Keluar Darah Dari Selain Qubul Dan Dubur Apakah Membatalkan Wudhu?

Keluar Darah Dari Selain Qubul Dan Dubur Apakah Membatalkan Wudhu?

Keluar darah dari selain qubul dan dubur misalnya karena donor darah, berbekam, operasi bedah, mimisan, muntah darah dan semisalnya apakah membatalkan wudhu atau tidak, maka ulama berbeda pendapat.

Pendapat Pertama: Membatalkan wudhu. Ini adalah pendapat Sofyan ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, Ahmad, dan Ishaq.
Di antara dalil mereka adalah;

1. Hadits Abu Darda’ radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam muntah dan berwudhu.

Mereka mengqiyaskan atau menganalogikandarah kepada muntah dengan kesamaan bahwa ia najis yang keluar dari tubuh.

2. Mereka berkata: “Ada pendapat bukan hanya satu dari kalangan ahli ilmu dari para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan selain dari mereka dari kalangan para tabiin, bahwa mereka berwudhu dari muntah dan mimisan.

Pendapat Kedua: Tidak membatalkan wudhu. Ini pendapat Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i dan sebagian riwayat dari Imam Ahmad. Imam al-Baghowi mengatakan, “Ini adalah pendapat mayoritas para sahabat dan tabiin.

In syaAlloh pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah keluarnya darah tidak termasuk pembatal wudhu, akan tetapi dianjurkan berwudhu, dengan dalil berikut ini:

1. Terlepas dari tanggungan. Perlu diketahui bahwa hukum asalnya seseorang tetap dalam suci selagi belum ada dalil sebaliknya. Dan tidak ada dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan hal itu membatalkan wudhu. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada ketentuan sama sekali dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengharuskan wudhu dari hal itu.

2.Tidak tepat mengqiyaskan atau menganalogikan darah dengan lainnya seperti muntah karena illat atau sebab hukumnya tidak sama.

3. Shalatnya Umar bin Khothob radhiyallahu anhu dimana lukanya mengucurkan darah. Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan, “Orang Islam senantiasa shalat dengan luka-lukanya.

4. Bahwa keberadaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam berwudhu setelah muntah tidak menunjukkan wajib, karena kaidahnya bahwa sekedar perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang tidak dibarengi dengan apa yang menunjukkan perintah hal itu tidak menunjukkan wajib. Maksimal hal itu menunjukkan anjuran saja dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang hal itu. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan berwudhu dari berbekam, muntah dan semisal itu yang mengarah dari sisi dzohirnya perbuatan Nabi.

Wallahu a’lam

Sumber: https://islamqa.info/id

@inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *