KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
MERAWAT IMAN DI AKHIR ZAMAN
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)
Juga dalam hadits disebutkan;
عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ »، قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: « الْقَتْلُ الْقَتْلُ »
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Zaman semakin dekat, amalan sholeh kian berkurang, kekikiran semakin banyak dan al-Harj semakin merajalela.” Para sahabat bertanya; “Apakah al Harj itu? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. al-Bukhari)
Sesungguhnya Amal shaleh adalah ruhnya keimanan seseorang, tanpa amal shaleh iman tidak akan bermakna. Karena ulama sepakat bahwa amal adalah syarat sahnya iman dan keimanan itu sendiri akan naik dan turun, sedangkan naiknya iman dengan amal shaleh.
Bagi kita yang berada di akhir zaman harus betul-betul berusaha keras merawat iman, karena hidup di akhir zaman dipehuhi dengan fitnah, syahwat dan kerancauan. Lebih-lebih Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa di akhir zaman amal seseorang akan semakin berkurang, bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam kabarkan akan datangnya fitnah yang gelap gulita sehingga menjadikan seseorang iman di pagi harinya lantas kufur di sore harinya, iman di sore harinya lantas kufur di pagi harinya lantaran fitnah tersebut yang menyebabkan seseorang menjual agamanya dengan secuil kenikmatan dunia.
Inilah alasan mengapa kita yang berada di akhir zaman harus betul-betul pandai merawat iman.
Lantas bagaimana cara kita merawat iman di zaman penuh fitnah, syahwat dan kerancauan?
Jawabannya adalah sebagaimana disampaikan di awal bahwa iman seseorang tidaklah akan bertambah dan terawat kecuali dengan memperbanyak dan berlomba-lomba dalam beramal shaleh.
Siapa saja yang banyak beramal shaleh maka imannya akan kokoh sehingga imannya terawat dengan baik, bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam perintahkan untuk bersegera dalam beramal shaleh. Apabila seseorang enggan atau kurang beramal shaleh dan ditambah banyaknya maksiat yang ia lakukan maka sedikit-demi sedikit imannya akan terkikis bahkan bisa jadi hilang karena jatuh dalam perbuatan yang berkonsekuensi menghilangkan iman seperti kesyirikan, kemunafikan atau kemurtadan.
Secara umum, semua bentuk amal shaleh akan menambah iman seseorang sehingga imannya terawat dengan baik, hanya saja di sana ada amalan-amalan yang disebutkan secara khusus yang dengannya akan mendongkrak dan merawat keimanan seseorang. Di antaranya adalah sebagai berikut;
1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya diatas segala-galanya serta mencintai dan membenci segala sesuatu karena Allah.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allah dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari)
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
2. Berakhlak baik
Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162)
3. Memperbanyak zikir terutama membaca al-Quran
4. Bertawakkal kepada Allah
5. Mengerjakan shalat wajib dan disempurnakan dengan shalat sunnah
6. Berinfak fi sab ilillah
Semua amal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٢) ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣)أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّ۬اۚ لَّهُمۡ دَرَجَـٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ۬ وَرِزۡقٌ۬ ڪَرِيمٌ۬ (٤)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (2) yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki [ni’mat] yang mulia.” (4). (QS. Al-Anfal: 2-4)
7. Amar makruf nahi mungkar
Allah Ta’ala berfirman,
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh atau mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)
8. Mencintai Saudara Seiman
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu anhu,pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman dengan iman sempurna sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Mencintai sahabat Nabi shallallahu alihi wasallam
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar (yaitu sahabat Nabi yang menyambut kaum muhajirin), dan tanda kemunafikan ialah membenci kaum Anshar”. (HR al-Bukhri)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidaklah yang mencintai orang-orang Anshar melainkan seorang mukmin, dan tidaklah yang membenci mereka kecuali orang-orang munafik. Barang siapa yang mencintai mereka, maka Allah cinta kepadanya, dan barang siapa yang membenci mereka, maka Allah benci kepadanya”. [HR Muslim].
Inilah beberpa amal shaleh yang apabila dilakukan seseorang niscaya imannya akan terawat dengan baik, dan tidak lupa kita memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufik kepada kita semua sehingga kita mampu beramal shaleh dan istiqomah dalam menjalankannya hingga ajal menjemput dan kita dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud
Artikel: www.inilahfikih.com