MENGADAKAN DUA KALI SHALAT JUMAT DI SATU TEMPAT ATAU MASJID

MENGADAKAN DUA KALI SHALAT JUMAT DI SATU TEMPAT ATAU MASJID

Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz rahimahullah berkata:

اعلم وفقك الله أن الذي عليه جمهور أهل العلم تحريم تعدد الجمعة في قرية واحدة إلا من حاجة؛ لأن النبي ﷺ لم يكن يقيم في مدينته المنورة مدة حياته ﷺ سوى جمعة واحدة، وهكذا في عهد خلفائه الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي أجمعين

“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepadamu. Menurut kebanyakan ulama haram hukumnya menyelenggarakan dua kali shalat jumat di satu wilayah atau tempat kecuali kondisi darurat, karena Nabi tidaklah mengadakan jumatan sepanjang hayatnya di kota Madinah Munawwarah kecuali dengan satu kali shalat jum’at, begitu pula di masa 4 khalifah yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu anhum ajma’in.

Dalam situs Islam Sual Wal Jawab yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Bin Shaleh al-Munajjid rahimahullah disebutkan;

لا يجوز إقامة جمعتين في مسجد واحد، ولو كثر عدد المصلين ولم يوجد مسجد آخر

“Tidak diperbolehkan mengadakan jumatan dua kali dalam satu masjid meskipun jamaahnya sangat banyak dan tidak ada masjid lain”.

Adapun fatwa sebagian ulama Syafiiyah seperti diterangkan dalam
situs “islam.nu.or.id” disebutkan, Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi dalam kitabnya Bughyah al-Mustarsyidin berkata;

وَالْحَاصِلُ مِنْ كَلَامِ الْأَئِمَّةِ أَنَّ أَسْبَابَ جَوَازِ تَعَدُّدِهَا ثَلَاثَةٌ ضَيِّقُ مَحَلِّ الصَّلَاةِ بِحَيْثُ لَا يَسَعُ اْلُمجْتَمِعِينَ لَهَا غَالِبًا وَالْقِتَالُ بَيْنَ الْفِئَتَيْنِ بِشَرْطِهِ وَبُعْدُ أَطْرَافِ الْبَلَدِ بِأَنْ كَانَ بِمَحَلٍّ لَا يُسْمَعُ مِنْهُ النِّدَاءِ أَوْ بِمَحَلٍّ لَوْ خَرَجَ مِنْهُ بَعْدَ الْفَجْرِ لَمْ يُدْرِكْهَا إِذْ لَا يَلْزَمُهُ السَّعْيُ إِلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ الْفَجْرِ

“Dan kesimpulan pendapat para imam adalah boleh mendirikan Jum’atan lebih dari satu tempat karena tiga sebab. (1) Tempat shalat Jum’at yang sempit, yakni tidak cukup menampung para jama’ah Jum’at secara umum. (2) Pertikaian antara dua kelompok masyarakat dengan syaratnya. (3) Jauhnya ujung desa, yaitu bila seseorang berada di satu tempat (ujung desa) tidak bisa mendengar adzan, atau di tempat yang bila ia pergi dari situ setelah waktu fajar ia tidak akan menemui shalat Jum’at, sebab ia tidak wajib pergi jum’atan melainkan setelah fajar.”

Dari keterangan di atas, kami sarankan untuk tetap berusaha tidak melaksanakan dua kali shalat jum’at di satu tempat atau masjid kecuali ada udzur syar’i yang memang mengharuskan melaksanakan dua kali shalat jum’at di satu tempat atau masjid. Wallahu a’lam

By:  Abul Fata Murod, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *