KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
APRIL MOP
Apa itu April MOP?
April merupakan nama bulan, dan MOP singkatan dari Membuat Orang Panik. Literatur lain mengatakan bahwa MOP berasal dari ba-hasa Belanda yang berarti kelakar (canda). Sedangkan istilah aslinya adalah April fool’s day (hari membodohi orang lain di bulan April).
Sejarah April MOP
Versi Pertama
Hari April Fool diduga mulai diperingati pada abad ke-16 di Perancis. Menurut keterangan pada website USIS dulu awal tahun baru itu jatuh pada tanggal 1 April. Cara merayakannya mirip dengan sekarang, dengan pesta, dansa-dansi hingga pagi. Kemudian tahun 1562, Paus Gregory memperkenalkan kalender baru yang tahunnya diawali bulan Januari. Tetapi ada beberapa kalangan yang belum dengar atau tidak percaya adanya perubahan ini. Jadi mereka terus memperingati tahun baru pada tanggal 1 April. Orang-orang inilah yang disebut April Fools atau secara harfiah berarti orang-orang yang tertipu di bulan April.
Versi Kedua
Teori lain yang dimuat The Washington Post mengatakan tradisi ini dimulai pada zaman Romawi kuno, saat orang merayakan festival Ceres awal April. Ceres adalah dewi panen yang putrinya diculik Pluto, dewa dunia ghaib. Ceres diceritakan mengikuti gema suara teriakan anaknya, hal yang mustahil, sebab gema sangat sulit dicari sumber aslinya. Sehingga Ceres dikatakan melaksanakan “a fools errand” atau tugas orang bodoh.
Kebiasaan membohongi teman dan anggota keluarga ini, diduga menyebar dari Perancis, ke Inggris dan Skotlandia, lalu ke Amerika waktu terjadi emigrasi orang eropa ke sana. Di Perancis disebut Poisson d’avril atau ikan April. Mereka percaya ikan kecil itu mudah tertangkap atau tertipu. Di Skotlandia istilahnya April gowk, yang berarti burung tekukur yang di sana melambangkan kepolosan. Di sana, April Fool’s Day justru diperingati selama dua hari. Hari kedua khusus meledek anggota badan dan disebut Taily Day.
Versi Ketiga
Di balik perayaan April MOP (April Fool’s Day) ini, sangat dipercayai bahwa April MOP mula-mula dirayakan pada sa-at kejatuhan kerajaan Islam di Spanyol. Setelah sekian lama berkuasa di Grana-da, Spanyol, kerajaan Islam akhirnya runtuh diserang tentara-tentara Kristen. Penduduk Islam di Spanyol (Moors) ter-paksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kris-ten tidak puas dan berusaha untuk meng-hapuskan orang-orang Islam dari Spa-nyol.
Penduduk-penduduk Muslimin ini, diberitahu bahwa mereka diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan ba-rang-barang keperluan mereka dengan menggunakan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan.
Orang-orang Muslimin khawatir dan curiga atas tawaran tersebut, dikhawatir-kan tawaran tersebut merupakan suatu penipuan, kemudian mereka pergi ke pe-labuhan untuk melihat apakah ada kapal yang dimaksud oleh tentara Kristen. Se-telah dilihat keberadaan kapal-kapal di pelabuhan, merekapun membuat persia-pan untuk berlayar.
Keesokan harinya (1 April), mereka mengambil semua barang-barang yang telah disiapkan lalu menuju ke pelabu-han. Pada saat inilah, pihak Kristen me-ngambil kesempatan menggeledah dan membakar rumah-rumah penduduk Is-lam. Bahkan mereka juga tidak sem-pat untuk menaiki kapal karena semua-nya telah musnah dibakar. Pihak Kristen kemudian menyerang kaum Muslimin dan membunuh semuanya, lelaki, perem-puan, serta anak-anak kecil. Peristiwa berdarah yang menyedihkan ini kemu-dian dirayakan oleh tentara Kristen. Pera-yaan ini akhirnya diselenggarakan setiap tahun bukan saja di Spanyol tetapi juga di se-luruh dunia sebagai April Fool’s Day.
Larangan Memperingati April MOP
Dari sisi perayaan, ketiga versi terse-but jelas-jelas meniru kaum kafir dan musyrik (tasyabbuh). Hanya akan dida-pati nilai dosa apabila seorang Muslim melakukannya.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dishahihkan oleh al-Albani)
Alloh berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak mem-punyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua-nya itu akan diminta pertanggung-jawa-bannya.” (QS. Al-Isro’ [17]: 36)
Dari kisah versi ketiga, kita mungkin akan mengatakan, “Sangat menyedihkan, begitu jahilnya orang-orang Islam yang turut memperingati April Fool’s Day tanpa menyadari bahwa mereka sebenar-nya merayakan ulang tahun pembunu-han massal saudara se-Islam mereka sen-diri.
Kelakar dalam Pandangan Islam
Sebagaimana layaknya masakan yang perlu diracik dengan bumbu yang sedap, kehidupan manusia pun tidak melulu harus serius. Keseriusan dalam mencapai tujuan hidup, bukanlah berarti menghalangi seseorang untuk memaknai dinamika kesehariannya dengan candaan. Ketika berinteraksi dengan anak, hal yang paling menyenangkan dan menggugah semangat di antaranya dengan kelakar. Istri yang seharian mengurus rumah tangga pun akan merasa fresh jika sang suami mampu menghadirkan nuansa senyum dan tawa. Demikian pula suasana kantor. Kesema-rakan dan kerinduan berkelakar kadang kala pemacu seseorang bekerja lebih giat.
Kelakar dapat menghibur, mencair-kan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan dan meredakan amarah. Bahkan, tak jarang di dalam ke-lakar akan tercermin rasa persaudaraan dan persahabatan.
Membuat orang lain senang dapat di-sebut sebagai kebajikan dan Nabi me-masukkan senyum yang dengannya o-rang menjadi senang sebagai kebajikan. Beliau bersabda, “Senyummu untuk sau-daramu adalah shodaqoh, kebajikan.” (HR. Imam Ahmad)
Segala hal yang membuat orang lain senang dan bahagia masuk ke dalam makna senyum ini atau dapat disejajar-kan dengannya. Abdulloh bin Harits menyifati Nabi sebagai orang yang paling murah senyum.
Beberapa Ketentuan di dalam Bercanda
Bercanda dibolehkan selama sesuai dengan syari’at. Hal-hal di bawah ini per-lu diperhatikan, agar bercanda tidak ber-balik menjadi dosa.
Alloh berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah, ‘Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian se-lalu berolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan sego-longan dari kalian (lantaran mereka tau-bat), niscaya Kami akan mengadzab go-longan (yang lain) disebabkan mereka a-dalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)
Termasuk di dalamnya menjadikan Sunnah Nabi , seperti memelihara jeng-got, mengangkat pakaian di atas mata kaki bagi kaum pria, sebagai bahan gu-rauan. Jika ajaran agama dijadikan gu-rauan sekecil apa pun, dapat menyebab-kan kekufuran. Ibnu Abbas pernah berkata, “Barangsiapa melakukan dosa lalu ia tertawa (merasa senang), maka ia akan masuk neraka di dalam keadaan menangis.”
Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kare-na) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wa-nita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kalian mencela diri kalian sen-diri dan janganlah kalian panggil me-manggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggi-lan) yang buruk sesudah iman dan ba-rangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Hujurat [49]: 11)
Selain dengan lidah, cacian dapat di-lakukan dengan gerakan isyarat atau ma-ta. Nabi melarang mencaci, sebagai-mana sabdanya, “Jangan kalian bergem-bira dengan (cela) saudara kalian, bisa saja itu akan menjadi sebab Alloh untuk mengasihinya, dan mencoba kalian (de-ngan semisalnya).” (HR. At-Tirmidzi)
Kehormatan harga diri di dalam Is-lam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak men-curi harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Nabi bersabda, “Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta dan harga dirinya.” (HR. Muslim)
Tidak jarang orang yang sering ber-canda terjerumus ke dalam ghibah. Ia mengira mungkin ini hanya sekedar selo-roh, padahal Nabi mendefinisikan ghi-bah dengan, “Menyebutkan sesuatu ten-tang saudaramu yang tidak disenangi-nya.” Sebagaimana di dalam hadits riwa-yat Imam Muslim.
Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian pra-sangka itu adalah dosa dan janganlah ka-lian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging sau-daranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertak-walah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurat [49] : 12)
Kesungguhan dan serius adalah ka-rakter pribadi Muslim, sedangkan kelakar hanya sekedar jeda, rehat dari ke-penatan. Bahkan seorang ulama berpen-dapat bahwa menjadikan humor sebagai profesi adalah sebuah kesalahan besar.
Nabi bersabda, “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR. Abu Daud)
Bercanda dengan orang yang dihor-mati semisal ulama bisa dianggap kurang sopan. Bercanda dengan orang awam dan kebanyakan orang bisa mengurangi kewibawaan. Demikian pula, bercanda dengan orang yang belum dikenal bisa dipersepsikan sebagai penghinaan. Allohu a’lam
Sumber: Buletin As-Silmi
Artikel:
www.inilahfikih.com
Sponsored by:
www.toko.inilahfikih.com