FIKIH KHULU’

FIKIH KHULU

Definisi Khulu’:

Khulu’ secara bahasa artinya mencabut atau melepas.
Secara istilah adalah istri menebus dirinya dari suaminya yang tidak disukainya dengan sejumlah uang yang dia serahkan kepada suaminya sehingga dengan demikian dia terlepas darinya.
Ketidaksukaan istri kepada suaminya seperti disebabkan karena buruknya akhlak dan agamanya, buruknya fisik suami atau karena sebab takut bermaksiat kepada Alloh dengan tidak mentaati suami. Bukan karena tanpa sebab yang syar’i lalu seorang istri meminta khulu’ kepada suaminya. Maka kalau demikian haram hukumnya.
Menurut Sulaiman Rasjid, khulu’ adalah talak yang diucapkan oleh suami dengan ganti pembayaran kepada pihak suami.
Para ulama telah bersepakat bahwa khulu’ yang diucapkan dengan lafadz talaq atau dengan niat talak maka termasuk dari talak. Adapun apabila tidak mengunakan lafadz talak atau dengan lafadz tidak jelas seperti dengan lafadz kinayah dengan tanpa niat talak maka para ulama berbeda pendapat. Apakah termasuk kategori talak atau termasuk kategori fash?
Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dalam qaul jadid mengatakan bahwa itu masuk dalam kategori talak. Adapun Syafiyyah dalam qaul qodim dan pendapat yang masyhur dari Hanabilah bahwa hal tersebut termasuk kategori fash. Tapi walaupun demikian, ulama yang mengatakan bahwa khulu’ termasuk kategori talak, mereka mengatakan bahwa status talaknya adalah talak bain buakan talak roj’i. Artinya seorang suami tidak memiliki kuasa lagi untuk kembali (ruju’) atas istrinya. Dan wanita yang mengajukan khulu’ tidak bisa ditalak lagi, karena dia telah menjadi wanita asing (bukan istrinya lagi) setelah khulu’. Dan apabila suaminya ingin kembali lagi maka harus dengan menikah lagi dengan akad yang baru.

Dasar Hukum Khulu’:

Permasalahan khulu’ telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah.
Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqoroh:229)

As-Sa’di berkata dalam tafsirnya: Ayat inilah yang menjadi dasar hukum khulu’ dan penerimaan ‘iwadh (ganti rugi). Khulu’ yaitu permintaan cerai kepada suami karena fisik suami, akhlak atau kurang agamanya, sedangkan si wanita khawatir tidak dapat mentaati perintah Allah dengan pembayaran yang disebut ‘iwadh. Suami boleh mengambil ‘iwadh terebut.
Dalam hadits al-Bukhori (4971) meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa istri Tsabit bin Qois mendatangi Nabi dan berkata: “Wahai Rasululloh saya tidak mencela akhlak Tsabit dan tidak juga agamanya. Akan tetapi saya takut kufur dari Islam.” Nabi lalu bersabda: “Apakah engkau akan mengembalikan kebunnya?” kemudian Nabi bersabda kepada Tsabit bin Qois; ‘Terimalah kebunmu dan talaklah istrimu.”
Iwadh’ (ganti/tebusan) dalam Khulu’
Sebagaimana telah disebutkan bahwa khulu adalah melepaskan ikatan pernikahan dengan mengganti tebusan berupa harta. Maka iwadh ini menjadi pembahasan yang asasi dalam masalah ini. Karena jika tidak terlaksana iwadh maka tidak terlaksana khulu’. Misal: apabila seorang suami berkata kepada istrinya; saya akan mengkhulu’ kamu kemudian dia diam maka tidak terjadi khulu’. Tetapi apabila dalam hatinya meniatkan talak maka yang jatuh adalah talak roj’i bukan khulu’. Maka khulu’ ini akan terjadi kalau istri membayarkan iwadh atau tebusannya.

Bentuk dan jumlah tebusan dalam Khulu’:

Untuk bentuk dan jumlah tebusan merujuk pada kaidah;

كل ما جاز أن يكون مهرًا جاز أن يكون عوضًا فى الخلع

Segala sesuatu yang boleh menjadi mahar maka boleh menjadi iwadh (pengganti) dalam khulu’.

Menurut madzhab syafii tidak ada perbedaan antara istri yang meminta khulu’ atau suami yang langsung mengkhulu’ istrinya, yaitu agar istri membayar iwadh berupa sejumlah mahar yang sudah diberikan suami atau sebagiannya. Atu berupa harta lain yang sedikit jumlahnya atau banyak, atau berupa barang, atau hutang atau berupa manfaat. Hal ini diperbolehkan dengan syarat:
1. Iwadhnya adalah sesuatu yang ma’lum (diketahui)
2. Mampu untuk diserahkan
3. Kepemilikan sendiri

Hukum mengambil iwadh yang lebih besar dari mahar:

Jumhur ulama membolehkan seorang suami mengambil iwadh yang lebih besar dari mahar yang dia berikan kepada istrinya. Dalilnya keumuman Firman Alloh ta’ala:

فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ

“Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqoroh:229)
Maka ayat ini umum mencakup pengambil tebusan berupa jumlah yang sedikit atau besar.
Sebagian ulama melarang mengambil jumlah iwadh yang lebih besar.
Khulu’ dengan keridhoan suami istri
Seyogyanya khulu’ dilakukan dengan keridhoan pihak suami dan pihak istri. Apabila tidak terjadi keridhoan antara dua belah pihak, maka seorang Qodhi mengharuskan pihak suami agar mengkhulu’ istrinya sebagaimana dalam kisah Tsabin bin Qois. Bahwasannya Rasululloh langsung menetapkan kepada Tsabit agar mengkhulu’ istrinya dengan syarat istrinya menyerahkan kebun yang telah diberikan suaminya. Wallohu ta’ala wa ‘alam

Referensi:
1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid
3. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
4. Tafsir As-Sa’di

Disusun oleh: Salman Yudi Aris D., S.Ud.,Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *