Kepercayaan Munkar

 Segala keyakinan atau kepercayaan yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan wahyu Alloh yang wajib diimani.  Setiap kepercayaan batil yang tidak ada sumbernya dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta di luar logika standar manusia, semua itu adalah ‘khurofat’ atau mitos.

Khurofat atau mitos bisa berupa ajaran-ajaran leluhur, adat istiadat, dongeng, pantangan dan larangan, pemujaan, kekuatan ghoib benda pusaka, roh benda mati, ramalan-ramalan dan segala keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Kepercayaan-kepercayaan itu semua mengandung unsur kesyirikan. Oleh karena itu, dilarang bagi umat Islam meyakininya. Di antara kepercayaan-kepercayaan mungkar adalah sebagai berikut;

Pertama, angka 13 sebagai angka sial. Ini merupakan takhayul. Banyak sekali maskapai penerbangan, hotel, rumah sakit atau gedung-gedung bertingkat tidak ada tempat duduk atau lantai ke-13. Padahal kepercayaan angka 13 adalah angka sial merupakan kepercayaan sekte Yahudi bernama Kabbalah.

Kedua, malam Jumat kliwon diyakini sebagian masyarakat sebagai malam yang angker dan bernuansa mistis. Hari Selasa Kliwon juga dianggap keramat oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Selain malam dan hari, banyak orang yang meyakini terdapat keyakinan terhadap bulan mistis dan sial seperti keyakinan tentang bulan Suro.

Ketiga, melihat bintang yang jatuh diyakini dikabulkannya permintaan. Keyakinan ini bertentangan dengan akidah Islam, karena antara bintang jatuh dengan terkabulnya permintaan atau doa tidak ada hubungannya sama sekali.

Keempat, keyakinan raksasa bernama “Batara Kala” yang menelan bulan atau matahari sehingga menyebabkan terjadinya gerhana. Saat itu anak kecil diminta berlindung di kolong tempat tidur. Kaum perempuan, khususnya yang sedang hamil diharuskan mengolesi perutnya dengan abu sisa pembakaran kayu. Untuk mengusir Batara Kala, warga kemudian membuat bunyi-bunyian suara gaduh dari kentongan atau lesung (alat penumbuk padi). Konon akibat suara gaduh itu Batara Kala tak jadi menelan bulan atau matahari sehingga bulan akan bersinar kembali dengan utuh

Kelima, hewan yang dianggap membawa keberuntungan adalah kebo bule di keraton solo dan diberi nama kyai slamet. Sebagian masyarakat Jawa percaya hewan tersebut membawa berkah dan keselamatan dari Sang Kuasa. Bahkan ada yang percaya kotoran sang kebo juga memiliki khasiat. Demikian juga ayam cemani yang diyakini membawa kedamaian, menambah rezeki, memudahkan jodoh, melariskan dagangan, hingga mampu membawa kesuksesan negosiasi, baik saat perang ataupun konflik.

Keenam, pada adat pernikahan misalnya didapati adanya ritual menginjak telur, membuat aneka sesajen yang ditaruh di setiap desa, pinggiran sumur bahkan di atas rumah ketika pernikahan. Semua itu dilakukan dengan keyakinan agar pernikahan yang dilakukan bisa menjadi berkah dan membawa kebaikan.

Ketujuh, pada adat kebiasaan ketika bayi lahir, yaitu: adanya ritual penguburan ari-ari, ritual memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, ritual ketika bayi terlepas dari tali pusatnya, ritual ketika bayi pertama kali dibawa ke halaman rumah, ritual ketika bayi berumur 7 bulan dengan memasak aneka nasi, membuat tangga terbuat dari tebu dan kurungan ayam dari bambu. Semua adat tersebut diyakini akan mendatangkan keberkahan serta kemujuran bagi si bayi.

Saudaraku…marilah kita jauhi segala kepercayaan-kepercayaan mungkar. Semoga kita menjadi orang yang memasuki surga-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *