KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Mengira Ini Adalah Bisnis Semata
Sebagian orang menilai sebuah yayasan atau personal yang sedang mengelola yayasan atau pesantren dijadikan sebagai lahan bisnis dan memperkaya diri.
Walaupun kata “bisnis” bisa saja dimaknai bisnis akherat, namun yang saya maksud adalah bisnis dunia
Menilai pesantren dijadikan bisnis lantaran biaya masuk besar, padahal memang kebutuhan biaya pengelolaan sangat besar. Dari pengadaan fasilitas dan pengajar memang membutuhkan biaya besar.
Pesantren di Indonesia itu ribuan, tentu setiap pesantren memiliki visi, misi, sejarah pendirian dan orientasi berbeda.
Ada pesantren yang murni gratis 100%, ada yang subsidi silang dan ada yang biayanya dibebankan kepada siswa 100%.
Soal nilai menilai memang bukan hanya bicara permasalahan pesantren, mungkin ketika kita melihat tetangga membeli mobil baru, hp baru yang mahal, membeli rumah mewah, atau membeli barang-barang mewah pun kita akan ikut menilai dan mengomentari.
Namun seringkali saat kita menilai kita lupa dengan kondisi dan proses dan perjuangan orang itu, dan karena kita sebatas melihat atau mendengar lalu menilai, jadi seringkali juga penilaian kita meleset jauh bahkan salah total.
Bicara pesantren pun demikian, sebagian orang mengira ketika biaya masuk pesantren cukup mahal, seolah menejemen berfoya- foya dan menjadikan pesantren lahan berbisnis dan memperkaya diri.
Padahal faktanya lika-liku, susah payah, pahit, keringat, pikiran diperas oleh menejemen yang mengelola.
Lantaran besarnya biaya yang harus dikeluarkan, bahkan sebagai lembaga harus rela ditinggalkan anggotanya lantaran belum mampu memberikan fasilitas dan gaji yang lebih. Dan tidak sedikit dari pengurusnya rela digaji seadanya dan ia sabari, yang terpenting ia bisa berkhidmat untuk umat Islam.
Pun demikian pesantren, yang pembiayaan dengan donasi, para menejemen, ibarat kata harus menutup wajahnya demi mengajak para dermawan untuk membiayai pesantren, mengajak berdonasi beras, berdonasi kursi, bangku, lemari, biaya listrik dan lainnya.
Adapun pengurus pesantren menerima gaji atau upah dari kerja dia, sudah sangat wajar. Karena harus menafkahi anak dan istri. Dan masalah ini pun diperbolehkan dalam agama.
Dan kita dapati tidak sedikit dari para pengurus pesantren harus mencari penghasilan tambahan dengan bisnis, berdagang atau bertani agar bisa menutupi kebutuhan nafkah keluarga.
Jika mengelola pesantren, lalu tetap mengharuskan mencari bisnis tambahan, lalu dari mana disebut menjadikan pesantren sebagai lahan bisnis?
Yang sering saya dengar;
-Fulan kaya karena bisnis property
-Fulan kaya karena bisnis pakaian
-Fulan kaya karena bisnis madu
-Fulan kaya karena bisnis botol
-Fulan kaya karena bisnis perabotan
-Fulan kaya karena bisnis travel
Pernahkah dengar “Fulan kaya karena bisnis pesantren?”
Kalaupun ada, ada berapa orang dalam satu provinsi? Adakah yang disebut “sultan atau kaya raya” lantaran mengelola yayasan atau pesantren? apakah gara-gara memiliki mobil, rumah dan istri lebih dari satu sudah disebut kaya raya?
Dan jangan sampai, lantaran ada guru mengajar di pesantren atau pengurus pesantren membeli rumah atau mobil lalu disimpulkan “ini hasil bisnis pesantren” padahal faktanya ada faktor lain yang menjadikan ia memiliki semua itu.
Mengherankan juga, jika ada seseorang yang belum pernah menjadi pengurus pesantren atau yayasan, atau ia hanya sebagai tenaga pengajar beberapa tahun di sebuah pesantren, ia belum pernah merintis atau berjuang mendirikan pesantren yang gratis maupun berbayar dari nol, sudah seperti peneliti saja, mengomentari dan menilai pesantren ini dan pesantren itu. Padahal tidak mengetahui lika-liku perjuangan dalam mengemban amanah itu dari nol hingga saat ini.
Wallahu A’lam
-Abul Fata Murod-