HUKUM TIDAK MEMPERCAYAI ADANYA TAKDIR

HUKUM TIDAK MEMPERCAYAI ADANYA TAKDIR

Assalamu’alaikum pak ustadz, mohon maaf saya mau tanya gimana hukumnya orang yang gak percaya sama taqdir? Dari Ibu Empurwati

Jawaban:

Waalaikumussalam, Iman kepada qadar atau takdir termasuk rukun iman ke enam. Barangsiapa tidak beriman kepada qadar, maka imannya rusak, amalannya tertolak dan diancam dengan neraka di akhirat kelak.

Banyak sekali ayat yang menetapkan qadar, sehingga kita wajib mengimaninya. Antara lain, firman Allah :

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab atau Lauh Mahfuzh. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj:70)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah  mengetahui segala sesuatu dan juga menunjukkan bahwa Dia telah menulisnya di dalam kitab di sisiNya. Ini termasuk iman kepada taqdir.

Juga firman-Nya:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [Az-Zumar/39:62]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah  menciptakan segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan.

Juga firman-Nya:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali dengan menyebut: “Insya Allâh” . (QS. Al-Kahfi:23-24)

Ayat ini menunjukkan bahwa segala perbuatan manusia tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah .

Adapun dalil dari sunnah, Nabi Muhammad  bersabda kepada Malaikat Jibril, ketika ditanya tentang iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Iman yaitu engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.” (HR. Al-Bukhari, no. 50; Muslim, no. 9)

Di dalam hadits lain disebutkan:

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَدَّرَ اللهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّماوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda, “Allah telah mentakdirkan semua takdir sebelum menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun”. (HR. Ahmad, no. 6579; dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

Sesungguhnya ada ancaman neraka bagi orang yang mengingkari taqdir. Diriwayatkan bahwa Ubadah bin Ash-Shamit  memberikan wasiat kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِاللهِ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَبَتَاهُ وَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ الْقَدَرِ مِنْ شَرِّهِ؟ قَالَ: تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، ثُمَّ قَالَ: اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ” يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ

Wahai anakku! Sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, dan tidak akan mencapai kebenaran hakekat ilmu terhadap Allah, sebelum kamu meyakini takdir yang baik dan yang buruk. Anaknya bertanya, “Wahai bapakku, bagaimana aku mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?” Beliau menjawab, “Kamu mengetahui bahwa apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset. Wahai anakku, aku telah mendengar Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Maka terjadilah semenjak saat itu dengan apa yang terjadi sampai hari kiamat. Wahai anakku, jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, kamu pasti masuk  neraka. (HR. Ahmad; Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)

Ancaman lain bagi orang yang mengingkari taqdir adalah amalnya tidak akan diterima sampai mengimani takdir

عَنْ ابْنِ الدَّيْلَمِيِّ، قَالَ: لَقِيتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، إِنَّهُ قَدْ وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا الْقَدَرِ، فَحَدِّثْنِي بِشَيْءٍ، لَعَلَّهُ يَذْهَبُ مِنْ قَلْبِي. قَالَ: “لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ، لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ، كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَلَوْ أَنْفَقْتَ جَبَلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللهِ، مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ، وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَلَوْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ، لَدَخَلْتَ النَّارَ” قَالَ: فَأَتَيْتُ حُذَيْفَةَ، فَقَالَ لِي مِثْلَ ذَلِكَ، وَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ، فَقَالَ لِي مِثْلَ ذَلِكَ، وَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ، فَحَدَّثَنِي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ

Dari Ibnu ad-Dailami, dia berkata : “Aku bertemu Ubay bin Kaab, lalu aku berkata: “Wahai Abul Mundzir, Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah qadar, maka ceritakanlah kepadaku tentang suatu hadits, semoga hal itu hilang dari hatiku”. Maka beliau  berkata, “Seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan bumi, maka Allah menyiksa mereka dengan tidak zhalim kepada mereka. Dan seandainya Allah merahmati mereka, maka rahmat Allah kepada mereka lebih baik dari pada amalan mereka. Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya darimu, sebelum kamu beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni  neraka”.

Ibnu ad-Dailami berkata, “Lalu aku mendatangi Hudzaifah, maka beliau berkata kepadaku seperti itu.  Aku mendatangi Ibnu Mas’ud, maka beliau berkata kepadaku seperti itu. Aku juga mendatangi Zaid bin Tsabit, beliau menceritakan kepadaku hadits Nabi Muhammad  seperti itu.” (HR. Ahmad, no. 21589; Abu Dawud, no. 4699; Ibnu Majah, no. 77; Ibnu Hibban, no. 727. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth. Juga oleh syaikh Muhammad Nashiruddin  di dalam Misykatul Mashabih, no. 37/115 dan Silsilah Ash-Shahihah, no. 2439).

Wallahu a`lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *