AMALAN YANG DISYARIATKAN DI BULAN ROMADHON

AMALAN YANG DISYARIATKAN DI BULAN ROMADHON

Saudaraku..!! Berikut ini beberapa amalan yang ditegaskan pelaksanaannya pada bulan Romadhon:

  1. Puasa

Rosululloh  bersabda: “Setiap amal anak Adam adalah miliknya, setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipatnya. Alloh  berfirman, “Kecuali puasa, sebab puasa adalah milik-Ku dan Aku memberi balasan atas puasa tersebut. Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi Aku. ‘Orang yang puasa mendapatkan dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Robbnya. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi bagi Alloh dari aroma misik.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Rosululloh  bersabda, “Barang siapa yang berpuasa  pada bulan Romadhon karena iman dan mengaharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Puasa berarti menahan diri dari makanan dan minuman serta hal-hal yang membatalkan puasa serta tindakan haram, seperti berkata dusta, keji, menggunjing, atau mengadu domba.

Saudaraku, jangan anda menyamakan hari berpuasa dengan hari anda tidak berpuasa. Jangan sampai dari puasa Romadhon ini, anda hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka.

  1. Qiyamul Lail (sholat malam)

Rosululloh  bersabda, “Barangsiapa mendirikan (sholat) malam pada bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Alloh  berfirman, “Adapun hamba-hamba Robb yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam” dan orang-orang yang mengha-biskan waktu malam untuk beribadah kepada Robb mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. al-Furqon [25]: 63-64)

Diriwayatkan dari Sa’i bin Yazid, ia berkata, “Dulunya ada seorang imam mem-baca ratusan ayat al-Qur’an, sampai kami harus bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri. Selain itu, orang-orang tidak keluar dari masjid, kecuali ketika fajar menyingsing.”

  1. Bersedekah

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas , ia berkata: “Nabi  adalah manusia paling dermawan terhadap kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Roma-dhon, ketika berjumpa dengan Jibril… Jika Jibril menemuinya, maka beliau lebih dermawan terhadap kebaikan daripada hembusan angin.” (HR.  al-Bukhori)

Sedekah pada bulan Romadhon me-miliki keistimewaan sendiri, kerenanya ber-segeralah melakukannya. Ada beberapa bentuk sedekah pada bulan Romadhon:

  1. Memberi makan. Alloh berfirman, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak ya-tim dan orang yang ditawan, (sambil ber-kata), “Sesungguhnya kami memberi ma-kan kepada kalian hanya karena mengharap-kan keridhoan Alloh, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kalian. Sungguh, kami takut akan (azab) Robb pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan. “Maka Alloh me-lindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (ber-upa) surga dan (pakaian) sutera.” ( al-Insan [76]: 8-12)

Karenanya, para Salafush Sholih ge-mar memberi makan, baik dengan mem-beri makan kepada orang yang kelaparan maupun memberi makan kepada saudara Muslim yang sholih. Tidak ada syarat fakir miskin bagi orang yang diberi, makan. Di dalam hadits ‘Abdulloh bin Umar  di-sebutkan, “Seseorang bertanya kepada Rosululloh , ‘Bagaimanakah (menjalan-kan) Islam yang baik? ‘Beliau menjawab, ‘Kalian memberi makan, dan mengucap-kan salam kepada orang yang kalian ke-nal dan yang tidak kalian kenal.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Imam asy-Syafi’i  menuturkan, “Amalan yang lebih disukai bagi sese-orang adalah bertambah dermawan di bu-lan Romadhon karena meneladani Rosu-lulloh , membantu orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya, dan karena ke-sibukan sebagian mereka dalam beriba-dah yang mengakibatkan mereka tidak bisa bekerja dengan maksimal.”

  1. Memberi hidangan berbuka untuk orang yang berpuasa. Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan tindakan ini. Di antaranya adalah sabda Rosululloh , “Barangsiapa yang mem-beri hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut, tanpa me-ngurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut.” ( Ahmad)
  2. Bersungguh-sungguh dalam mem-baca al-Qur’an

Romadhon adalah bulan al-Qur’an, maka seorang hamba Muslim memperba-nyak membaca al-Qur’an di bulan ini. Disebutkan bahwa karakter generasi salaf adalah sangat perhatian kepada al-Qur’an. Jibril  menyimak bacaan al-Qur’an Rosululloh  pada bulan Romadhon. ‘Utsman bin Affan  mengkhatamkan bacaan al-Qur’an satu kali dalam sehari. Ada juga beberapa generasi salafus Sholih yang mengkhatamkan al-Qur’an dalam Qi-yamul lail (sholat malam) mereka dalam satu malam, ada juga yang menghatam-kannya dalam tiga malam, sebagian yang lain dalam tujuh malam, sebagian yang lain dalam sepuluh malam.

Ibnu Rojab  mengatakan, “Adapun larangan untuk menghatamkan bacaan al-Qur’an dalam tiga hari adalah apabila di-lakukan secara berkelanjutan. Namun, apabila dilakukan dalan waktu-waktu uta-ma, seperti bulan Romadhon khususnya malam-malam yang diharapkan turunnya Lailatul Qodar, atau di tempat-tempat utama, seperti halnya Mekkah, bagi selain penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an, untuk memanfaatkan keutamaan yang dimiliki waktu dan tempat tersebut. Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq, dan imam-imam yang lain. Apa yang dilakukan ulama lain juga menunjukkan pendapat ini.”

  1. Berdiam di dalam masjid hingga matahari terbit

Diriwayatkan dari Jabir bin Samuroh , ia berkata, “Bahwasanya setiap kali Nabi Muhammad  selesai sholat fajar, beliau duduk di tempat sholatnya hingga matahari terbit dengan terang.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Anas  bahwa Nabi Muhammad  bersabda, “Barang-siapa yang mendirikan sholat shubuh dengan berjamaah, kemudian tetap du-duk di tempat sholatnya hingga matahari terbit, lalu mendirikan sholat dua rokaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pa-hala haji dan umroh.” Anas  berkata, “Rosululloh  melanjutkan, ‘(Pahala) yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

Yang demikian itu apabila dilakukan pada hari-hari biasa, maka bagaimana ji-ka dilakukan pada bulan Romadhon?!

  1. I’tikaf

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh , ia berkata: “Adalah Nabi  beri’tikaf di setiap bulan Romadhon selama sepuluh hari. Dan pada tahun beliau wafat beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR.  al-Bukhori)

I’tikaf adalah ibadah yang menghim-pun berbagai jenis ketaatan, yaitu mulai dari membaca al-Qur’an, sholat, dzikir, doa, dan lain sebagainya. I’tikaf yang pa-ling ditekankan adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhon, sebagai upaya menjumpai Lailatul Qodar. I’tikaf merupa-kan bentuk kholwat (menyepi) yang di-syariatkan. Seorang yang beri’tikaf telah ‘memasung’ dirinya untuk taat dan dzikir kepada Alloh . Ia telah memutus hu-bungan dari segala kesibukan duniawi, doa mengarahkan hati dan badannya ke-pada Robbnya. Tiada lagi tujuannya, ke-cuali Alloh  dan ridho-Nya.

  1. Umroh

Ada banyak keutamaan dan pahala besar di dalam ibadah ini, Rosululloh  bersabda, “Satu umroh hingga umroh berikutnya sebagai penghapus dosa di antara keduanya.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Pada bulan Romadhon, pahala dan keutamaan ini semakin berlipat ganda. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas , ia ber-kata, “Tatkala Nabi  kembali dari haji, beliau bertanya kepada seorang perem-puan dari kalangan Anshor bernama Ummu Sinan, ‘Apa yang menghalangimu untuk melaksanakan haji bersama kami? ‘Ia menjawab, ‘Abu Fulan -suaminya-hanya memiliki dua onta, seekor ia guna-kan untuk menunaikan haji dan seekor lagi kami gunakan untuk menyirami tanah (kebun) kami.”. Beliau bersabda, ‘Sung-guh, umroh di bulan Romadhon setara dengan haji.’. Atau sabda beliau, “(Setara dengan) haji bersamaku.” (HR.  al-Bukhori dan Muslim)

Wahai Robb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari api neraka. Ya Alloh, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan segenap kaum Muslimin. Amiin

 

Sumber: Buletin As-Silmi Bogor

Artikel:

www.inilahfikih.com

Sponsored by:

www.toko.inilahfikih.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *