KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
KEMUNAFIKAN RETORIKA KEPALSUAN IMAN
(Penjelasan Pembatal Keislaman 5)
Orang yang benci terhadap sesuatu yang dibawa oleh Rosululloh , walaupun ia melakukannya.
Ada sebuah istilah yang dikenal dengan mahalabiu, yaitu apa yang dimaksudkan komunikator, disengaja untuk berbeda dengan maksud yang ditangkap komunikan. Seperti kita bercanda kepada teman kita dengan berpura-pura menawarkan susu, “Antum mau susu…?” Teman kita menjawab, “Jelas dong… mana?” Lalu kita mengatakan, “Ha..ha.. Sama saya juga mau…?”
Nah seperti ini namanya mahalabiu, maksud kita itu bukan menawarkan susu. Tetapi dengan bahasa penawaran seperti itu, teman kita menyangka bahwa kita menawarkan susu. Kalau tidak dimaksudkan bercanda, tentu saja berbahaya. Tidak berbohong memang, tapi bisa menimbulkan asumsi yang berlebihan.
Pada beberapa kasus, kita pun sering mendapati Rosululloh melakukan yang demikian. Seperti ketika ada nenek-nenek yang meminta dido’akan oleh Rosululloh agar dimasukkan ke dalam surga bersamanya. Maka Rosululloh mengatakan, “Di surga tidak ada nenek-nenek…!” Maksudnya baru beliau jelaskan setelah si nenek menangis, bahwa ketika masuk surga, semua insan beriman menjadi muda kembali.
Ada lagi yang lainnya. Yang ini jelas-jelas sebuah kebohongan, bahkan bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena kebo-hongan ini menyangkut dari prinsip aqidah Islam. Tetapi seperti mahalabiu, kebohongan ini pun masih memiliki beberapa maksud yang dimungkinkan. Dan kebohongan seperti ini masih bisa dima-afkan, jika si pelaku benar-benar dalam kondisi yang sudah sangat terjepit. Seperti ia diancam akan dibunuh jika tidak mau menga-takan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
Nah… bagi seorang Muslim yang ter-ancam dalam situasi seperti ini, dimana situasinya sudah benar-benar genting, dalam kondisi pengancam dan yang di-ancam saling berhadapan, tidak ada ke-kuatan untuk melawan dan tidak ada ke-mungkinan lari lagi, maka dalam hal ini diperbolehkan bagi dia untuk berbohong. Tetapi, tetap tidak dibolehkan begitu saja mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, hatinya harus tetap meyakini bahwa al-Qur’an adalah Kalamulloh dan harus diusahakan memberi jawaban yang masih memiliki beberapa kemungkinan.
Seperti pada zaman dahulu, ada se-orang ulama yang dipaksa menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Sete-lah situasinya sudah tidak memungkin-kan, ia pun berucap, “Zabur (sambil me-ngangkat salah satu jarinya), Taurat (di-angkat lagi salah satu jarinya dan begitu pun ketika menyebutkan: Injil dan al-Qur’an, (hingga terangkat keempat jari-nya)…” Ia melanjutkan dengan menunjuk keempat jarinya yang diangkat… “Semuanya ini adalah makhluk…”
Tentu, yang dimaksud ulama itu bukan keempat Kitab itu makhluk, tetapi keempat jari itu adalah makhluk.
Retorika Kemunafikan
Lain di mulut lain di hati… ini meru-pakan bentuk lain lagi yang jauh dari ke-dua kondisi di atas. Kemunafikan…? Ya kemunafikan… tidak ada bentuk lain lagi yang memegang definisi simpel di atas kecuali kemunafikan.
Bukankah aneh? Ada orang yang mengamalkan apa yang dibawa oleh Rosululloh , namun ia sendiri memben-cinya, menginginkan agar yang ia ker-jakan itu musnah? Itulah kemunafikan, suatu bentuk kekafiran yang samar. Dan bahayanya, bagi orang yang sudah ter-jangkiti penyakit ini, maka ia pasti men-jadi musuh yang menyelinap dan racun yang mematikan.
Tak ada musuh yang lebih licik dari kemunafikan yang bersarang di barisan keimanan. Kadang ia menjadi alat yang dimanfaatkan musuh terang-terangan. Sering juga ia menjadi dirinya sendiri, mengambil keuntungan di saat lengah-nya barisan kebenaran.
Kemunafikan adalah retorika kepal-suan iman yang pada zaman ini gan-drung dipertontonkan. Berbeda dengan para pendahulunya di zaman Rosululloh yang tidak berani vokal menentang syari’at dan hanya menyembunyikan ke-kufurannya di dalam hatinya dengan ber-mantelkan Islam, orang-orang munafik modern zaman ini begitu nyaringnya me-nentang Islam dan syari’atnya. Walaupun begitu ciri mereka masih sama, yaitu ba-dan mereka masih berbungkus baju Mus-lim plus kopiah hitam.
Tetapi tetap saja, baik moyang atau generasi penerusnya, mereka memiliki spirit yang sama, yaitu menohok kebena-ran dari dalam. Penampilannya begitu mempesona. Ia adalah cendikiawan yang selalu didengar kata-katanya. Pembicara-annya begitu meyakinkan. Ia berargumen, membangun kerangka-kerangka pikir ko-song yang didengarkan dengan kagum. Tetapi ia sendiri ragu dengan yang ia ka-takan, khawatir seolah ia selalu diteriaki dengan keras.
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata niscaya kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang se-benarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Alloh membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Mu-nafiqun: 4)
Generasi awal kemunafikan dengan Ibnu Ubay bin Salul sebagai gembong-nya selalu berusaha “menjatuhkan” Rosu-lulloh beserta para Sahabatnya. Mere-ka mengkritisi Rosululloh , menafsirkan al-Qur’an dengan seenak nafsu tanpa ada pengagungan dan penghormatan. Sung-guh jelas kekafiran mereka.
Bersandar dalam kepura-puraan, ‘Abdullah ibn Ubay bin Salul dan wajah-wajah masa kininya yang tak berubah menipu kanan dan kiri. Musuh-musuh nyata siap memberikan dukungan dana. Dan munafik akan siap bekerja menjadi stuntman bagi setan-setannya dalam setiap aksi penentangan atau penga-cauan kebenaran.
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka me-ngatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesung-guhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok”. (QS. al-Baqarah: 14)
Betapa celakanya kemunafikan. Ia merupakan tempat naungan bagi para pengecut dari golongan orang-orang kafir yang berusaha mencari celah antara kei-manan dan kekafiran, tapi sayang ini membuatnya terperosok gosong ke kerak jahannam.
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)… Se-sungguhnya orang-orang munafik itu (di-tempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong-pun bagi mereka.” (QS. an-Nisa’: 143 dan 145)
Itulah balasan yang paling pantas bagi orang-orang yang menjadi musuh dalam selimut, para pengkhianat yang se-lalu berbicara di belakang, bersedih keti-ka Islam jaya dan sebaliknya senang bila Islam mengalami kemunduran.
Alloh berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) me-reka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi kalian. Mereka me-nyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118).
Rosululloh bersabda: “Tanda ke-munafikan ada tiga, jika berkata ia dusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diamanati ia khianat.” (HR. Bukhori dan Muslim) Wallahu A’lam.
Sumber:
(Diambil dari Buletin As-Silmi Bogor)
Artikel:
www.inilahfikih.com