RINGKASAN FIKIH JIHAD

RINGKASAN FIKIH JIHAD

Berikut poin-poin dari ringkasan fikih jihad;

1. Jihad adalah mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir dan memerangi para pemberontak negara Islam atau khilafah islamiyah.

2. Orang yang selama hidupnya tidak pernah jihad sedangkan kewajiban jihad ada di hadapannya, bahkan tidak pernah menghadirkan keinginan untuk jihad maka ia meninggal dengan membawa bibit kemunafikan

3. Wajib bagi setiap muslim untuk berjihad dengan jiwa yaitu berperang secara langsung menghadapi orang kafir, dengan harta yaitu mengeluarkan hartanya untuk keperluan jihad dan membeli persenjataan dalam jihad.

4. Tidak ada perintah khusus berjihad bagi muslimah, dengan haji dan umroh adalah bagian dari jihadnya muslimah. Kalaupun muslimah harus turun ke medan jihad, maka ia hanya membantu dalam logistik atau medis. Namun jika muslimah tersebut hendak diserang oleh musuh maka ia diperbolehkan melawannya.

5. Apabila jihad itu sifatnya jihad tholab atau ekspansi ke negeri musuh atau menaklukkan wilayah musuh maka seorang anak harus ijin kepada orang tuanya, jika orang tuanya melarang maka ia tetap berbakti pada orang tuanya. Adapun dalam jihad difa’ yaitu musuh sudah masuk dan menyerang wilayah kaum musliman, maka seorang anak tidak perlu ijin orang tua ketika hendak melawan musuh.

6. Apabila seorang muslim berada di pemukiman orang kafir dan ia tidak mampu berdakwah, bahkan agama dan nyawanya terancam maka ia wajib berhijrah mencari pemukiman muslim.

7. Orang yang disebut jihad fi sabilillah adalah orang yang berjihad secara murni untuk menegakkan agama Allah, bukan bertujuan lainnya seperti mencari ketenaran atau harta semata.

8. Sebelum memerangi orang kafir hendaknya mereka terlebih dahulu didakwahi untuk masuk Islam.

9. Setiap hendak memberangkatkan pasukan kaum muslimin untuk jihad, Nabi memberi wasiat kepada mereka agar senantiasa bertakwa, tidak curang dalam pembagian ghanimah, tidak khianat, tidak memutilasi musuh yang sudah mati, dan tidak membunuh anak-anak kecil.

10. Nabi setiap berangkat jihad berjalan dengan secara diam-diam dan membuat jalur-jalur untuk mengecohkan musuh .

11. Hukum asal tidak boleh membunuh anak kecil dan wanita, kecuali wanita dan anak kecil tersebut ikut menyerang kaum muslimin. Atau kebetulan anak dan wanita tersebut berada di basecamp musuh sehingga ikut terkena serangan dari umat Islam dan sulit dihindari. Jadi tidak boleh pasukan muslim berniat dari awal untuk membantai anak kecil dan wanita.

12. Dalam jihad, kaum muslimin tidak boleh meminta bantuan ke orang-orang musyrik atau kafir lainnya, adapun kepada orang fasiq masih diperbolehkan karena mereka masih muslim.

13. Boleh seorang diri masuk ke kerumunan musuh, untuk membuat musuh tercerai berai atau membuat jalur agar umat Islam bisa menyerang musuh.

14. Syarat wajib jihad ada 7; Islam, balig, berakal, merdeka, lelaki, sehat dan mampu berperang

15. Jihad tidak wajib atas orang miskin yang tidak mendapati seseuatu yang dapat ia nafkahkan atas diri dan keluarganya. Atau ia seorang yang tidak mendapati
sesuatu yang dapat membawanya, seperti kendaraan. Sedang tempat jihad tersebut
pada jarak diperbolehkannya qashar, meskipun ia mampu untuk berjalan. Hal ini
berdasarkan firman Allah : “Orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan tidak ada dosa…” ” (QS. At-Taubah:91). Seandainya tempat jihad kurang dari jarak qashar maka tidak disyaratkan
adanya kendaraan, jika ia mampu untuk berjalan. Disyaratkan dalam jihad adanya
nafkah, namun dikecualikan apabila musuh telah di depan pintu negerinya.

16. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Jika kaum muslimin berperang, atau mereka hendak dan
bersiap untuk berperang, lalu mereka merasa tidak mampu
menghadapi musuh, maka haram bagi mereka untuk mundur
dari musuh, kecuali jika hendak bergabung dengan pasukan
muslim lainnya. Meskipun kaum musyrikin lebih banyak dan
kemampuan mereka untuk melawan, maka aku tidak suka jika
kaum muslimin melarikan diri dari mereka. Jika seseorang yang
mempunyai udzur, baik karena dia lemah atau sakit, ikut dalam
peperangan, maka saya khawatir hal itu akan melemahkan
orang orang yang berperang, karena mereka telah diberi udzur
untuk tidak ikut perang. Tetapi jika mereka melibatkan diri
dalam perang itu, maka mereka dianggap sebagai orang yang
berperang. ”

Demikian beberapa poin ringkasan dari fikih jihad.

Sumber:

1. Kitab Kifayatul Akhyar Karya Imam Taqiyuddin al-Hishni

2. Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram Karya Imam Ash-Shon’ani

3. Kitab Al-Um Karya Imam Asy-Syafii

@Abul Fata Murod, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *