KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Haji Mabrur Calon Penghuni Surga
Dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh bersabda:
“Umroh ke umroh berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya,dan tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Ibadah haji adalah ibadah yang teramat mulia. Orang yang mampu menunaikannya memiliki kebahagian yang tiada tara. Pundi-pundi pahala disediakan bagi mereka yang menunaikan ibadah haji sesuai standar Alloh dan Rosul-Nya . Sampai-sampai berbagai cara ditempuh dan dijalani untuk bisa ke sana meskipun dengan cara rela menjual harta bendanya yang sangat berharga.
Setiap orang yang menunaikan ibadah haji, pasti bercita-cita memperoleh haji yang mabrur. Sebab haji mabrur memiliki keutamaan istimewa.
Keutamaan Haji Mabrur
Dari Ibnu Umar , Nabi bersabda:
“Orang yang berperang di jalan Alloh, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Alloh. Alloh memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Alloh pasti akan Alloh beri” (HR. Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh bersabda:
“Umroh ke umroh berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya, dan tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga” (HR. al-Bukhori dan Muslim )
“Nabi ditanya,“Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Ke-mudian apa lagi?” Beliau men-jawab, “Jihad di jalan Alloh.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi .” (HR. al-Bukhori)
Apa itu Haji Mabrur?
Ungkapan kata “haji mabrur” sangat populer dan akrab di telinga kaum Muslimin. Bahkan hal ini merupakan dambaan dan harapan bagi setiap jama’ah haji sepulang dari Makkah.
An-Nawawi berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang ber-pendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’.
Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shohih Muslim, 9/118-119)
Tanda-Tanda Haji Mabrur
Tidak semua orang yang menunaikan
ibadah haji memperoleh haji yang mabrur.
Haji mabrur merupakan anugerah dari Alloh yang Dia karuniakan pada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Tentunya yang menilai sisi mabrur atau tidaknya haji sese-orang hanya Alloh semata. Para ulama’ hanya menunjukkan kepada kita tanda-tanda haji mabrur. Di antaranya adalah:
Semata-mata ia menunaikan ibadah haji mengharap pahala dari Alloh . Bukan untuk pamer, kebanggaan, atau agar di-panggil “pak haji” atau “bu hajjah”.
Alloh berfirman:
“Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Alloh dengan penuh keikhlasan” (QS. al-Bayyinnah [98]: 5]
Semangat untuk menunaikan ibadah haji merupakan perkara positif. Namun, ada sebagian orang yang menunaikan ibadah haji tidak mengindahkan asal harta yang diperoleh untuk berhaji. Padahal, Alloh Maha Baik dan Dia tidak menerima melain-kan yang baik.
Rosululloh bersabda:
“Sesungguhnya Alloh baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. al-Baihaqi)
Ciri haji yang mabrur adalah pelaku ibadah haji senantiasa melakukan amal-amal kebajikan. Seperti banyak berdzikir, sholat berjama’ah di masjidil haram, mem-bantu teman seperjalanan dan lain-lain.
Tujuan ia berhaji bukan merehatkan badan atau bertamasya. Diantara amalan ketaatan untuk meraih haji mabrur adalah sedekah dan berucap dengan kata-kata yang baik.
Nabi pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau bersabda;“Memberi makan dan ber-kata-kata baik.” (HR. al-Baihaqi dishohihkan al-Bani)
Ibnu Rojab berkata, “Maka haji mabrur adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan yang baik, plus menghindari perbuatan-per-buatan dosa.”
Tanda haji mabrur nampak pada prilaku orang yang berhaji. Ia lebih mengingat kehi-dupan akhirat dan tidak tertipu daya dengan kehidupan dunia yang fana. Ia tidak lagi gemar melakukan perbuatan maksiat. Ia sigap dan tanggap terhadap amalan-amalan kebajikan.
Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud de-ngan dunia dan merindukan akherat.”
Al-Qurthubi menyimpulkan,“Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.”
Maksiat mampu membuat noda dan kotoran dalam jiwa manusia. Perbuatan maksiat adalah tercela dan dilarang oleh agama. Apalagi dilakukan saat menunaikan ibadah haji.
Alloh berfirman:
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rofats, fusuq dan berbantah-bantahan selama menger-jakan haji.” (QS. al-Baqoroh [2] : 197)
Rosululloh bersabda:
“Barangsiapa yang haji dan ia tidak rofats dan tidak fusuq, ia akan kem-bali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.” (HR. Muslim)
Rofats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasa-ngan sendiri selama ihrom.
Fusuq adalah keluar dari ketaatan ke-pada Alloh , apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas. Sedangkan Jidal adalah berbantah-banta-han secara berlebihan. Semoga Alloh menganugerahkan haji yang mabrur kepada saudara-saudari kita yang menunaikan ibadah haji. Amin.
Sumber:
Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com