KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
BONEKA MAINAN DAN BONEKA KESYIRIKAN
Pertama: Mengoleksi boneka tidak diperbolehkan secara hukum asal, hanya saja bagi anak-anak kecil ada keringanan alias diperbolehkan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَكَانَ لِيْ صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي
“Saya dahulu bermain dengan boneka di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, saya mempunyai beberapa teman yang sering bermain dengan saya. (HR. Bukhori dan Muslim)
Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari berkata: “Hadits di atas menjadi dalil akan bolehnya menggambar bagi anak-anak perempuan dan boneka untuk sarana bermain mereka, hal tersebut dikhususkan dari umumnya larangan menggambar, demikian pendapat Imam Al-Qadhi Iyadh rahimahullah yang dinukil dari pendapat mayoritas ulama, mereka membolehkan menjual boneka untuk anak-anak perempuan sebagai sarana pendidikan bagi mereka sejak masa kecil tentang urusan rumah tangga dan anak-anak mereka. Imam Ibnu Hibban rahimahullah menjelaskan bahwa hal tersebut boleh bagi wanita yang masih anak-anak untuk bermain dengan boneka. Di dalam riwayat Jarir dari Hisyam: “Saya dahulu bermain dengan boneka”. (HR. Abu Uwanah dan yang lainnya).
Kedua: Adapun boneka yang dikoleksi dianggap mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudharat atau bahaya pada dirinya sudah pasti hukumnya terlarang, baik untuk anak kecil maupun orang dewasa. Apakah kita lupa bahwa kesyirikan pertama kali menimpa ummat ini disebabkan patung-patung?
Allah berfirman:
قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21–23).
Siapakah berhala-berhala ini?
Ibnu Abbas menjelaskan,
أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
“Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).
Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita dari segala bentuk kesyirikan
https://www.facebook.com/689356427909467/posts/2018003015044795/