KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…

Wanita Haid dan Orang Junub Membaca Al-Quran
Disebutkan dalam kitab-kitab fikih bahwa masalah ini menjadi bahan perdebatan diantara para ulama.
Tentang perbedaan pendapat dalam masalah membaca Al-Quran sebagian ulama membedakan hukumnya antara orang junub dengan wanita haid dan sebagian ulama menyamakannya.
Pendapat jumhur ulama klasik dalam masalah membaca Al-Quran bagi orang junub dan wanita haid adalah dilarang, sedangkan sebagian ulama lainnya membolehkannya.
Menurut Imam Malik rahimahullah dan sebagian ulama yang sependapat dengannya bahwa antara orang junub dan wanita haid dibedakan. Orang junub waktunya singkat sehingga dengan mudah bersegera untuk bersuci maka dilarang baginya membaca Al-Quran dalam kondisi junub. Adapun bagi wanita haid disebabkan lamanya waktu haid sehingga diperbolehkan membaca sedikit dari ayat-ayat Al-Quran.
Ulama-ulama besar dalam madzhab syafii berpendapat bahwa dilarang bagi orang junub dan wanita haid membaca Al-Quran. Seperti Imam An-Nawawi Asy-Syafii dalam kitabnya Al-Adzkar, Imam Ibnu Naqib Asy-Syafii dalam kitabnya Anwarul Masalik, Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii dalam kitabnya Kifayatul Akhyar, Imam Jalaluddin As-Suyuti Asy-Syafii dalam kitabnya Al-Asybah Wa An-nadzoir dan ulama lainnya.
Lalu bagaimana pendapat ulama-ulama kontemporer dalam masalah ini? Diantara mereka ada yang melarang, sebagian dari mereka membolehkannya secara mutlak dan sebagian mereka membolehkan dalam keadaan tertentu dan syarat tertentu.
Berikut kami sampaikan pendapat-pendapat mereka.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam berkata: ” (Faidah yang bisa diambil dari hadis) adalah keharaman membaca Al-Quran bagi wanita haid) (Lihat Taisirul ‘Allam Syarah Umdatul Ahkam Bab Haid).
Disebutkan dalam kitab Al-Fiqh Al-Muyassar yang disusun oleh para ulama saudi arabia bahwa diantara yang haram dilakukan karena haid dan nifas adalah membaca Al-Quran. Dituturkan: “Ini adalah pendapat banyak ulama dari kalangan sahabat, tabiin dan orang-orang yang datang sesudah mereka, namun bila seorang wanita perlu membaca, -misalnya dia perlu mengulangi apa yang telah dihafalnya agar tidak lupa atau mengajar anak-anak perempuan di sekolah atau menjadikannya bacaan wirid-, maka hal itu dibolehkan baginya. Dan bila dia tidak perlu, maka tidak boleh membaca, sebagaimana sebagian ahli ilmu berpendapat demikian.”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika hanya dengan pandangan mata atau dengan perenungan hati saja, tanpa menuturkannya dengan lidah maka tidaklah mengapa. Misalnya, mushaf diletakkan atau lembaran diletakkan di hadapannya, lalu ia memandangi ayat-ayatnya dan membacanya di dalam hati, maka menurut An-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab, boleh-boleh saja, tanpa ada perbedaan pendapat. Sedangkan jika dituturkannya dengan lidah maka menurut pendapat jumhur ulama, hal ini dilarang dan tidak boleh. Menurut Al-Bukhari, Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnul Mundzir, boleh-boleh saja. Seperti ini juga yang diriwayatkan dari Malik dan Asy-Syafii pada qaul qadim (pendapat lama saat di Baghdad) seperti yang termaktub dalam Fathul Bari, Al-Bukhari menyebutkan sebuah komentar dari Ibrahim An-Nakhai: Tidak mengapa perempuan itu membaca ayat Al-Quran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Al-Fatawa Majmu’ah Ibnil Qasim, tidak ada satupun sunnah yang melarang perempuan haid membaca Al-Quran, sebab sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Janganlah perempuan yang sedang haid dan orang yang junub membaca satupun dari ayat Al-Quran”, adalah hadis daif sebagaimana kesepakatan para ahli hadis. ” Setelah kita mengetahui perbedaan pendapat di antara ahli ilmu maka sebaiknya [harus] dikatakan bahwa lebih baik perempuan yang haid tidak membaca Al-Quran dengan cara dituturkan dengan lisan, kecuali ketika diperlukan. Misalnya, dia seorang guru yang harus mendiktekan kepada murid-muridnya atau dalam ujian yang mana dia harus membaca Al-Quran untuk ujiannya ini dan seumpamanya. ” (Lihat Sahih Fikih Wanita Pustaka Akbar Media).
Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim rahimahullah berkata: “Menurut pendapat yang kuat, wanita haid dan junub boleh berdzikir dan membaca Al-Quran. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang terkenal dari Asy-Syafii dan Ahmad. ” (Lihat Fikih Sunnah Untuk Wanita Pustaka Al-I’tishom).
Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Bagi wanita yang menjalani masa haid diperbolehkan membaca Al-Quran. Akan tetapi tidak boleh menyentuh mushafnya. Disamping itu ada pula hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Umar, yang berstatus sebagai hadis marfu’: “Wanita yang tengah menjalani masa haid dan juga yang sedang dalam keadaan junub tidak boleh sama sekali membaca Al-Quran. ” (HR. At-Tirmidzi) (Tanbihat ‘Ala Ahkamin Takhtashshu Bin Nisa’).
Kesimpulannya adalah mayoritas ulama melarang wanita haid dan orang junub membaca Al-Quran. Sedangkan ulama yang membolehkan wanita haid membaca Al-Quran disyaratkan tidak diucapkan dan tidak menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan darurat seperti guru ngaji yang mendikte atau menyimak muridnya.
Inilah pemaparan seputar hukum membaca Al-Quran bagi wanita haid dan orang junub. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.
Bogor, 14 November 2017
Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc
Artikel:
www.inilahfikih.com