HUKUM SEPUTAR BUDAK

HUKUM SEPUTAR BUDAK

1. Tawanan perang (kaum kafir) dari kalangan kaum wanita dan anak-anak langsung dijadikan BUDAK, mereka terhitung dalam harta rampasan perang. Mereka tidak boleh dibunuh.

2. Tawanan perang (kaum kafir) dari kalangan lelaki diserahkan keputusannya kepada pemimpin Islam, antara menghukum mati, melepaskan secara gratis atau dengan tebusan harta atau jasa, ditukar dengan tawanan muslim dan bisa juga dijadikan sebagai BUDAK.

3. Orang kafir yang masuk Islam sebelum tertawan, maka harta, darah dan anak-anak kecilnya terlindungi.

4. Membebaskan budak adalah melepaskan kepemilikan dari manusia dan memerdekakannya dari perbudakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

5. Wala’ adalah kekerabatan karena seseorang memerdekakan budak, jadi barangsiapa memerdekakan budak, dia menjadi kerabat budak tersebut. Hukum wala’ sama dengan hukum ‘ashabah ketika majikan atau budak meninggal, artinya ketika budak yang dimerdekakan itu meninggal, orang yang memerdekakan budak berhak mendapatkan seperti yang didapatkan oleh ‘ashabah dari nasab yaitu seperti anak laki-laki, ayah dan saudara kandung dalam hal warisan, menjadi wali pernikahan, memikul diyat, menuntut diyat dan lainnya.

6. Tadbir adalah mengaitkan kemerdekaan budak dengan kematian pemiliknya, misalnya pemilik budak berkata, “Engkau merdeka setelah kematianku.” Jadi, jika pemiliknya budak telah meninggal dunia, maka budaknya merdeka.

7. Mukatab adalah budak yang dimerdekakan pemiliknya dengan uang yang dibayarkan kepadanya secara kredit dalam jumlah tertentu.

8. Barangsiapa yang baru saja memiliki seorang budak wanita, haram baginya berhubungan badan dengannya sampai budak wanita itu menyucikan rahimnya. Jika ia adalah wanita yang masih haid, maka menunggu sampai ia haid satu kali atau iddahnya satu kali haid. Jika ia adalah wanita yang menjalani iddah dengan hitungan bulan maka lamanya satu bulan. Jika ia adalah wanita yang sedang hamil maka iddahnya sampai melahirkan. Iddah ummu walad yang ditinggal mati oleh tuannya adalah satu kali haidh.

9. Ummu walad adalah budak wanita yang digauli pemiliknya kemudian melahirkan anak untuknya.

10. Jika pemilik budak menggauli budak perempuannya, kemudian mengandung janin, maka haram bagi pemiliknya untuk menjual, menggadaikan dan menghadiahkannya. Dia boleh menggunakannya untuk pelayanan dan berhubungan badan.

11. Barangsiapa menggauli budak perempuan milik orang lain setelah menikahinya, maka anak yang dilahirkannya menjadi budak dari pemilik budak perempuan itu.

12. Jika budak perempuan memiliki anak bukan dari pemiliknya setelah menjadi ummu walad, maka anaknya itu merdeka seperti ibunya setelah pemiliknya meninggal. Sebab, kemerdekaan anak mengikuti kemerdekaan ibunya.

Wallahu A’lam

Sumber:

1. Matan Abu Syuja’

2. Syarah Matan Abu Syuja’ Karya Syaikh DR. Musthafa Dib Al-Bugha

3. Fikih Muyassar Karya Kumpulan Ulama Arab Saudi

@www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *