MERAIH KESEMPURNAAN SHIYAM

MERAIH KESEMPURNAAN SHIYAM

Inilah dia bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan, datang setelah sekian lama absen, hati-hati orang yang beriman telah sangat merindukannya, kini datang kembali memenuhi alam dengan ketaatan dan kekhusyu’an.

“Jika datang bulan Romadhon maka dibukalah pintu-pintu Surga, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibe-lenggu.” (HR. al-Bukhori dan Muslim), karena ia datang dengan pelajaran tertinggi bagi hati.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqoroh [2]:183)

Bulan mulia ini datang dengan ibadah puasa yang telah Alloh  perintahkan. Maka apakah itu puasa? Dan apa hakikatnya?! Dan apakah ia meninggalkan makanan dan minuman dan jima’ di siang Romadhon lalu seseorang mengerjakan setelah itu apa yang ia inginkan?! Seandainya ia seperti demikian, niscaya mudah baginya. Dan kenapa ibadah puasa dinisbatkan kepada Alloh  tidak seperti ibadah-ibadah yang lain.

Wahai saudaraku seiman. Rosululloh  bersabda: “Sesungguh-nya puasa bukan sekedar menahan makan dan minum, akan tetapi menahan perkataan sia-sia dan perbuatan keji.” (HR. al-Hakim,  dishohihkan al-Albani)

Rosululloh  juga bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya melainkan lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan dishohihkan al-Albani)

Oleh karena itu, generasi Salaf berkata, “Puasa paling mudah dan gampang adalah meninggalkan makan dan minum.”

Apa faidah puasa bila tak mencegah perbuatan keji dan mungkar? Apa faidah puasa bila orang yang berpuasa berkata sia-sia dan berbuat keji? Apa faidah puasa perut bila lisan merusak kehormatan pihak lain?! Tidak, demi Alloh  sesungguhnya berpuasa lebih tinggi tingkatannya dari sekedar berpuasa perut!

Sesungguhnya hakikat puasa adalah menahan lisan, mata, telinga dan hati. Ba-gaimanakah hakikat tata cara berpuasa ?!

Pertama: Shiyam al-bathn wa al-farj (puasa perut dan kemaluan), terdiri dari beberapa hal sebagai berikut:

  1. Berpuasa dari hal-hal yang diharam-kan. Rosululoh telah bersabda, “Se-sungguhnya tidaklah daging yang tumbuh dari harta yang haram melainkan neraka layak baginya.” ( at-Tirmidzi). Maka apalah artinya seseorang berpuasa dari hal yang halal dan berbuka dari yang haram?
  2. Berpuasa dari perkara syubhat. Rosu-lulloh bersabda, “Barangsiapa yang menjaga dari perkara syubhat, sungguh telah berlepas diri dari agama dan kehor-matannya. Barangsiapa yang terjatuh ke-dalam perkara syubhat, sungguh ia telah terjatuh dalam perkara haram.” ( al-Bukhori dan Muslim)
  3. Berpuasa dari sikap berlebih-lebihan dan menghamburkan harta. (lihat al-Isro’ [17]: 26-27, dan QS. al-A’rof [7]: 31)

Kedua: Shiyam al-lisan (puasa lisan), terdiri dari hal-hal sebagai berikut:

  1. Berpuasa dari perkataan dusta. Rosu-lulloh bersabda: “Hati-hatilah kalian dari berkata dusta, sesungguhnya perka-taan dusta mengantarkan perbuatan keji, sedangkan perbuatan keji mengantarkan pelakunya ke api neraka.” ( al-Bukhori dan Muslim)

“Perkataan dusta merupakan tanda dari orang-orang munafik. Sesungguhnya orang munafik bila berkata, niscaya ia berdusta meskipun ia melaksanakan sho-lat, berpuasa dan menyangka bahwa diri-nya adalah seorang Muslim.” (HR. Muslim)

  1. Berpuasa dari mencaci-maki sesama Muslim. Rosululloh bersabda, “Bila pa-da hari puasa salah satu di antara kalian, maka janganlah berkata-kata keji dan ja-hat. Bila ada seseorang yang mencaci-makinya atau memeranginya, maka hen-daklah ia berkata, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa.” ( al-Bukhori dan Muslim)
  2. Berpuasa dari melaknat orang lain. Rosululloh bersabda, “Seorang Mukmin bukanlah pelaknat.” ( at-Tirmidzi)
  3. Berpuasa dari mengadu domba antara sesama Mukmin. Rosululloh bersab-da, “Tidak akan masuk Surga pengadu domba.” ( al-Bukhori dan Muslim)
  4. Berpuasa dari menggunjing. Alloh berfirman, “Dan janganlah sebagian ka-lian menggunjing sebagian yang lain. Su-kakah salah seorang di antara kalian me-makan daging saudaranya yang sudah mati?...” ( al-Hujurot [49]:12)
  5. Berpuasa dari bersaksi palsu. Rosulu-lloh bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Alloh  tidak butuh pada makan dan minum yang ia tinggalkan (puasanya).” ( al-Bukhori)
  6. Berpuasa dari berkata-kata keji dan berteriak. Rosululloh bersabda, “Bila pada hari puasa salah satu diantara ka-lian, maka janganlah berkata keji dan berteriak….” ( al-Bukhori dan Muslim)

Ketiga: Shiyam al-‘ain (puasa mata).

  1. Yaitu berpuasa mata dari melihat hal-hal haram yang dapat membangkitkan syahwat. Alloh berfirman dalam hadits qudsi, “Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Barangsiapa me-ninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya Aku menggantikannya dengan manisnya iman dalam lubuk hatinya.” ( ath-Thobroni)

Rosululloh  bersabda, “Sesung-guhnya zina kedua mata dengan melihat.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

  1. Berpuasa dari memata-matai atau mengintip. Rosululloh bersabda, “Ba-rangsiapa yang melihat rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka sungguh halal bagi mereka (yang diintip rumahnya) untuk mencungkil matanya.” ( al-Bukhori dan Muslim)

Keempat: Shiyam al-udzun (berpuasa telinga).

  1. Berpuasa dari mencuri dengar atau menyadap. Rosululloh bersabda, “Ba-rangsiapa yang mendengarkan pembica-raan suatu kaum, padahal mereka mem-bencinya, niscaya akan dituangkan timah panas di kedua telinganya pada hari Kiamat.” ( al-Bukhori)
  2. Berpuasa dari mendengar ghibah (gunjingan). Rosululloh bersabda, “Ba-rangsiapa yang membela kehormatan saudaranya, niscaya Alloh  menjauhkan wajahnya dari api neraka pada hari Kiamat.” ( at-Tirmidzi)

Kelima: Shiyam al-qolb (puasa hati).

  1. Berpuasa hati dari kata-kata kotor. Rosululloh bersabda, “Malu bagian dari iman dan iman tempatnya di Surga. Kata-kata keji dan kotor bagian dari sikap kasar dan sikap kasar tempatnya di Neraka.” ( at-Tirmidzi)
  2. Berpuasa hati dari bersikap keras dan marah. Rosululloh bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang pandai ber-gulat, akan tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” ( al-Bukhori dan Muslim). Beliau juga bersabda: “Janganlah engkau marah! dan bagimu surga.” (HR. ath-Thobroni)
  3. Berpuasa hati dari saling membenci dan mengisolasi. Rosululloh bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim meng-isolasi saudaranya melebihi tiga hari sam-pai bertatap muka keduanya tidak meng-hiraukan. Maka diantara keduanya yang terbaik adalah yang terlebih dahulu meng-ucapkan salam.” ( al-Bukhori dan Muslim)
  4. Berpuasa hati dari saling memutuskan silaturahmi. Rosululloh bersabda, “Ba-rangsiapa yang beriman kepada Alloh  dan hari akhir, maka silaturahmi.” ( Bukhori dan Muslim)
  5. Berpuasa hati dari tidak memperha-tikan kebutuhan orang lain. Rosululloh bersabda,“Barangsiapa yang meringankan kesusahan seorang Muslim di dunia, sung-guh Alloh kelak akan meringankan kesusah-annya pada hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan kesulitan seseorang di dunia, niscaya Alloh memudahkan baginya di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim di du-nia, niscaya Alloh kelak menutupinya baik di dunia maupun akhirat. Sesungguhnya Alloh senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudara-nya.” ( Muslim)
  6. Berpuasa hati dari sifat bakhil dan kikir. (lihat al-Hasyr [59]: 9)

Rosululloh  bersabda, “Waspadalah kalian terhadap kekikiran, sesungguhnya kekikiran membinasakan orang-orang se-belum kalian hingga menumpahkan darah mereka dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan kepada mereka.” (HR. Muslim)

  1. Berpuasa hati dari hasad (dengki). Rosululloh bersabda, “Tidak akan ber-kumpul di hati seorang hamba antara iman dan hasad.” ( Ibnu Hibban)
  2. Berpuasa hati dari berburuk sangka. (lihat al-Hujurot [49]: 12)

Rosululloh  bersabda, “Waspadalah kalian dari sikap berburuk sangka, sesung-guhnya buruk sangka adalah perkataan paling dusta.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

  1. Berpuasa hati dari sifat sombong. Rosululloh bersabda, “Tidak akan ma-suk Surga seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong sebesar biji sawi.” ( Muslim)
  2. Berpuasa hati dari mencaci memaki dan mengolok-olok kaum Muslimin. (lihat al-Hujurot [49]: 11)
  3. Berpuasa hati dari berbuat khianat. Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meng-khianati Alloh dan Rosul (Muhammad) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan ke-pada kalian, sedang kalian Mengetahui.” ( al-Anfal [8]: 27)

Rosululloh  bersabda, “Tidak ber-iman bagi orang yang tidak bersikap ama-nah.” (HR. Ahmad)

  1. Berpuasa hati dari berloyalitas kepada orang kafir dan pelaku bid’ah.

Alloh  berfirman, “Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh).” (QS. al-Ma’idah [5]: 55)

Rosululloh  bersabda, “Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

  1. Berpuasa hati dari sikap taklid (meng-ekor). Rosululloh bersabda, “Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan! Kalian berkata, “Jika manusia baik maka kami baik dan jika manusia berbuat dzo-lim kami berbuat dzolim. Akan tetapi ber-sikap teguhlah kalian. Bila manusia baik, maka baiklah kalian dan bila mereka bu-ruk, maka janganlah kalian berbuat dzo-lim!” ( at-Tirmidzi)

Wahai orang yang berpuasa..! Se-sungguhnya berpuasa adalah sarana pen-didikan, bukan penyiksaan dan suatu kebajikan bukan keburukan. Sesungguh-nya ia adalah model sistem pendidikan untuk mentarbiyah jiwa, mengokohkan ketaatan dan sarana menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Inilah hakikat puasa sebenarnya. Siapakah di antara kita berpuasa seperti ini?! Dan siapakah di antara kita yang menjaga adab-adab ber-puasa seperti ini?! Hanya orang-orang yang dirahmati Alloh  yang menjaga adab seperti ini, semoga kita termasuk di dalamnya.

Amiin.

Sumber:

(Disalin dari Buletin As-silmi Bogor)

Artikel:

www.inilahfikih.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *