Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

1. 20 rakaat (tidak termasuk witir). Ini pendapat dalam madzhab Syafii, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Ahmad, Dawud adz-Dzohiri serta Malik dalam salah satu pendapatnya

2. 36 rakaat (tidak termasuk witir). Ini pendapat Imam Malik. Dan penduduk Madinah melakukannya.

3. Al Aswad bin Yazid seorang tabiin, murid Abdullah bin Mas’ud melakukan tarawih 40 rakaat disertai 7 rakaat witir.

Lalu yang tarawih 8 rakaat dari mana datangnya?

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah dalam kitabnya Subulus Salam Syarah Bulughul Maram ketika mengomentari hadits;

مَنْ قام رمضان إيماناً واحْتسَاباً غُفِرَ لَهُ ما تَقَدّمَ مِن ذَنْبِه. مُتّفقٌ عَلَيهِ

“Barangsiapa qiyamullail di bulan ramadhan dengan iman dan mengharap pahala niscaya Allah ampuni dosanya yang telah lalu. ” (HR. Al-Bukhari),
Mengatakan;

والحديث دليل على فضيلة قيام رمضان، والذي يظهر أنه يحصل بصلاة الوتر إحدى عشرة ركعة، كما كان صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يفعل في رمضان وغيره كما سلف في حديث عائشة. وأما التراويح على ما اعتيد الآن فلم تقع في عصره صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم إنما كان ابتدعها عمر في خلافته وأمر أُبياً أن يجمع بالناس واختلف في القدر الذي كان يصلي به أبيّ فقيل كان يصلي بهم إحدى عشر ركعة وروي إحدى وعشرون وروي عشرون ركعة وقيل ثلاث وعشرون وقيل غير ذلك وقد قدمنا تحقيق ذلك

“Hadits ini menjadi dalil tentang keutamaan shalat tarawih pada bulan ramadhan, (dzahirnya) keutamaan ini bisa diraih dengan shalat tarawih beserta witirnya sebanyak 11 rakaat sebagaimana dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam pada bulan ramadhan dan bulan lainnya seperti dijelaskan pada HADITS AISYAH yang lalu. Adapun shalat tarawih yang dilakukan secara rutin (setiap malam dengan berjamaah di masjid) seperti saat ini tidak pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam (karena di zaman Nabi hanya terjadi beberapa hari saja). Akan tetapi hal itu terdapat pada zaman Umar radhiyallahu anhu di masa pemerintahannya, beliau memerintahkan sahabat Ubay untuk melaksanakannya bersama para jamaah. Dan terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Ubay radhiyallahu anhu. Ada yang mengatakan sebelas rakaat, sebagian riwayat mengatakan dua puluh satu rakaat, sebagian riwayat mengatakan dua puluh rakaat, sebagian riwayat lagi mengatakan dua puluh tiga rakaat  dan sebagian riwayat lain berpendapat dengan jumlah selain itu, dan pada pembahasan yang lalu sudah kami sebutkan kepastiannya. ” [Kitab Subulus Salam]

Hadits Aisyah yang dimaksud adalah;

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Beliau shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menambahi lebih dari 11 rakaat, baik di dalam ramadhan maupun di luar ramadhan. (HR. Al-Bukhari)

Jadi, Nabi shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat atau Nabi biasanya shalat malam beserta witirnya hanya 11 rakaat. Di malam bulan ramadhan kita sebut 8 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir.

Secara umum, jumlah rakaat bukanlah acuan dan inti dari perkara ini, namun kualitas yang menjadi acuan. Wallahu A’lam

@inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *