KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
MAKNA & KEAGUNGAN TAUHID
Tauhid adalah prinsip Islam yang paling utama, fondasi bagi semua ajaran Islam, fardhu yang paling wajib dan hak Alloh yang paling agung. Barangsiapa menerimanya maka dia termasuk kekasih-kekasih Alloh , dan barangsiapa menolaknya maka dia termasuk musuh-musuh Alloh .
Semua Nabi dan Rosul diutus oleh Alloh untuk menyeru dan mendak-wahkan manusia kepada tauhid. Semua kitab suci diturunkan oleh Alloh untuk mengajak kepada tauhid. Surga dan neraka diciptakan oleh Alloh untuk membedakan mashir (tempat kembali) para penganut tauhid dan para penentangnya. Pedang-pedang dihunus, darah-darah ditumpah-kan dan jihad fi sabilillah disyariatkan hanya untuk menegakkan tauhid. Bahkan, manusia dan jin diciptakan tidak lain untuk mewujudkan tauhid. Ini semua menunjukkan betapa urgennya tauhid dalam syariat Islam.auhid adalah prinsip Islam yang paling utama, fondasi bagi semua ajaran Islam, fardhu yang paling wajib dan hak Alloh yang paling agung. Barangsiapa menerimanya maka dia termasuk kekasih-kekasih Alloh , dan barangsiapa menolaknya maka dia termasuk musuh-musuh Alloh .
DEFINISI TAUHID
Secara bahasa, tauhid berarti mengesakan atau menunggalkan. Sedang-kan secara istilah, tauhid artinya mengesakan Alloh dalam tiga hal berikut:
Arti Robb adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur. Dia-lah Alloh satu-satunya yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menyembuhkan, dan mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan. Tauhid macam ini dinamakan Tauhid Rububiyah. Alloh berfirman: “Sesungguhnya Robb kalian adalah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha suci Alloh, Robb semesta alam.” [QS. al-A’rof (7): 54]
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian. Adakah Pencipta selain Alloh yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada Robb selain Dia, maka mengapakah kalian berpaling (dari tauhid)?” [QS. Fathir (35): 3]
Ibadah dengan segala bentuknya seperti sholat, berdoa, bertawakal, takut, mengharap, berkurban dan lain sebagainya hanya boleh ditujukan kepada Alloh saja.
Mengesakan Alloh dalam hal ini disebut Tauhid Uluhiyah.
Alloh berfirman: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh semata dan jauhilah thaghut’.” [QS. an-Nahl (16): 36]
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku’.” [QS. al-Anbiya’ (21): 25]
Seperti Maha mendengar, Maha me-lihat, Maha berilmu, Maha bijaksana, Maha berkuasa, dan lain sebagainya.
Tidak ada satu pun yang menyerupai Alloh dalam nama-nama dan sifat-sifat tersebut.
Mengesakan Alloh dalam hal ini disebut Tauhid Asma’ was Shifat. Alloh berfirman: “Dialah Alloh Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui perkara yang ghoib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Alloh Yang tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Maha Suci Alloh dari apa yang mereka perse-kutukan. Dia-lah Alloh Yang Maha Mencip-takan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Membentuk rupa, Yang Maha Mempunyai nama-nama yang paling baik. Senantiasa bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. al-Hasyr (59): 22-24]
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. asy-Syuro (42): 11]
KEDUDUKAN TAUHID
Tentang keagungan dan keutamaannya yang besar, dapat kita selami dari pen-jelasan berikut:
Alloh berfirman: “Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [QS. adz-Dzariyat (51): 56]
Arti dari لِيَعْبُدُونِ (supaya mereka beribadah kepada-Ku saja) adalah لِيُوَحِّدُوْنَ (supaya mereka mentauhidkan-Ku).
Alloh berfirman: “Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘arsy (singgasana) dari apa yang mereka sifatkan.” [QS. al-Anbiyâ’ (21): 22]
Alloh berfirman: “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, niscaya Alloh mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak-lah ada bagi orang-orang zolim itu se-orang penolong pun.” [QS. al-Mâ’idah (5): 72]
Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. an-Nisâ’ (4): 48]
Rosululloh bersabda: “Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari Kiamat. Kemudian ditampakkan kepadanya sembilan puluh sembilan lembar catatan (amal perbuatan). Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan padanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah (keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demi-kian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan di zolimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bitoqoh (kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyhadu an Lâ Ilâha illalloh wa Asyhadu anna Muhammadar Rosûlulloh . Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bhitoqoh seperti ini?’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu pada hari ini tidak akan di zolimi.’ Kemudian sembilan puluh sembilan lembar catatan tersebut diletakkan dalam satu sisi timbangan dan dalam sisi yang lain, maka bitoqoh itupun lebih berat.” (HR. Tir-midzi dan Hâkim)
Dalam hadits Qudsi, Alloh berfirman: “Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku dengan membawa kesalahan (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa magfiroh (ampunan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)
Alloh berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencemari keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah.” [QS. al-An’am (6): 82]
Rosululloh pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal : “Wahai Muadz, tahukah engkau, apakah hak Alloh atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alloh?‘ Maka Mu’adz menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.’ Lalu beliau bersabda: ‘Hak Alloh atas para hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, sedangkan hak para hamba terhadap Alloh ada-lah bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya’.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Yang pertama kali diserukan para nabi kepada kaumnya adalah tauhid. Alloh berfirman: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sem-bahlah Alloh (saja), dan jauhilah Tho-ghut itu’…” [QS. an-Nahl (16): 36]
Tentang Nabi Nuh Alloh berfirman: “Sesungguhnya Kami telah me-ngutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada ilah bagi kalian selain-Nya.” Sesungguhnya aku takut jika kalian ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).” [QS. al-A’rof (7): 59]
Demikian pula para nabi dan Rosul-Nya yang lain, yang pertama kali mereka serukan adalah tauhid.
Dari paparan di atas, sangat jelas sekali demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelanggarannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peribadatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannya pun harus tauhid!
Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut! Na’udzubillah!
Sumber:
Diambil dari Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com