KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
AL-QUR’AN DAN BULAN ROMADHON
Al-Qur’an al-Karim sangat berkaitan dengan Romadhon. Begitu pula sebaliknya, Romadhon pun sangat berkaitan dengan al-Qur’an. Keduanya bagaikan dua sahabat sejati yang saling mengasihi. Alloh berfirman: “Bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….” [QS. al-Baqoroh (2): 185]
al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia dari lauhul mahfudz pada bulan Romadhon. Bulan Romadhon amat bergembira dengan turunnya al-Qur’an. Karena itulah, Rosululloh senantiasa tadarrus (mempelajari) al-Qur’an di bulan Romadhon bersama Malaikat Jibril . Beliau mendengarkan bacaannya, merenungkannya, memikirkan pelajaran yang ada di dalamnya, menghidupkan ajaran-ajarannya, melapangkan hati dalam naungannya, dan menggali cinta dalam mutiara hikmahnya.
Orang yang membaca al-Qur’an ketika berpuasa (di bulan Romadhon), berarti ia telah memadukan dan mengharmonikan Romadhon dengan al-Qur’an, hingga bulan yang agung ini bercengkrama dengan kitab yang agung pula, dimana Alloh berfirman: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [QS. Shod (38): 29]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” [QS. Muhammad (47): 24]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 82]
Membaca al-Qur’an di bulan Roma-dhon bagi orang berpuasa yang gemar membaca al-Qu’ran adalah ibarat maka-nan dan nutrisi gizinya. Sehingga al-Qur’an baginya memiliki petunjuk khusus yang terpancar. al-Qur’an di bulan Roma-dhon bagaikan air yang membasahi tana-man, pengharum ruangan, dan penyejuk jiwa.
Membaca al-Qur’an di bulan Roma-dhon akan mengingatkan kita pada hari ketika ia diturunkan pertama kali, pada saat Rosululloh tadarrus (mempela-jari)nya, dan mengingat kesempatan ber-harga ketika kaum salaf memberikan per-hatian yang besar terhadapnya. Rosulu-lloh bersabda dalam sebuah hadits sho-hih: “Bacalah al-Qur’an, karena sesung-guhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai penolong (saksi yang meringan-kan) bagi yang membacanya.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda: “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkan-nya.” (HR. al-Bukhori)
Beliau juga bersabda: “Bacalah az-Zahrawayain, yaitu surat al-Baqoroh dan Ali ‘Imron, karena kedua surat itu akan datang seperti dua gumpalan awan, atau seperti dua belukar hutan, atau kawanan burung yang berbulu tebal untuk menaungi pembacanya di hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda: “Orang yang membaca al-Qur’an dengan mahir dan lancar, maka ia akan bersama para malai-kat yang mulia lagi murah hati. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan tesendat-sendat bacaannya dan merasa sulit, maka baginya dua pahala.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Kaum salaf kita, adalah contoh ideal bagi kita semua, apabila tiba bulan Roma-dhon, serentak mereka membuka mus-haf-mushaf al-Qur’an; dan merekapun se-nantiasa bersama al-Qur’an, baik ketika berdiam di tempat tinggal maupun ketika mereka bepergian.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Imam Malik menghentikan segala akti-vitasnya dan hanya membaca al-Qur’an ketika bulan Romadhon tiba. Beliau ting-galkan kegiatan mengajar, memberi fatwa, maupun berkumpul bersama orang-orang, dan beliau berkata, “Bulan ini adalah bu-lan al-Qur’an.”
Ketika Romadhon tiba, rumah-rumah para salafush sholih berdengung seperti dengungan lebah. Rumah mereka meman-carkan cahaya kebahagiaan. Mereka mem-baca al-Qur’an dengan tartil dan saling ber-sahutan antara yang satu dan lainnya. Manakala melihat keajaiban di dalamnya, mereka berhenti (membaca, untuk mere-nungi), menangis ketika mendengar nasi-hatnya, dan berbahagia ketika mendengar kabar gembiranya. Perintahnya dilaksana-kan dan larangannyapun dijauhi.
Dalam riwayat yang shohih disebut-kan bahwa Ibnu Mas’ud membaca awal surat an-Nisa’ di hadapan Rosululloh dan ketika ia sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rosul) dari tiap-tiap umat dan Kami menda-tangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. an-Nisa’ [4]: 41)
Rosululloh berkata: “Cukup sampai di situ bacaanmu, wahai Ibnu Mas’ud.” Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, “Lantas aku melihat ke arah beliau, dan aku melihat kedua pelupuk matanya bercucu-ran air mata. Sungguh, Rosululloh ada-lah orang yang sangat mencintai Alloh, dan ketika mendengar kata-kata (firman) dari yang dicintainya, beliau pun menangis.”, akhirnya Ibnu Mas’ud pun menangis pula. Air mata telah mengalir di pipi, jelaslah siapa yang benar-benar menangis di antara orang yang berpura-pura me-nangis. Adapun orang yang benar-benar menangis, maka ia bercucuran penuh pe-rasaan, karena tangisannya adalah bentuk dari ketakwaannya.
Dalam hadits shohih yang lain, Rosu-lulloh pernah menyimak bacaan Abu Musa , kemudian beliau berkata kepada-nya, “Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu tadi ma-lam, sungguh aku merasa tengah men-dengar satu seruling di antara seruling-seruling keluarga Dawud.” Maka Abu Musa menjawab: “Seandainya aku ta-hu engkau mendengarkan bacaanku tadi malam, tentu akan aku perindah bacaan-ku untukmu.”
Maksud Abu Musa , aku akan memperindah suaraku lebih dari itu, hing-ga bacaanku akan lebih memberikan pengaruh, lebih menggetarkan dan lebih indah lagi. Sedangkan Umar apabila para shahabat berkumpul, maka ia ber-kata kepada Abu Musa , “Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Robb kami.” Maka Abu Musa pun bergegas membacakan al-Qur’an dengan suaranya yang indah, akhirnya para shahabat pun mengucurkan air matanya. Ketika pera-saan dan tabiat orang-orang generasi ter-akhir tidak lagi tergerak hatinya untuk mendengarkan kalam Ilahi, pendidikan akan terbengkalai, fithrah manusia akan terpasung, dan pemahaman terhadap agama pun akan semakin memburuk.
Manakala al-Qur’an sudah ditinggal-kan, keburukan akan merajalela, musibah datang silih berganti, pemahaman tidak lagi benar, dan kegagalan selalu meng-hantui. Tugas utama al-Qur’an adalah memberikan hidayah kepada umat manu-sia agar mereka selalu berada di atas jalan yang benar.
al-Qur’an adalah cahaya, penawar hati, serta yang mengajarkan ilmu, pengetahuan dan petunjuk yang nyata. Al-Qur’an adalah kehidupan dan ruh, penye-lamat, serta pembawa kebahagiaan dan pa-hala. Al-Qur’an berisikan pendidikan Robbani, undang-undang ilahi dan hik-mah yang abadi.
Tidak adakah keinginan dalam diri kita untuk selalu hidup bersama al-Qur’an, baik di bulan Romadhon maupun pada bulan-bulan lainnya? Tidak adakah keinginan dalam diri kita untuk mengenal keagungan al-Qur’an hingga pada akhirnya kita pun dapat mendatangkan bahagia dalam hidup kita dan memperoleh ber-bagai kemuliaan bersama al-Qur’an? Lan-tas, masih adakah sisa waktu kita untuk melakukan itu semua?
Allohu a’lam
Sumber: Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com
Sponsored by:
www.toko.inilahfikih.com