SIAPAKAH WALI ALLAH?

SIAPAKAH WALI ALLAH?

Wali Allah bukanlah seperti yang disangka oleh sebagian orang, mereka menyangka bahwa wali Allah adalah orang yang hanya mampu menampakkan kehebatan-kehebatan atau kejadian-kejadian di luar kebiasaan manusia. Sehingga, mereka beranggapan bahwa derajat wali hanya bisa diraih oleh orang-orang tertentu. Padahal realitanya tidak demikian, dengan jelas dan gamblang bahwa Allah sendiri yang menggambarkan tentang siapa mereka wali Allah dan kepada siapa predikat tersebut diberikan? Allah berfirman;

.أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ َالَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُوْن

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)

Imam Ibnu Katsir As-syafii rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Allah Ta’ala memberitahukan bahwa wali-wali atau kekasih-kekasih-Nya adalah mereka yang beriman dan bertakwa, seperti yang ditafsirkan oleh banyak ulama. Dengan demikian, setiap orang yang bertakwa adalah wali atau kekasih) Allah”.

Imam Jalaluddin As-Suyuti Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Yaitu (orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa) kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sudah jelas sekali bahwa predikat wali tidak hanya dikhususkan kepada orang-orang tertentu yang bisa menampakkan kehebatan atau kejadian di luar kebiasaan manusia seperti bisa berjalan di atas air laut atau kebal bacok. Wali Allah bisa diraih oleh siapa saja yang dirinya beriman dan bertakwa.

Maka dari sini jelas sekali, jika ada orang yang mengaku atau dijuluki wali lantaran ia capai dengan bersemedi berhari-hari atau berbulan-bulan sehingga tidak shalat, tidak puasa dan tidak menjalankan ibadah lainnya, maka klaim itu adalah dusta. Atau juga orang yang berpenampilan dan perilaku kesehariannya seperti orang gila sehingga sudah tidak mengetahui halal dan haram, tidak beribadah lalu dianggap wali disebabkan bisa menampakkan hal-hal di luar kemampuan manusia maka klaim kewaliannya pun dusta.

Diantara ciri khususnya lagi seorang wali Allah yang hakiki, disamping beriman dan bertakwa ia menjauhkan diri dari sifat riya’ atau pamer dalam ibadahnya sebagaimana diceritakan dari Abdullah ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan banyak ulama lainnya dari kalangan ulama Salaf, mereka telah mengatakan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang apabila terbersit perasaan riya’ (pamer ibadah) dalam hati mereka, maka mereka segera ingat kepada Allah.
Hal ini telah disebutkan di dalam sebuah hadis marfu’, diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar. Disebutkan bahwa:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَرْب الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سَابِقٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَشْعَرِيُّ -وَهُوَ الْقُمِّيُّ -عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ؟ قَالَ: “الَّذِينَ إِذَا رءُوا ذُكر اللَّهُ”

telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id ibnu Sabiq, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Abdullah Al-Asy’ari (yaitu Al-Oummi), dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah wali-wali Allah itu? Maka Rasulullah Saw. menjawab: Yaitu orang-orang yang apabila terbersit rasa riya dalam hatinya, maka segera ia ingat kepada Allah.

KAROMAH WALI

Para ulama ahlus- sunnah sepakat bahwa karomah wali Allah itu ada. Hal ini banyak dikisahkan dalam hadis-hadis seperti kisah ashabul ukhdud, kisah 3 pemuda yang terjebak di gua dan seperti dalam hadis berikut ini;

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu, dia berkata: “Penduduk kota Kuffah melaporkan Sa’ad, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar pun memberhentikannya dari jabatannya, dan mengangkat ‘Ammar (bin Yasir) sebagai pengantinya. Mereka melaporkan, hingga menyebutkan Sa’ad tidak mengerjakan shalat dengan baik (ketika menjadi imam). ‘Umar pun mengutus seseorang kepadanya. Ia berkata: “Hai Abu Ishaq, sesungguhnya mereka berkata bahwa kamu tidak mengerjakan shalat dengan baik.” Sa’ad menjawab: “Demi Allah! Sesungguhnya saya telah mengerjakan shalat dengan mereka seperti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak menguranginya. Aku mengerjakan shalat ‘Isya’, kuperpanjang dua rakaat pertama dan kupersingkat dua rakaat lainnya.” ‘Umar berkata: “Itulah dugaan kami tentang Anda, hai Abu Ishaq!”

‘Umar mengutus seorang atau beberapa orang bersamanya ke kota Kufah untuk menanyakan kebenaran laporan tentang Sa’ad kepada penduduk kota Kufah. Tidak satu masjid pun dilewati, melainkan ia bertanya tentang Sa’ad. Ternyata, mereka memujinya dengan baik. Setelah utusan ‘Umar memasuki masjid Bani ‘Abs, berdirilah seorang laki-laki di antara mereka bernama Usamah bin Qatadah, ia dijuluki dengan Abu Sa’adah. Usamah berkata: “Adapun jawaban pertanyaan Anda kepada kami, sesungguhnya Sa’ad tidak pergi bersama pasukan, tidak membagikan pemberian dengan rata dan tidak berlaku adil dalam memutuskan perkara.” Sa’ad bin Abi Waqqash berkata (setelah mendengar fitnah itu): “Ketahuilah! Demi Allah, aku benar-benar akan berdo’a dengan tiga keburukan: “Ya Allah, apabila hambaMu ini (Usamah) berdusta, dia melakukannya karena pamer dan mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya dan panjangkanlah pula kemiskinannnya, serta hadapkanlah dia banyak bencana.” Setelah itu, setiap kali ditanya, maka Usamah menjawab: “(Aku) adalah seorang yang sudah tua renta dan penuh bencana. Aku telah tertimpa musibah do’a Sa’ad (bin Abi Waqqash).”

Dan hadis-hadis lainnya seperti disebutkan Imam An-Nawawi dalam kitabnya riyadhus salihin pada bab “Karomah Wali”.

Di atas telah disampaikan bahwa wali Allah adalah siapa saja yang beriman dan bertakwa. Adapun tentang karomah wali, perlu diketahui bahwa siapa saja yang memiliki karomah maka ia pasti wali, namun tidak semua wali Allah diberikan karomah. Harus diketahui pula, bahwa karomah wali itu biasanya datang secara tiba-tiba kepada orang beriman dan bertakwa disaat ia memperjuangkan agama Allah dan ia dalam kondisi tertekan atau terzolimi, jadi karomah bukan seperti disangka sebagian orang, untuk mendapatkan karomah ia harus berpuasa sekian hari, merutinkan wirid tertentu, membuat ritual tertentu atau bersemedi sekian hari atau sekian bulan.

Semoga bermanfaat pembahasan ini. Wallahu a’lam

✏Abul Fata Miftah Murod, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *