KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Argumen Pelaksanaan Ibadah Puasa Arofah 9 Dzulhijjah dan Ibadah Kurban Berdasarkan Hilal Negara Setempat
Berikut adalah argumen yang menguatkan bahwa puasa Arafah dan pelaksanaan penyemblihan hewan kurban (bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji) adalah dilaksanakan sesuai penampakan Hilal negara setempat (masing-masing negara sesuai dengan kalendernya sendiri) dan bukan bergantung pada pelaksanaan wukuf di Arafah:
1. Keumuman waktu pelaksanaan ibadah dalam Islam selalu dihubungkan dengan munculnya Hilal, dan bukan dihubungkan dengan peristiwa kejadian di tempat lain.
Hal ini bisa kita amati dalam hukum Islam yang selalu menghubungkan waktu pelaksanaan ibadah, seperti; Puasa, berbuka puasa, kurban, dan haji dengan penampakan Hilal di tempat orang yang melaksanakan ibadah tersebut, bukan berdasarkan peristiwa tertentu di tempat lain.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ [البقرة: 189]
Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal. Katakanlah, “Hilal itu adalah ukuran waktu bagi manusia dan untuk pelaksanaan haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Ayat ini menetapkan bahwa munculnya Hilal adalah penanda waktu bagi seluruh kaum muslimin yang ingin melaksanakan ibadah puasa atau kurban di negaranya masing-masing. Maka yang menjadi acuan adalah waktu munculnya Hilal dimana seorang muslin berada, bukan berdasarkan terjadinya peristiwa tertentu di negara lain.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah ketika kalian melihat Hilal dan berbukalah ketika kalian melihat Hilal” (HR. Bukhori dan Muslim).
Pernyataan ini ditujukan kepada setiap masyarakat suatu negara bahwa memulai puasa sesuai dengan pengamatan Hilal negara setempat.
2. Setiap wilayah memiliki penampakan Hilalnya sendiri dan tidak berkewajiban untuk mengikuti penampakan Hilal di wilayah lain, meskipun wilayah tersebut berdekatan, seperti Suriah dan Madinah
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حَرْمَلَةَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ هِلَالُ رَمَضَانَ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْنَا الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَأَنْتَ رَأَيْتَهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقُلْتُ رَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ قَالَ لَكِنْ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ قَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ لِكُلِّ أَهْلِ بَلَدٍ رُؤْيَتَهُمْ
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hujr] telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ja’far] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Harmalah] telah mengabarkan kepadaku [Kuraib], bahwasanya: Ummul Fadl mengutusnya untuk menemui Mu’awiyah di Syam guna suatu keperluan, dia berkata: sesampainya saya di Syam dan selesai dengan kebutuhannya, tiba-tiba terlihat olehku hilal bulan Ramadlan, sedangkan saya berada di Syam. kami melihatnya pada malam jum’at kemudian saya kembali ke Madinah pada akhir bulan Ramadlan lantas [Ibnu Abbas] menyebutkan mengenai hilal, kapan kalian melihat hilal? Saya menjawab, Kami melihatnya pada malam jumat, dia berkata: kamu melihatnya pada malam jumat? saya menjawab, semua orang melihatnya, lalu mereka berpuasa, begitu juga dengan Mu’awiyah. Ibnu Abbas berkata lagi, akan tetapi kami melihatnya pada malam sabtu dan akan tetap berpusa sampai hitungannya genap tiga puluh hari atau kami melihat hilal, saya bertanya, tidakkah kamu ikut ru’yahnya Mu’awiyah dan shaumnya, dia menjawab, tidak, akan tetapi beginilah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami. Abu ‘Isa berkata: hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih gharib dan diamalkan oleh para ulama dengan suatu kesimpulan hukum bahwa setiap daerah memulai puasa berdasarkan ru’yahnya masing-masing. (HR. At-Tirmidzi)
Jika hadits ini berlaku untuk penentuan awal puasa Ramadhan (yang merupakan rukun Islam), maka hadits ini ini juga berlaku untuk puasa sunnah, seperti Hari Arafah, karena setiap negara memiliki penampakan Hilalnya sendiri dan tanggalnya sendiri.
3. Nama syar’i tanggal 9 Dzulhijjah adalah Hari Arafah
Penamaan hari Arofah adalah terkait dengan waktu, bukan terkait kejadian wukuf di Arofah. Hal ini bisa difahami berdasarkan hadits Shohih bahwa pada tanggal 9 Dzulhijjah Nabi shollallohu alaihi wasallam berpuasa, dan hari berikutnya 10 Dzulhijjah hari raya Idul Adha.
مسند أحمد ٢٥٢٦٣: حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ حَدَّثَنَا الْحُرُّ بْنُ الصَّيَّاحِ عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنِ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ
Musnad Ahmad 25263: Telah menceritakan kepada kami [Affan] telah menceritakan kepada kami [Abu Awanah] telah menceritakan kepada kami [Al Hurru bin Ashshayyah] dari [Hunaidah bin Khalid] dari [isterinya] dari [sebagian isteri Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam] berkata: “Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ke sembilan bulan dzulhijjah, pada hari asyura, dan tiga hari setiap bulan, yaitu hari senin pada pekan pekan pertama dan dua hari kamis pada pekan setelahnya.”
Hadits ini menunjukan bahwa nama “Hari Arafah” merujuk pada tanggal 9 Dzulhijjah, ini berlaku bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji dan berada di negara tempat tinggal mereka, sebagaimana Hari Asyura merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharram sesuai munculnya Hilal di negara masing-masing.
4. Penetapan puasa Arafoh harus berdasarkan pelaksanaan wukuf di Arafah adalah perkara sulit di masa ketika belum ditemukan teknologi modern
Menurut logika, secara paktis pada masa sebelum komunikasi modern ditemukan terutama bagi umat Islam di daerah terpencil sangat sulit bisa mengetahui secara pasti kapan jama’ah haji wukuf di Arafah?
Artinya, jika puasa Arofah dan ibadah kurban pelaksanaannya harus berkesesuaian dengan wukuf Arofah di Arab Saudi, maka umat Islam akan dibebani dengan kesulitan yang tak tertahankan selama berabad-abad, sedangkan hukum Islam datang untuk menghilangkan kesulitan tersebut. Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu praktik keagamaan umat Islam masing-masing negara itu disesuaikan dengan kalender lokal masing-masing bukan pada kejadian peristiwa di negara lain, termasuk di dalamnya pelaksanaan puasa Arofah dan ibadah kurban.
5. Fatwa Ulama
https://www.islamweb.net/ar/fatwa/143617/ صيام يوم عرفة إذا خالف البلد رؤية أهل مكة
السؤال
تعلمون أن يوم الوقوف بعرفة كان يوم الإثنين، لكن في ماليزيا كان يوم الثلاثاء، فهل إذا صمنا يوم الثلاثاء الذي هو يوم العيد عندكم يكون حراما؟ أم إننا نلزم بحسب التقويم عندنا؟.
أفيدونا جزاكم الله خيراً.
الإجابــة
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
فخلاف العلماء مشهور في مسألة رؤية أهل البلد الواحد هل تكون رؤية لجميع البلاد أم لا؟ وهذا الخلاف جار في جميع الشهور بما فيها ذو الحجة، والمفتى به عندنا هو اعتبار اختلاف المطالع، ومن ثم فإذا كانت بلدكم تعتمد في ثبوت دخول الشهر على الرؤية الشرعية فاعملوا برؤية أهل بلدكم ولو خالفت رؤية أهل مكة ولا حرج عليكم في ذلك على القول باعتبار اختلاف المطالع، ولهذه المسألة مزيد بسط ينظر في الفتوى رقم: 58562.
Oleh: Ust. Abdurrahim Lili, Lc; M.Pd.