KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
POTRET GENERASI PEMBAHARU (1)
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا .مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Kaum muslimin rahimakumullah….
Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah tentang pembaharuan agama, banyak orang dan pihak yang berupaya memasukkan tokoh yang dikaguminya sebagai sosok pembaharu (mujaddid). Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan Imam asy-Syafi’i sering disebut-sebut sebagai penyandang gelar sang pembaharu.
Dalam hadits-hadits tersebut, disebutkan bahwa sifat yang “harus” dimiliki oleh seorang pembaharu adalah; memperbaharui agama, mengajarkan ajaran agama kepada umat, mengajarkan sunnah-sunnah dan yang menolak kedustaan terhadap Nabi, serta menjelaskan urusan agama kepada umat.
Bertolak dari prinsip utama dan asasi tentang hakekat pembaharuan agama (tadjīd ad-dīn) sebagaimana tersebut di atas, maka ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh pembaharu (mujaddid) dan gerakan pembaharuan, yaitu:
Maka, tajdīd tidak mungkin dilakukan oleh golongan-golongan sesat, pengikut kebatilan dan para pemuja hawa nafsu. Bagaimana mungkin mereka yang hobinya
menghancurkan agama, serta senang mengaburkan hakekatnya dan menciptakan ajarannya yang baru akan sudi melakukan tajdīd ? Sangat tidak masuk akal!
Sebaliknya, tajdīd harus dilandasi dan dijiwai oleh aqidah yang benar, baik dalam iman, nama-nama dan sifat-sifat Allah (al-asma’ wa ash-shifāt), loyalitas dan permusuhan (al-walā’ wa al-barā’), ibadah dan pembentukan hukum (tasyrī’), semua permasalahan aqidah tersebut harus berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Maka, sangat “aneh” sekali apabila ada orang yang menganggap (baca: memasukkan) Syi’ah Rafidhah sebagai generasi mujaddid, lalu Islam manakah yang hendak mereka perbaharui? Demikian pula halnya dengan orang-orang sufi, filosof (ahli kalam), rasionalis, liberalis dan pengikut-pengikut hawa nafsu lainnya, tidak akan mungkin mereka melakukan tajdīd!
Mujaddid pertama, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai sasaran perdebatan (kalam), niscaya banyak mengalami perubahan!”
Mujaddid lainnya, Imam asy-Syafi’i berkata, “Seandainya Allah menguji seseorang dengan berbagai dosa yang dilarang oleh-Nya –kecuali syirik–, maka hal tersebut lebih baik baginya dari pada terfitnah dengan ilmu kalam.”
Tajdīd hanya mungkin dilaksanakan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, golongan yang selamat dari perbuatan bid’ah dalam agama yang diada-adakan, khususnya bid’ah dalam aqidah, karena mereka adalah satu-satunya golongan yang selamat.
Kaum muslimin rahimakumullah….
Kemudian syarat lain dari tajdīd adalah:
as-Suyuthi asy-Syafi’i berkata, “Bahwa pada setiap seratus tahun Rabb kita akan mengutus bagi umat ini sebagai anugerah-Nya, seorang ‘alim yang memperbaharui petunjuk agama, karena dia adalah seorang mujtahid.”
Walaupun syarat bahwa mujaddid adalah mujtahid tidak pernah ada dalilnya, namun kelayakannya untuk memiliki ilmu yang luas merupakan syarat asasi dari tajdīd. Karena misi utama sebuah gerakan tajdīd adalah; menghidupkan ilmu syar’i, menyebarkan pengamalan sunnah dan mengajarkan agama kepada umat manusia. Oleh karena itu, orang-orang yang mengusung tajdīd haruslah orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam, di samping diapun harus memiliki pengetahuan tentang kehidupan sosial masyarakat dan hal-hal yang terkait dengannya.
Kaum muslimin rahimakumullah….
Syarat tajdīd yang lain adalah:
Mujaddid bergerak dari tengah-tengah umat yang mengalami penyimpangan dan menghadapi realita yang menyedihkan untuk kemudian bangkit bersama-sama mereka menggapai kebaikan dan meraih kejayaan. Sebaliknya, orang-orang yang menolak kenyataan pahit yang dialami umat dan berkeyakinan bahwa keadaan umat tidak mungkin dapat diperbaharui, tidaklah mungkin menjadi generasi mujaddid.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، رَبِّ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَصَحْبِهِ الرَّافِعِيْنَ قَوَاعِدَ الدِّيْنِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin rahimakumullah….
Dari isi khotbah pertama tentang potret generasi pembaharu, menunjukkan bahwa mujaddid atau “sang pembaharu” adalah orang-orang memberi pengaruh besar dan luas terhadap berbagai permasalahan umat dan terhadap beragam peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
Para pembaharu tersebut menjadi penyadar umat Islam dari tidur panjangnya, mengembalikan rasa percaya diri mereka kepada agamanya dan memfokuskan mereka untuk kembali meniti ajaran agamanya yang benar. Para pembaharu tidak berpuas diri dengan sumbangsih atau baktinya yang hanya sekedarnya atau sedikit, dan tidak ridha dengan hasil kerja yang bernilai rendah, atau merasa cukup hanya dengan sibuk mengurusi masalah pribadi dan keluarganya, dengan membiarkan umat dalam keadaannya yang menyedihkan.
Cita-cita mereka sangat besar, tekad mereka teramat bulat dan semangat mereka terlalu kuat, sehingga mereka merasa malu bila hanya berpangku tangan melihat kerusakan umatnya. Hatinya akan terguncang saat melihat kepongahan dan kesombongan orang-orang yang zhalim lagi banyak membuat kerusakan di muka bumi.
Sesungguhnya rasa capai dan kerja keras hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang berjihad, karena tajdīd dan menghidupkan kembali ajaran agama adalah jalan panjang berliku yang tidak akan dipenuhi oleh taburan bunga wewangi. Sebaliknya, justru harus dilalui dan dilakoni dengan kerja keras, perjuangan dan kekuatan tekad yang membara.
Kaum muslimin rahimakumullah….
al-Hamdu lillah, kabar gembira tentang munculnya pembaharuan Sunni pada masa sekarang ini banyak sekali terdengar, dengan berbagai wujud dan bentuknya, di tengah merebaknya fajar kebangkitan Islam (shahwah Islāmiyyah) di berbagai penjuru dunia. Dan mudah-mudahan, kita semua termasuk di dalamnya.
Ya Allah , jadikanlah semua amal kami sebagai amal yang shalih, ikhlash karena-Mu, dan janganlah Engkau jadikan amal kami karena “ingin dinilai” seseorang!
Ya Allah , jadikanlah kami sebagai pengokoh barisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan wafatkanlah kami dalam membelanya!
Ya Allah , masukkanlah kami yang “lemah” dan “kecil” ini menjadi pejuang-pejuang tangguh yang selalu siap dan senantiasa membela agama-Mu serta untuk meraih kejayaan Islam dan kaum muslimin! Amin….
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍّ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لََعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Artikel:
www.inilahfikih.com