KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
QODHO’ PUASA DIKERJAKAN BERBARENGAN DENGAN PUASA SUNNAH, BOLEHKAH?
Dari hamba Allah. Assalamualaikum, pak ustad mau bertanya, puasa qodho dikerjakan sama puasa sunnah apa diperbolekan?
Jawaban: Permasalahan ini dikenal dikalangan ahli ilmu dengan tasyrik atau tadakhul yaitu menggabungkan atau saling memasukkan di antara ibadah. Ia ada banyak bentuknya, di antaranya masalah seperti ini. Yaitu menggabungkan antara yang wajib dan sunah dengan satu niat. Siapa yang niat sunah tidak diterima untuk yang wajib. Siapa yang berpuasa dengan niat puasa sunnah tidak diterima untuk mengqadha Ramadhan. Adapun siapa yang niat qadha Ramadhan dan terjadi pada hari puasa sunnah, maka qadhanya sah dan semoga mendapatkan pahala pahala puasa sunnah menurut sebagian ahli ilmu.
Imam Ar-Romli dalam kitab Nihayatul Muhtaj mengatakan, “Kalau dia puasa syawal untuk qadha atau nazar atau selain itu atau puasa asyura, maka dia mendapatkan pahala sunah. Sebagaimana yang difatwakan oleh ayah saya mengikuti pendapat Barozi, Asfuni, Nasyiri, Faqih Ali bin Sholeh Hadromi dan lainnya. Akan tetapi dia tidak mendapatkan pahala sempurna yang didapatkan sebagaimana yang diharapkan. Terutama orang yang beberapa hari tidak puasa Ramadhan dan lalu dia menggantinya di bulan Syawal.” Pendapat senada terdapat juga dalam Mugni Al-Muhtaj, (juz 2/hlm 184), Hawasyi Tuhfatul Muhtaj, (juz 3/hlm 457).
Syaikh Muhammad bin Shaleh dalam ‘Fatawa Siyam mengatakan, “Siapa yang puasa hari Arofah atau hari Asyura dan dia mempunyai kewajiban mengqadha Ramadhan, maka puasanya sah. Akan tetapi kalau dia berniat berpuasa hari ini untuk qadha Ramadhan, maka dia mendapatkan dua pahala. Pahala hari Arafah dan pahala hari Asyura beserta pahala qadha. Ini terkait dengan puasa sunah secara umum yang tidak terkait dengan Ramadan. Sementara puasa enam hari Syawal, maka ia terkait dengan Ramadhan, keutamaannya tidak terwujud kecuali setelah mengqadhanya. Kalau dia berpuasa sebelum mengqadha, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya. Berdasarkan sabda Nabi :
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر
“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari Syawal, maka dia bagaikan puasa setahun.”
Dan telah diketahui bahwa orang yang masih mempunyai qadha, maka dia belum dianggap berpuasa Ramadan sampai dia menyempurnakan qadhanya.”
Seyogyanya seseorang bersegera mengqadha yang menjadi tanggungannya. Ini lebih utama dibandingkan melakukan puasa sunnah. Akan tetapi kalau waktunya sempit, tidak memungkinkan qadha semua tanggungannya. Dan khawatir terlewatkan keutamaan puasa, seperti puasa Syawal, Asyura atau hari Arafah. Maka hendaknya dia berniat untuk qadha, semoga dia mendapatkan pahala puasa Syawal, Asyura dan Arofah juga. Sesungguhnya keutamaan Allah itu luas. Wallahu a’lam.