Tentang Keutamaan Puasa Arafah “Dosa-Dosa Setahun Yang Akan Datang Akan Diampuni”, Apa Maksudnya?

Tentang Keutamaan Puasa Arafah “Dosa-Dosa Setahun Yang Akan Datang Akan Diampuni”, Apa Maksudnya?

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه. أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ. قَالَ: يُكَفِّرُ اَلسَّنَةَ اَلْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Dari Abu Qotadah al-Anshory Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam perna ditanya mengenai puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang.”  (HR. Muslim)

Orang yang puasa arafah akan diampuni dosa-dosanya setahun yang telah berlalu dan setahun yang akan datang.

Imam An-nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim:

معناه: يكفر ذنوب صائمه في السنتين، قالوا: والمراد بها الصغائر

“Maknanya: Menghapus dosa-dosa orang yang puasa selama dua tahun, kata para ulama maksudnya adalah dosa-dosa kecil. ”

Dosa setahun yang akan datang akan diampuni. Belum berbuat tetapi sudah diampuni. Inilah kira-kira pemahaman sebagian orang terhadap hadits keutamaan puasa arafah. Tapi benarkah pemahaman tersebut?

Imam Ash-Ashon’ani Al-Yamani rahimahullah menjelaskan tentang maksud hadits tersebut dalam kitabnya Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, beliau rahimahullah berkata:

قد استشكل تكفير ما لم يقع وهو ذنب السنة الآتية، وأجيب بأن المراد أنه يوفق فيها لعدم الإتيان بذنب، وسماه تكفيراً لمناسبة الماضية أو أنه إن أوقع فيها ذنباً وفق للإتيان بما يكفره.

“Terdapat (kesulitan pemahaman) dalam hal penghapusan dosa yang belum terjadi yaitu dosa-dosa setahun yang akan datang, maka saya jawab bahwa maksudnya adalah Allah memberikan taufik kepada seseorang pada tahun itu agar tidak jatuh dalam dosa, hal itu bisa disebut penghapusan dosa yang akan datang. Atau maksudnya adalah apabila seseorang jatuh dalam dosa maka Allah memberikan taufik untuk beramal suatu kebajikan yang bisa menggugurkan dosa tersebut. ”

Semoga Allah memberikan taufik dan mengampuni dosa-dosa kita.

@Abul Fata Miftah Murod, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *