SUNNAH FITROH & WUDHU

SUNNAH FITROH

Sunnah fitroh adalah amalan yang menjadi tabiat dasar manusia yang bertujuan untuk memperindah penampilan, membersihkan badan, menjaga kesucian dan melaksanakan perintah syariat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ

“Bersuci adalah sebagian dari iman. “ (HR. Muslim)

Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 “Alloh menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah: 222)

Macam-macam sunnah fitroh, yaitu:

1. Mencukur kumis. Yaitu dengan mencukurnya sependek dan serapih mungkin. Dengan melakukan hal ini, akan terlihat indah, rapih, dan bersih.

Adapun batas waktu yang disyari’atkan dalam memotong kumis maksimal selama empat puluh hari. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وُقِّتَ لَنَا فِيْ قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمِ الْأَظْفَارِ، وَحَلْقِ الْعَانَةِ، وَنَتْفِ الْإِبْطِ، أَلَّا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

“Kami diberi batasan waktu dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak, tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari. “(HR. Muslim)

2. Memelihara jenggot.

Memelihara dan memanjangkan jenggot merupakan sunnah fitroh yang diajarkan Rosululloh n.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

جُزُّوْا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوْا اللِّحَى، خَالِفُوْا الْـمَجُوْسَ

“Cukurlah (guntinglah/rapikanlah) kumis dan peliharalah jenggot. Bedakanlah diri kalian dengan orang-orang Majusi. “ (HR. Muslim)

3. Berkhitan.

Khitan disyari’atkan dalam Islam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَـمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : اَلْخِتَانُ ، وَالْاِسْتِحْدَادُ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ

Ada lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, meng-gunting kuku, dan mencabut bulu ketiak. “ (HR. Al-Bukhori)

4. Bersiwak.

Yaitu menggosok atau membersihkan gigi dengan kayu siwak, sikat gigi atau sejenisnya untuk menghilangkan kotoran di gigi dan juga untuk membersihkan mulut.

Bersiwak dapat membersihkan mulut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلسِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak dapat membersihkan mulut dan sangat diridhai oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori)

5. Berkumur dan Istinsyaq.

Berkumur yaitu memasukkan air ke dalam mulut lalu menggerakkannya di dalam mulut. Istinsyaq adalah menghirup air ke dalam hidung lalu menyemburkannya ke luar. Tujuannya adalah untuk menghilangkan bakteri serta membuat segar mulut dan hidung.

6. Memotong kuku.

Yaitu dengan memotongnya, tidak membiarkannya memanjang. Tujuannya agar terlihat indah dan bersih dan untuk menjauhi kemiripan dengan binatang buas yang memiliki kuku yang panjang.

7. Membasuh ruas-ruas persendian dan jari-jari kaki dan tangan.

Yaitu membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada daun telinga, leher, sela-sela kaki dan tangan serta sela-sela pada anggota tubuh lainnya.

8. Mencabut bulu ketiak.

Baik dilakukan dengan cara dicabut, digunting, dan lain-lain. Tujuannya agar tubuh menjadi bersih dan menghilangkan bau yang tidak sedap.

9. Mencukur bulu kemaluan.

10. Istinja.

Yaitu membersihkan kotoran atau najis buang air besar atau kecil.

Rosululloh bersabda,

عَشْرٌ مِنَ الفِطْرَةِ : قَصُّ الشَّارِبِ، وَإعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ الْأظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ  قَالَ الرَّاوِيْ : وَنَسِيْتُ الْعَاشِرَةَ ،إِلاَّ أنْ تَكُوْنَ الْمَضْمَضَةُ

“Ada sepuluh macam fitroh, yaitu mencukur kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Zakaria berkata bahwa Mus’ab berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.”  (HR. Muslim)

WUDHU

Wudhu adalah suatu ibadah yang dilakukan dengan menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota badan tertentu dengan tatacara tertentu yang disyariatkan oleh Alloh.

Wudhu merupakan salah satu syarat sahnya ibadah sholat dan thowaf seseorang.

Tentang perintah wudhu, Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan usaplah kepala kalian dan basuh kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

Wudhu memiliki banyak keutamaan, di antaranya: menghapus dosa-dosa kecil, anggota wudhu akan bercahaya pada hari kiamat, tanda orang beriman, salah satu sebab masuk surga, diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan pengangkat derajat di sisi Alloh.

Tata cara wudhu yang diajarkan Rosululloh adalah sebagai berikut:

1. Berniat wudhu dalam hati untuk menghilangkan hadas.

2. Mengucapkan bismillah sebelum memulai wudhu.

3. Membasuh dua telapak tangan sambil menyela-nyela jari-jemari sebanyak 3 kali.

4. Mengambil air dengan tangan kanan kemudian memasukkannya ke dalam mulut untuk berkumur-kumur dan sekaligus memasukkan air ke dalam hidung. Kemudian mengeluarkannya dengan tangan kiri sebanyak 3 kali.

5. Membasuh seluruh wajah sebanyak 3 kali.

6. Membasuh tangan kanan hingga siku sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan yang kiri.

7. Mengusap seluruh kepala dari depan ditarik ke belakang, lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan mengusap bagian luar dan dalam telinga sebanyak 1 kali.

8. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki bersamaan dengan menyela-nyela jari-jemari kaki sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.

9. Tertib dan bersambung antara gerakan satu dengan gerakan lainnya.

10. Berdoa setelah wudhu.

Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari Humroon budak sahabat Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu;

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِى الْوَضُوءِ ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ، ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا وَقَالَ « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Humroon -bekas budak Utsman bin Affan–, suatu ketika ‘Utsman memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadah), kemudian ia tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangannya. Maka ia membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan beristintsar. Lalu beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, (kemudian) membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu kepalanya (sekali saja) kemudian membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Barangsiapa yang berwudhu dengan wudhu semisal ini kemudian sholat 2 roka’at (dengan khusyuk) dan ia tidak berbicara di antara wudhu dan sholatnya maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori)

Hal-hal yang bisa membatalkan wudhu, yaitu:

1. Keluar kotoran buang air besar atau buang air kecil serta keluar angin.

Dalil bahwa kencing dan buang air besar merupakan pembatal wudhu dapat dilihat pada firman Allah Ta’ala,

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

“Atau kembali dari tempat buang air (kakus).” (QS. Al-Miadah: 6)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

“Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

“Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” (HR. Al-Bukhori)

2. Hilang akal, baik karena gila, pingsan, mabuk ataupun karena pengaruh obat.

3. Tidur nyenyak.

Sedangkan tidur yang hanya sesaat yang dalam keadaan kantuk, masih sadar dan masih merasakan merasakan apa-apa, maka tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat yang bisa menggabungkan dalil-dalil yang ada. Di antara dalil hal ini adalah hadits dari Anas bin Malik,

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ

“Ketika shalat hendak ditegakkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang dan shalat bersama mereka.” (HR. Muslim) )

4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang.

Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm;

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu.” (HR. Ibnu Mjajah)

Selain wudhu untuk sholat, ada beberapa ibadah lainnya yang disunnahkan untuk berwudhu, di antaranya:

1. Ketika hendak membaca al-Qur’an atau berdzikir

Berdasarkan hadits al-Muhajir bin Qunfudz. Dia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berwudhu. Beliau tidak menjawab salamnya hingga menuntaskan wudhunya. Beliau lalu menjawabnya dan berkata:

إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawabmu. Hanya saja aku tidak suka menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ibnu Majah)

2. Hendak tidur.

Dasarnya adalah apa yang diriwayatkan al-Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu. Dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat. Kemudian tidurlah di atas sisi kananmu, lalu ucapkan:

اَللّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اَللّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, kuserahkan jiwaku pada-Mu, dan kuhadapkan wajahku pada-Mu. Kupasrahkan urusanku pada-Mu, dan ku-sandarkan punggungku pada-Mu, dengan harap dan cemas kapada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan berlindung dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan. Dan Nabi-Mu yang Engkau utus.” Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal dalam keadaan fithrah. Jadikanlah ia akhir pembicaraanmu.” (HR. Al-Bukhori)

3. Sebelum mandi wajib dan setiap kali berhadas.

عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت:كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا اغتسل من الجَنابة يبدأ فيَغسِلُ يديه، ثمَّ يُفرِغُ بيمينِه على شِمالِه فيَغسِلُ فرْجَه، ثمَّ يتوضَّأُ وضوءَه للصَّلاة

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian beliau kucurkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya, lantas membasuh kemaluannya, lalu berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat.” (HR. Muslim)


Ketika berwudhu disunnahkan untuk hemat dalam menggunakan air meskipun seseorang sedang berwudhu di sungai atau di laut dan di tempat sumber air yang melimpah. Hendaknya seseorang menjauhi was-was dalam berwudhu seperti perasaan ada sesuatu yang keluar dari kemaluan atau dubur yang menyebabkan ia ragu.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *