KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
RENUNGAN PASCA ROMADHON
Tidak bisa dipungkiri perginya bulan Romadhon melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Alloh di bulan Romadhon saja. Ternyata tarbiyah imaniah di bulan Romadhon pada sebagian ma-nusia bukan malah mendidik jiwa dia menjadi insan bertakwa; melain-kan menjadikan ia bertambah nista dengan kembali berbuat kemak-siatan dan dosa.egitu cepat Romadhon berlalu seiring berjalannya waktu. Keper-giannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam qolbu. Ada Perasaan lega bercampur resah memenuhi hati setiap Muslim yang senantiasa mengharap ridho Alloh . Lega karena selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan resah jikalau segala amal ibadahnya hanyalah sia-sia dan tidak diterima di sisi Alloh dan tidak mendapatkan balasan.
Lantas bagaimana keadaan kita setelah Romadhon beranjak meninggalkan kita? Apakah kita termasuk orang yang beruntung atau celaka? Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk merenungi diri kita. Mudah-mudahan bersama renungan singkat ini bersamai pula hidayah Alloh menyapa diri kita. Dan semoga segores renungan ini bisa menjadi nasihat takwa bagi jiwa yang menginginkan keridhoan Alloh dan cinta-Nya.
Apa Yang Kita Peroleh di Bulan Romadhon?
Seorang muslim hendaknya selalu menghisab diri dengan teliti. Sudahkah kita mendapatkan manfaat dari puasa, sholat serta seluruh amalan di bulan Romadhon? Bertambah kuatkah iman kita setelah Romadhon? Dan benarkah kita mendapatkan ketakwaan yang meru-pakan tujuan utama puasa Romadhon? Banyak sekali pertanyaan bagi jiwa yang benar-benar tulus mengharap ridho Alloh semata.
Bukankah dia bulan taubat dan ke-sabaran? Namun kenapa peri-laku kita tak mencerminkan sikap orang yang bersabar dan bertakwa setelah keluar dari Romadhon? Dan kenapa kita masih saja tenggelam dalam dosa serta acuh memperhatikan akhirat kita?
Bukankah Alloh berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, ber-takwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Aduhai sungguh beruntunglah bagi me-reka yang keluar dari bulan Romadhon dengan taubat dan ampunan. Lautan ke-bahagiaan bagi siapa saja yang meraih mahkota takwa dalam jiwa mereka di bulan mulia. Mereka itulah yang mendapatkan manfaat di bulan Romadhon. Karena ia seolah hadir kembali di dunia ini dengan lembaran baru yang berharga dalam per-jalanan hidup sejatinya menuju Alloh .
Janganlah Mengurai Benang yang Telah Dipintal
Saudaraku… Jika kita termasuk orang yang mendapatkan manfaat dari puasa, sholat dan segala amalan kita di bulan Ro-madhon, maka selalu bersyukurlah memuji Alloh . Sekali-kali jangan pernah melirik untuk kembali lagi pada jurang kemaksiatan. Sangat di sayangkan jika mahkota takwa yang tersemat indah di jiwa kita tergantikan dengan corengan dosa dan kemaksiatan. Jagalah ikatan-ikatan iman yang telah ter-jalin kuat di dalam dada kita dengan selalu menambah ilmu dan keimanan. Betapa banyak orang ketika Romadhon memba-ngun istana ketakwaan, namun setelah ber-lalu Romadhon kembali lagi kepada tipu daya setan. Masjid yang tadinya ramai mulai sepi kembali dari sholat berjama’ah. Tempat maksiat yang semula ditutup kini kembali ramai diisi jiwa-jiwa yang awalnya mengabdi. Sungguh sebuah fenomena yang mengiris hati dan mencabik-cabik nurani.
Oleh karena itu, janganlah kita seperti yang difirmankan Alloh . “Dan jangan-lah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah di-pintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…(QS. An-Nahl [16]: 92)
Apakah Diterima Amalan Kita?
Sesungguhnya orang yang berhasil di bulan Romadhon adalah mereka yang ke-tika Romadhon mempergunakan detik-detik waktunya untuk ketaatan. Ia lalui siang hari bulan Romadhon dengan puasa dan men-jaga adab-adabnya. Dan di malam harinya ia gunakan waktunya untuk sholat dan mem-baca al-Qur’an. Mulutnya senantiasa basah dengan dzikir ke pada Alloh . Bahkan linangan air mata taubatnya senantiasa mengalir di sepertiga malam terakhir.
Bukan sekedar itu, ia senantiasa ber-usaha istiqomah menjaga amalannya di luar Romadhon. Selalu meningkatkan ke-takwaan dengan memperdalam keilmuan. Dan ia tidak ridho jika jalinan iman yang ia rajut susah payah cerai-berai dengan per-ginya bulan Romadhon. Namun demikian ia tetap takut jika amalannya tidak diterima. Begitu juga selalu khawatir jikalau amalan-nya tidak ikhlas karena Alloh .
Berkata Ali bin Abi Tholib “Jadilah engkau orang-orang yang lebih memikirkan bagaimana diterimanya suatu amalan dari pada memikirkan untuk beramal itu sendiri. Tidakkah engkau mendengar Alloh ber-firman, “Sesungguhnya Alloh hanya mene-rima suatu amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma’idah [5]: 27).”
Dahulu para salafus sholih pun senatiasa berdoa selama setengah tahun (setelah Ro-madhon) agar diterima amal ibadahnya, dan setengah tahun berikutnya berdoa agar dipertemukan dengan Romadhon berikut-nya. Semoga semua amalan kita di terima di sisi Alloh .
Jangan Menjadi Hamba Romadhon!
Membahagiakan sekali ketika di bulan Romadhon kaum Muslimin berlomba-lom-ba melakukan kebaikan. Tempat-tempat maksiat ditutup. Masjid dan mushola pun membludak dibanjiri orang yang sholat berjama’ah. Indah sekali memang nuansa imani di bulan Romadhon. Sampai para artis yang tadinya selalu buka aurat tiba-tiba tampil berjilbab dengan hadirnya bulan Romadhon (walaupun jilbab mereka masih jauh dari tuntunan Islam). Yang jelas kedatangan Romadhon benar-benar mem-bawa berkah bagi semua.
Namun ironis sekali. Begitu Romadhon berlalu tampak redup dan padam pula nuansa keimanan itu. Tempat-tempat maksiat mulai dibuka lagi besar-besaran. Masjid dan mushola mulai ditinggalkan menuju tempat hiburan. Seringkali kita dapati seorang yang rajin sekali sholat ma-lam dan membaca al-Qur’an ketika Roma-dhon. Namun sayang sekali ia tinggalkan amalannya dengan bergulirnya bulan Ro-madhon. Di bulan puasa banyak sekali orang taubat dari rokok, tabarruj dan zina. Akan tetapi ia kembali lagi berbuat dosa bahkan lebih parah dari sebelumnya yaitu berbuat syirik pada Alloh .
Wahai saudaraku tercinta… iman apa-kah seperti ini?! Islam apakah seperti ini?! Tidak lain semua ini adalah bermain-main dengan agama Alloh . Begitu juga meru-pakan kedustaan dan kenifakan terhadap agama Alloh . Bukankah Robb yang kita ibadahi di bulan Romadhon Dialah Robb yang kita sembah di luar Romadhon pula?
Kita adalah hamba Alloh, bukan hamba Romadhon. Ya, hamba Alloh yang meme-rintahkan agar kita senantiasa (tsabat) dan (istiqomah) di setiap amalan kita baik Roma-dhon ataupun di luar Romadhon…
Saudaraku tercinta…bukankah Alloh berfirman dalam kitab-Nya yang mulia. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali ka-lian mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam.”(QS. Ali Imron [3]: 102).
Semoga Alloh menjadikan kita orang bertakwa yang menjadi hamba Alloh sejati yang senantiasa beribadah kepada-Nya, baik di bulan Romadhon maupun bulan lainnya.
Sumber: Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com