KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…

BERIMAN ADANYA ADZAB KUBUR
Setiap muslim yang bermanhaj ahlussunnah wal jamaah wajib meyakini adanya adzab kubur. Adzab kubur diberikan bagi mereka yang berhak mendapatkannya sebab dosa-dosa yang ia lakukan di dunia. Penetapan adanya adzab kubur berdasarkan Al-Quran, Al-Hadits dan kesepakatan kaum muslimin dari ahlussunnah wal jamaah. Siapa saja yang mengingkari adanya adzab kubur berarti telah menyelisihi manhaj yang benar yaitu ahlus sunnah wal jamaah dan ahlussunnah tidak menganggap dan tidak melirik pendapat orang yang menolak adanya adzab kubur.
Ayat dan hadis sahih sangat banyak yang menjelaskan adanya adzab kubur, cukup dari beberapa ayat dan hadis yang kami akan sampaikan dalam tulisan ini.
Jika seseorang itu benar-benar beriman pada nash maka seharusnya dengan satu ayat atau satu hadis pun ia akan mempercayainya. Sungguh aneh mereka yang menolak adanya adzab kubur sedangkan dalil-dalilnya sangat terang benerang laksana sinar matahari.
Allah Ta’ala berfirman:
فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ. النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras. Laki-laki mukmin dari kalangan keluarga Fir’aun berkata kepada mereka (kaumnya), “Mengapa aku seru kalian ke jalan keselamatan,” yaitu menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan membenarkan rasul-Nya yang telah diutus-Nya”. (Ghafir:45-46)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (Ghofir: 46)
Yakni paling keras sakitnya dan paling besar azabnya.
Ayat ini merupakan dalil pokok di kalangan madzhab ahlu sunnah wal jamaah yang menyatakan adanya adzab di alam barzakh (alam kubur), yaitu firman Allah Ta’ala:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. ” (Ghofir: 46)
Akan tetapi, timbul suatu pengertian bahwa tidak diragukan lagi ayat ini adalah ayat Makkiyyah, dan mereka telah menjadikannya sebagai dalil yang menunjukkan adanya azab kubur di alam barzakh. ”
Allah Ta’ala juga berfirman:
فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ. يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ. وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُون
“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikit pun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Ath-Thur: 45-47)
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-hanafi rahimahullah berkata dalam kitabnya Syarah Al-Akidah At-Thahawiyah tentang ayat ini: “Bisa maksudnya adalah adzab dunia atas mereka dengan pembunuhan dan lainnya, dan bisa juga maksudnya adalah adzab mereka di alam barzakh, dan ini (tafsiran) yang lebih unggul, karena banyak orang dari mereka mati tanpa di adzab di dunia. ”
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah berkata tentang ayat ini: “Barangsiapa yang mati dari mereka maka diadzab di alam barzakh, dan barang siapa yang hidup, dia diadzab dengan dibunuh dan lainnya. Jadi, ayat ini merupakan ancaman terhadap mereka atas adzab dunia dan alam barzakh. (Lihat kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad Wa Arrad ‘Ala Ahlisy Syirki Wal Ilhad)
وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيُّ مِنْ حَدِيثِ شُعْبَةَ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ يَهُودِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَقَالَتْ: أَعَاذَكِ اللَّهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ؟ فَقَالَ: “نَعَمْ عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ”. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعدُ صَلَّى صَلَاةً إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Syu’bah, dari Asy’as, dari Ibnu Abusy Sya’sa, dari ayahnya, dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa pernah ada seorang wanita Yahudi masuk menemuinya, lalu wanita Yahudi itu mengatakan, “Kami berlindung kepada Allah dari adzab kubur.” Maka Aisyah radhiyallahu anha menanyakan adzab kubur itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau menjawab: Adzab kubur itu adalah haq (benar adanya). Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa tidak sekali-kali ia melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesudah peristiwa itu bila telah selesai dari salatnya, melainkan memohon perlindungan dari adzab kubur. (HR. Al-Bukhari)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هَاشِمٌ -هُوَ ابْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ-حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدٍ -هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ-حَدَّثَنَا سَعِيدٌ -يَعْنِي أَبَاهُ-عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَخْدُمُهَا فَلَا تَصْنَعُ عَائِشَةُ إِلَيْهَا شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ إِلَّا قَالَتْ لَهَا الْيَهُودِيَّةُ: وَقَاكِ اللَّهُ عَذَابَ الْقَبْرِ. قَالَتْ: فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لِلْقَبْرِ عَذَابٌ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: “لَا وَعَمَّ ذَلِكَ؟ ” قَالَتْ: هَذِهِ الْيَهُودِيَّةُ، لَا نَصْنَعُ إِلَيْهَا شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ إِلَّا قَالَتْ: وَقَاكِ اللَّهُ عَذَابَ الْقَبْرِ. قَالَ: “كَذَبَتْ يَهُودُ. وَهُمْ عَلَى اللَّهِ أَكْذَبُ، لَا عَذَابَ دُونَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ”. ثُمَّ مَكَثَ بَعْدَ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ، فَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ نِصْفَ النَّهَارِ مُشْتَمِلًا بِثَوْبِهِ، مُحْمَرَّةً عَيْنَاهُ، وَهُوَ يُنَادِي بِأَعْلَى صَوْتِهِ: الْقَبْرُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المظلم أَيُّهَا النَّاسُ، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا. أَيُّهَا النَّاسُ، اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim alias Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sa’id ibnu Amr ibnu Sa’id ibnul Ash, telah menceritakan kepada kami Sa’id (yakni ayahnya), dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa pernah ada seorang wanita Yahudi yang menjadi pelayannya, maka tidak sekali-kali Aisyah berbuat suatu kebaikan kepadanya, melainkan ia mendoakan bagi Aisyah, “Semoga Allah memelihara dirimu dari siksa kubur.” Aisyah radhiyallahu anha melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk menemuinya, maka ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah siksa kubur itu ada sebelum hari kiamat?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada. Siapa yang menduga demikian?” Aisyah menjawab, “Wanita Yahudi ini, tidak sekali-kali aku berbuat baik kepadanya melainkan dia mendoakan bagiku, ‘Semoga Allah memelihara dirimu dari siksa kubur’.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang Yahudi itu pendusta dan terhadap Allah mereka lebih pendusta lagi, tiada azab sebelum hari kiamat.” Kemudian selang beberapa waktu menurut apa yang dikehendaki Allah, pada suatu hari beliau shallallahu alaihi wasallam keluar di tengah hari seraya memakai kain selimut, sedangkan kedua mata beliau memerah, lalu beliau berseru dengan suara yang sangat keras: Alam kubur itu bagaikan sepotong malam hari yang sangat gelap. Hai manusia, sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu banyak menangis dan sedikit tertawa. Hai manusia, mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur, karena sesungguhnya siksa kubur itu benar (adanya). [Sanad hadis ini sahih dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]
Dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab As-Sunan, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila seseorang di antara kalian selesai tasyahud akhir, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara: Dari adzab jahannam, adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. ” (HR. Muslim)
Dalam Ash-shahihain dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah keluar saat matahari menjelang terbenam, lalu beliau mendengar suara, maka beliau bersabda, (Itulah adalah suara) orang-orang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alai wasallam bersabda (tentang firman Allah):
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim:27). Ia bersabda: (Ayat) turun berkaitan dengan adzab kubur. ” (HR. Muslim)
Imam Ath-thahawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Akidah Ath-Thahawiyah: “(Ahlussunnah wal jamaah) mengimani adanya adzab kubur bagi mereka yang berhak mendapatkannya. ”
Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Syarah Sahih Muslim: “Ketahuilah bahwa madzhab ahlussunnah wal jamaah menetapkan adanya adzab kubur, dan telah tampak dalilnya dari Al-Quran dan As-Sunnah”.
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata dalam kitabnya Lum’atul I’tiqad Al-Hadi Ila Sabili Ar-Rasyad: “Adzab dan nikmat kubur adalah haq (benar adanya).”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarah Lum’atul I’tiqad: “Para salaf dan ahlussunnah telah sepakat tentang penetapan adanya adzab kubur dan kenikmatan kubur. ”
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah juga berkata dalam syarah Lum’atul I’tiqad: “Kaum Muktazilah menolak adanya adzab dan nikmat kubur karena pemikirannya yang rusak. Mereka (Muktazilah) berkata: Kami tidak menyaksikan kejadian apapun di alam kubur.
Selanjutnya beliau (Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah) berkata: “Adzab kubur ditetapkan berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah dan kesepakatan ahlussunnah wal jamaah, (diantaranya) firman Allah Ta’ala dalam surat As-Sajdah ayat 21, yang dimaksud Al-‘Adzabu Al-Adna (adzab yang dekat didunia) adalah adzab kubur. (Juga diantaranya dalam hadis), suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan dan berkata: sesungguhnya dua penghuni kubur ini telah diadzab dan diadzab bukan karena dosa yang besar namun perkara itu (dinilai) besar, adapun penghuni yang satu karena ketika di dunia tidak menjaga dari (najis) kencing dan penghuni yang satunya ketika di dunia selalu menebar namimah atau gemar mengadu domba.” (HR. Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Dan masih banyak ayat, hadis dan perkataan ulama ahlussunnah yang menjelaskan dan menetapkan adanya adzab kubur yang merupakan keyakinan kokoh dalam manhaj ahlussunnah wal jamaah. Semoga Allah menghindarkan diri kita, keluarga serta masyarakat dari penyimpangan akidah. Wallahu A’lam
Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc
Bogor Kota Hujan, 14 Agustus 2017
Artikel:
www.alghurobasite.wordpress.com
www.inilahfikih.com