KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Bacaan Basmalah Seorang Imam, Jahr (Keras) Atau Sir (Lirih)?
Dalam masalah ini ada dua pendapat ulama:
Pertama: Membacanya secara Jahr (Dikeraskan). Ini adalah pendapat madzhab Syafii. Dalilnya adalah;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يَجْهَرُ بِـ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya men-jahr-kan bismillahir rahmanir rahim”. (HR. Al Hakim).
عَنْ بَكْرٍ، أَنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يَجْهَرُ بِ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}
Dari Bakr (Al Mazini), bahwa Ibnu Az Zubair biasanya men-jahr-kan bismillahir rahmanir rahim (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 4156, sanadnya shahih)
أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: ” صَلَّى مُعَاوِيَةُ بِالْمَدِينَةِ صَلَاةً فَجَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَرَأَ فِيهَا {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}
Anas bin Malik berkata: “Mu’awiyah shalat di Madinah, dan ia men-jahr-kan bacaannya dan ia membaca bismillahir rahmanir rahim” (HR. Al Baihaqi dalam Ash Shaghir 392, sanadnya hasan)
Kedua: Membacanya dengan sir (lirih). Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Ahmad, Imam Muslim, Az-Zaila’i, Ibnul Qayyim dan lainnya. Dalilnya adalah;
وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ اَلصَّلَاةِ بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ )
Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu Bakar dan Umar memulai sholat dengan (membaca) alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ : (لَا يَجْهَرُونَ بِبِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيم ِ)
Dalam suatu riwayat Ahmad Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim dengan suara keras.
Dalam riwayat Muslim:
صلَّيْتُ مع رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكرٍ ، وعمرَ ، وعثمانَ ، فلم أَسْمَعْ أحدًا منهم يقرأُ بسمِ اللهِ الرحمنِ الرحيمِ
“aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman dan aku tidak mendengar mereka membaca bismillahir rahmanir rahim” (HR. Muslim)
Dalam masalah yang diperdebatkan ini, ada ucapan yang baik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau berkata, “Meskipun demikian, yang benar adalah bahwa bacaan yang sunah tidak dikeraskan, kadang disyariatkan untuk dikeraskan jika kuat dugaan hal itu mendatangkan kebaikan. Maka hal ini (mengeraskan bacaan basmalah) disyariatkan bagi imam –kadang-kadang- misalnya untuk mengajarkan mereka, juga untuk memberitahu jamaah shalat bahwa dibolehkan mengeraskan beberapa kalimat kadang-kadang, juga untuk menunjukkan bahwa kadang-kadang perkara yang lebih utama dapat ditinggalkan untuk mendekati hati dan mewujudkan persatuan dan agar orang tidak menghindari dari sesuatu yang baik. ”
Wallahu A’lam