Wanita Haid Masuk dan Berdiam Diri di Masjid

Wanita Haid Masuk dan Berdiam Diri di Masjid

Masalah ini menjadi bahan perdebatan para ulama akan tetapi sebagian besar ulama mengharamkan wanita haid masuk dan berdiam diri di masjid terutama para ulama dalam madzhab syafii.

Al-Qadhi Abu Syuja’ Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Haram bagi wanita haid 8 perkara: Shalat, puasa, membaca Al-Quran, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid, thawaf, jimak dan menikmati (bagian anggota tubuh wanita) antara pusar dan lutut” (Lihat Matan Al-Ghoyah Wa At-Taqrib Bab Haid)

Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Masuknya wanita haid ke masjid dengan duduk, menetap, berdiri, dan mondar-mandir maka haram hukumnya. Karena ini berlaku juga bagi orang junub dan tidak diragukan bahwa hadasnya wanita haid lebih kuat dari orang junub” (Lihat Kifayatul Akhyar Bab Haid)

Imam An-nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam kitab Minhajut Thalibin dan Imam Ibnu Naqib Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya Anwarul Masalik mengatakan bahwa wanita haid diharamkan melakukan perkara-perkara yang juga diharamkan bagi lelaki yang junub tentunya diantara larangan lelaki junub adalah masuk ke dalam masjid.

Para ulama kontemporer pun berpendapat demikian seperti syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam serta ulama lainnya.

Dalam kitab Al-Fiqh Al-Muyassar yang dihimpun oleh beberapa ulama yang tergabung dalam Mujamma’ Al-Malik Fahd Li thiba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif disebutkan diantara perkara yang haram dilakukan oleh wanita haid dan nifas adalah masuk dan berdiam diri di masjid. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Saya tidak menghalalkan masjid untuk orang junub dan wanita haid” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 232, dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Ibnu Al-Qaththan dan Ibnu Sayyid An-Nas. Lihat Nailul Authar 1/288), no.305)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Usaimin rahimahullah berkata: “Perempuan yang haid haram berada di dalam masjid. Bahkan dia pun haram berada di tempat shalat hari raya. Hal ini berdasarkan hadis Ummu Athiyah radhiyallahu anha bahwa dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Boleh keluar para perempuan yang baligh atau hampir baligh, para perawan muda dan perempuan yang haid-yakni ikut shalat dua hari raya-. Selanjutnya: Namun para perempuan yang haid harus diasingkan dari tempat shalat. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) (Lihat Shahih Fikih Wanita Bab Hukum-Hukum Haid)

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah berkata: “Wanita haid tidak boleh masuk masjid agar tidak mengotorinya (dengan darah).” (Lihat Taisirul ‘Allam Syarah Umdatul Ahkam Bab Haid)

Syaikh Khalid Al-Husainan dalam kitabnya Aktsar Min Alf Jawab Li Al-Mar’ah dalam bab wanita dan haid mengutip pendapat Syaikh Ibnu Baz rahimahullah bahwa beliau melarang wanita masuk ke tempat yang berhubungan dengan masjid.

Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah berkata: “Bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh berdiam diri di dalam masjid dan diperbolehkan jika hanya sekedar berlalu saja. ” (Lihat Fikih Wanita Pustaka Al-Kautsar)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata: “Seorang wanita haid tidak diperbolehkan duduk di masjid, baik Masjidil Haram, maupun masjid lainnya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan wanita menjauhi musholla ketika shalat id, akan tetapi diperbolehkan berjalan dari masjid untuk mengambil sesuatu ataupun meletakkannya ataupun memintanya. ” (Lihat Tanbihat ‘Ala Ahkamin Takhtashshu Bin Nisa’)

Adapun sebatas melewati masjid para ulama membolehkan.

Syaikh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghomrowi Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya As-sirajul Wahhaj Ala matni Minhahut Thalibin berkata: “Diharamkan juga (melewati masjid jika dikhawatirkan mengotori masjid), dalam rangka menjaga masjid, namun apabila aman atau terhindar dari mengotori masjid maka boleh melewati masjid seperti lelaki junub, sekalipun hal ini makruh. ”

Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Apabila masuk sekali saja (sebatas lewat) pendapat yang benar diberbolehkan seperti halnya lelaki junub.” (Lihat Kifayatul Akhyar Bab Haid)

Demikian pemaparan seputar hukum wanita haid masuk dan berdiam diri di masjid. Semoga bermanfaat

 

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

 

Artikel:

www.inilahfikih.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *