KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
GERHANA ADALAH TANDA KEBESARAN ALLAH
Gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yang dengannya Dia hendak memperingatkan para hamba-Nya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:
إن الشمس والقمر لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكنهما آيتان من آيات الله فإذا رأيتموهما فصلوا
“Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukanlah disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang, namun keduanya merupakan dua tanda dari tanda-tanda Allôh. Apabila kalian melihatnya, maka sholatlah!.” (HR. Al-Bukhârî)
Juga berdasarkan hadits Abu Mas`ud Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menjadikan hamba-hamba-Nya berperasaan takut. Keduanya (matahari dan bulan) tidak mengalami gerhana dengan sebab matinya seseorang manusia dan tidak pula kerana hidupnya seseorang manusia. Sekiranya kamu melihat salah satu dari dua gerhana tersebut, maka solatlah dan berdoalah selagi mana ia dapat kamu lihat. (HR. Muslim)
Alhafidz Ibnu Hajar Al `Asqolani rahimahullah berkata: Maksud sabda beliau “ Ayatani” adalah “ `Alamatani” dua tanda. Sabda beliau “ Min Ayatillahi ” artinya yang menunjukkan keesaan Allah serta agungnya kekuasaan-Nya, atau menunjukkan peringatan Allah kepada para hamba dari adzab serta kekuasan-Nya. Hal tersebut dikuatkan oleh firman Allah Ta`ala:
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka Menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (al-Isra: 59)
Juga berdasarkan hadits Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallaallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولكن اللَّهِ يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَه
”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukanlah karena kematian seseorang, namun dengan keduanya Allah hendak menakuti hamba-hamba-Nya.”
Dan dari riwayat Aisyah Radhiyalahu Anha, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ولكنهما من آيات الله يُخَوِّفُ الله بِهِمَا عِبَادَه فَإِذَا رَأَيْتُمْ كسوفا فاذكرواللَّه حَتَّى يَنْجَلِيَا
”Gerhana matahari dan bulan terjadi bukanlah karena kematian atau lahirnya seseorang, namun keduanya adalah tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan keduanya Allah hendak menakuti hambanya. Jika kalian melihat gerhana, berdzikirlah kepada Allah, hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: Sebagian orang mengira bahwa terjadinya gerhana matahari disebabkan oleh kematian Ibrahim (Putra Nabi), Sehingga Nabi pun bekhutbah dihadapan mereka dan bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لا يخسفان لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya terjadi gerhana bukanlah disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang, Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk sholat”.
Dan disebutkan dalam sebuah riwayat yang sahih:
ولكنهما آيتان من آيات الله يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَه
“Namun keduanya adalah tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan keduanya Allah hendak menakuti hambanya.”
Ini merupakan penjelasan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa keduanya merupakan sebab turunnya adzab kepada manusia. Karena, Allah hanya mempertakuti para hamba-Nya dengan sesuatu yang mereka takutkan, apabila mereka durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Manusia itu hanya akan merasa takut kepada sesuatu yang dapat membahayakan mereka, sehingga seandainya tidak ada kemungkinan munculnya bahaya yang menimpa manusia ketika terjadi gerhana, tentulah hal itu tidak disebut dengan mempertakuti. Allah Taala berfirman:
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka Menganiaya unta betina itu. dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (al-Isra`: 59).
Kemudian Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam memberikan solusi untuk menghilangkan rasa takut, yaitu dengan memerintahkan untuk melakukan salat, berdoa, beristigfar, bersedekah serta membebaskan budak agar apa yang menimpa manusia dilenyapkan,dan beliau kemudian melakukan salat gerhana bersama kaum muslimin dengan salat yang panjang.
Hal ini menegaskan agar orang-orang senantiasa waspada dengan cara mendekatkan diri dan berlindung kepada Allah, terutama ketika terjadi perubahan keadaan dan terjadi peristiwa yang menakutkan dengan sebab-sebab tersebut.
Terjadinya gerhana memiliki hikmah yang sangat besar, di antaranya adalah tujuh hikmah. Ibnu al-Mulaqqin berkata: “ Al-Muhib At-Thabari dalam kitab Ahkam menukilkan dari beberapa ulama bahwa dalam peristiwa gerhana terdapat tujuh manfaat atau hikmah:
1. Adanya fenomena perubahan pada matahari dan bulan, padahal keduanya merupakan dua ciptaan Allah yang agung.
2. Perubahan keduanya menandakan adanya perubahan kondisi yang terjadi sesudahnya.
3. Mengusik dan menyadarkan hati yang tengah tertidur dalam kelalaian
4. Agar manusia dapat melihat contoh-contoh peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat. Allah berfirman:
وَخَسَفَ الْقَمَرُ . وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, (al-Qiyamah: 8-9)
5. Bahwa keduanya berada dalam kondisi sempurna, kemudian mengalami gerhana, lalu mereda dan selanjutnya kembali kepada keadaan semula. Hal tersebut merupakan bentuk peringatan agar manusia takut terhadap makar serta mengharapkan ampunan.
6. Pemberitahuan bahwa terkadang suatu musibah itu menimpa orang yang tidak berdosa guna memperingatkan orang orang yang berdosa.
7. Manusia telah melalaikan salat-salat fardhu, sehingga mereka melakukan salat tersebut tanpa rasa cemas dan khawatir. Lalu didatangkanlah tanda ini sebagai sebab untuk melaksanakan salat gerhana agar salat tersebut dilakukan dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran. Dan barangkali saja meninggalkan salat-salat fardhu tersebut telah menjadi kebiasaan mereka.
Semoga Alloh senantiasa memberikan kekuatan dan bimbingan kepada kita semua untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Serta Allah berikan kemudahan kepada kita untuk memasuki surga-Nya. Amiin
Sumber:
Diambil Dari Kitab “ Shalatul Kusuf: Mafhum, Asbab, Adab, Ayat, Hikam, Wal Ahkam Fi Dhauil Kitab Was Sunnah” Karya Syaikh Dr. Said Bin Ali Bin Wahf Al-Qahthani Rahimahullah
Artikel:
www.inilahfikih.com