnya. Dakwah mereka di Yatsrib berhasil mengantarkan 7 orang masuk Islam, karena itu ketika musim haji di tahun ke-12 kenabian, mereka telah berjumlah 12 orang (5 orang dari yang sudah masuk Islam sebelumnya, 7 orang yang baru masuk Islam). Mereka segera menghubungi Rosululloh untuk bertemu di Aqobah Mina, lalu mereka berbai’at kepada Rosululloh sebagai Bai’at Aqobah pertama untuk berjanji tidak akan menyekutukan Alloh sedikitpun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berdusta dan tidak bermaksiat kepada Rosululloh .
2. Setelah bai’at dan seusai musim haji, Rosululloh mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib untuk mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada kaum muslimin di sana dan menyebarkan Islam kepada mereka yang masih melakukan kesyirikan. Setelah itu berbondong-bondong penduduk Yatsrib menyatakan masuk Islam. Mush’ab bin Umair kembali ke Mekkah dan melaporkan kabar gembira dakwahnya kepada Rosululloh .
3. Saat tiba musim haji tahun ke-13 kenabian, kaum muslimin Yatsrib Madinah melakukan ibadah haji sebanyak 70 orang. Setibanya di Mekkah, mereka langsung menghubungi Rosululloh , lalu dengan rahasia sepakat bertemu di Aqobah dekat Jumroh ‘Ula di Mina untuk melakukan bai’at Aqobah kedua.
4. Isi kandungan dari bai’at ini adalah sebagaimana sabda Rosululloh , “Kalian harus patuh dan taat, baik saat giat maupun malas. Harus bersedekah, baik saat susah maupun senang. Harus beramar ma’ruf nahi munkar. Harus berjuang di jalan Alloh dan jangan mundur walaupun dihina orang. Harus menolongku jika aku datang kepada kalian dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian dan anak istri kalian. Dan balasan bagi kalian adalah Surga.”
5. Setelah masing-masing memahami satu persatu isi bai’at yang akan mereka ucapkan dan sadar akan konsekuensinya yang berat serta kesiapan mereka untuk melaksanakan bai’at tersebut, maka mulailah satu persatu mereka berbai’at kepada Rosululloh .
6. Setelah baiat selesai dilaksanakan, Rosululloh meminta kepada peserta ba’iat tersebut untuk menunjuk 12 orang di antara mereka sebagai pemimpin dan diserahkan tanggung jawab atas regunya masing-masing dalam melaksanakan isi bai’at tersebut. Maka mereka segera memilih dua belas orang tersebut, 9 orang dari suku Khozroj dan 3 orang dari suku Aus.
7. Pada detik-detik terakhir, setan mengetahui adanya bai’at tersebut. Dia naik ke sebuah bukit lalu berteriak tentang pertemuan itu. Rosululloh yang men-dengarkan teriakan setan tersebut, segera memerintahkan para peserta bai’at untuk kembali ke rombongannya. Pada awalnya mereka siap untuk menghadapi kaum musyrikin, namun Rosululloh katakan bahwa Beliau belum diperintah-kan untuk itu.
8. Keesokan harinya, kaum kafir Quroisy mendatangi perkemahan penduduk Yatsrib untuk memprotes dengan keras kepada para pemimpin rombongan haji dari Yatsrib, karena mereka menduga-duga bahwa pertemuan itu terjadi antara Rosululloh dengan sebagian rombongan haji dari Madinah. Tentu saja para pemimpin rombongan yang kebetulan masih musyrik dan tidak ikut dalam baiat Aqobah menolak mentah-mentah tuduhan orang kafir Quroisy, karena memang Bai’at Aqobah dilakukan dengan sangat rahasia. Sementara orang-orang muslim hanya dapat saling memandang satu sama lain, tidak menyangkal dan tidak mengiyakan. Akhirnya para pemimpin Quroisy membenarkan ucapan pemimpin kaum musyrikin dari Madinah, lalu mereka kembali dengan tangan hampa.

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *