KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
HUKUM MERAYAKAN TAHUN BARU ISLAM
Sudah menjadi pengetahuan umum khususnya dikalangan kaum Muslimin bahwa didalam kalender Islam ada empat bulan yang haram (suci), di antaranya adalah bulan Muharrom atau dalam kalender Jawa terkenal dengan sebutan bulan Syuro. Banyak orang bertanya kenapa bulan ini dinamakan dengan sebutan bulan haram?
Untuk menjawab pertanyaan ini al-Qodhi Abu Ya’la mengatakan: “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama: pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua: pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
Dikarenakan bulan tersebut adalah waktu yang paling baik untuk melaksanakan amalan ketaatan, maka banyak ulama terdahulu yang sangat senang untuk melakukan ibadah sunnah. Di antaranya adalah: Sufyan ats-Tsauri , ia mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Kemudian Ibnu ’Abbas ia mengatakan, bahwa Alloh mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak. Lebih dari itu suri teuladan dan panutan kita, Rosululloh bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Romadhon adalah puasa pada syahrulloh (bulan Alloh) yaitu Muharrom. Sementara sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)
Berdasarkan landasan ini dan yang semisalnya banyak kaum Mus-limin yang salah persepsi akan keutamaan bulan Muharrom. Dengan dalil amalan kebaikan, berbondong-bondong kaum Muslimin merayakan tahun baru Hijriyyah atau bulan Muharrom yang sejatinya tidak pernah dicontohkan atau dikerjakan ulama’ terdahulu, dalam menyambut tahun baru hijriyyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Ulama Ahlus Sunnah seringkali me-ngucapkan sebuah kalimat yang asalnya adalah firman Alloh dalam surat al-Ahqof ayat 11 yaitu:
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”
Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat. Mereka meng-golongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.
Sesunggunya mereka yang memeriahkan tahun baru Hijriyyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashroni. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi bersabda:
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Daud dishohikan al-albani)
Sedangkan hukum perkara bid’ah adalah terlarang dan tertolak, kita tidak diperbolehkan melakukan perkara bid’ah dalam hal agama. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu akan penambahan dan pengurangan sebagai-mana firman Alloh dalam surat al-Ma’idah ayat: 3
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhoi islam sebagai agama kalian.”
Anas bin Malik berkata:
“ Rosululloh datang dan penduduk Madinah memiliki dua hari, (yang) mereka gunakan dua hari itu untuk bermain (dengan permainan) di masa Jahiliyyah, lalu beliau berkata, “Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian guna-kan untuk bermain di masa Jahiliy-yah. Sungguh Allah telah menganti-kan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu yakni hari Nahr (Idul Adhha) dan hari Fithr (Idul Fithri)” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Hakim berkata: Hadits ini shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim.)
Kita jumpai dalam perhelatan yang mereka namakan dengan perayaan tahun baru Islam diwarnai dengan berbagai acara kemaksiatan dan dosa, mulai dari ikhtilath (bercampur baur) sampai dengan kesyirikan. Jika hal ini terus berlanjut dan berlangsung serta dipelihara maka hal ini sekali-kali tidak akan menambah kejayaan umat, sebaliknya yang ada adalah kerusakan dan kehancuran Islam. Selain merayakan tahun baru Islam, disana banyak pula amalan-amalan yang dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka menyambut tahun baru ini, diantaranya:
Landasan yang mereka pegang untuk amalan ini adalah hadits-hadits palsu kara-ngan sebagian ahli ibadah yang tidak meng-erti sama sekali tentang hadits dan ilmu hadits, bukan hadits yang disandarkan kepa-da Nabi Muhammad .
Sebagian kaum Muslimin ada yang mengkhususkan diri mereka untuk berpuasa pada akhir bulan Dzulhijjah dan awal tahun Hijriyyah, yang mungkin hal ini lebih akrab disapa dengan sebutan puasa awal dan akhir tahun. Hujjah yang mereka jadikan acuan adalah hadits:
“Barangsiapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu de-ngan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah menjadikan kaffarot/ tertutup dosanya selalma 50 tahun.”
Menurut ahli hadits seperti adz-Dzahabi, asy-Syaukani dan Ibnul Jauzi hadits ini
adalah lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah atau landasan beramal.
Sebagai ungkapan rasa syukur dan senang kaum Muslimin di berbagai belahan dunia banyak yang memeriahkan tahun baru, mereka berasumsi dengan menga-dakan acara ini mudah-mudahan Alloh akan memberikan pelbagai kenikmatan yang lebih dari tahun sebelumnya. Padahal ini adalah ungkapan rasa syukur yang salah dan keluar dari manhaj kemurnian. Prosesi seperti ini bukanlah amalan kebaikan seperti yang mereka duga, ini adalah prosesi yang berpotensi mengundang nikmat (adzab) bukan ni’mat.
Penutup
Mengadakan perayaan tahun baru Hijriyyah atau merayakan peristiwa hijrah adalah perkara yang sama sekali tidak pernah dila-kukan oleh sabiqunal awwalun (generasi pertama: sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in) yang berhijrah dan mengerti betul peristiwa ter-sebut serta perkembangannya. Mereka tidak melakukan hal yang demikian sama sekali. Karena dengan peristiwa ini menguatlah keimanan di dalam hati-hati mereka. Inilah pengaruh-nya kepada mereka. Kita berlin-dung kepada Alloh dari hal-hal yang haram dan tidak dibenarkan dalam Islam, oleh karena itu kita harus berusaha belajar ilmu agama Islam yang benar yang sesuai dengan pemahaman Salafush sholih agar kita mampu membedakan amalan-amalan yang dituntunkan dalam Islam dan yang tidak dituntunkan. Semoga kemudahan dan kekuatan diberikan oleh Alloh kepada kita, hingga kita mampu untuk menitinya. Kita juga berdoa agar dijauhkan dari hal-hal yang membuat kita binasa baik itu mak-siat, maupun perkara-perkara haram dan yang tidak dituntunkan.
Tentunya yang sesuai dengan syariat, menyambut tahun baru hijjriyyah bukanlah dengan mengadakan peringatan atau acara yang begitu meriah. Namun yang harus kita ingat adalah bagaimana para sohabat dahulu ketika mereka berhijrah meninggalkan kampung halaman, keluarga, saudara, teman, dan harta demi melaksanakan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Keimanan yang tertancap dalam dada para sohabat telah menjadikan Alloh dan Rosul-Nya diatas segala-galanya. Dengan peristiwa besar ini seyogyanya kita sebagai pengikut nabi Muhammad yang setia dalam menjaga sunnahnya harus menjadikan moment hijrah sebagai moment bertambahnya iman dan mempererat tali ukhuwwah Islamiyyah.
Susungguhnya hidup di dunia hanyalah sesaat ibarat seorang musafir yang sedang beristirahat dari letihnya perjalanan. Dan semakin bertambahnya waktu maka semakin bertambah dekat pula kematian yang setiap saat siap menjemput kita, Rosululloh bersabda:
“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.”
Hasan al-Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”
Persiapkanlah bekal takwa sebelum ke-matian itu datang menjemput, kerena se-sebaik-baik bekal adalah takwa, Alloh berfirman:
“Dan berbekallah, karna sesung-guhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqoroh [12]: 197)
Semoga bermanfaat
Sumber:
(Diambil dari Buletin As-Silmi Bogor)
Artikel:
www.inilahfikih.com