HUKUM DARAH HAID YANG KELUAR SECARA PUTUS-PUTUS MENURUT EMPAT MADZHAB

HUKUM DARAH HAID YANG KELUAR SECARA PUTUS-PUTUS MENURUT EMPAT MADZHAB

Dalam madzhab fiqih terdapat beberapa pendapat sebagai berikut:

Pertama: Dalam madzhab Hanafi dijelaskan dengan istilah istimrar munfashil, dengan cara menggabungkan dua masa keluarnya darah haid, sedangkan masa tidak keluarnya darah juga dihukumi masa haid, dengan syarat masa tidak keluar darah tersebut tidak lebih dari 15 hari, sehingga bila lebih dari 15 hari, maka masa tersebut dihukumi masa suci. Contoh, seorang wanita mengeluarkan darah tanggal 1-2 kemudian berhenti, kemudian tanggal 4 keluar lagi sampai tanggal 8, lalu setelah itu suci. Maka suci tanggal 2 sampai 3 dihukumi masa haid.

Kedua: Dalam madzhab Maliki dijelaskan ada dua ketentuan hukum, tetapi dengan syarat masa tidak keluar darah (naqa’) tidak lebih dari 15 hari:

  1. Bagi Mubtadiah (pemula) dan yang mempunyai kebiasaan 15 hari maka dengan cara menggabungkan dua masa darah yang terputus menjadi satu masa haid sedangkan masa tidak keluar darah tersebut dijadikan masa suci, kemudian diwajibkan untuk segera bersuci tanpa menunggu keluarnya darah lagi. Contoh, seorang wanita tanggal 1-5 mengeluarkan darah haid, lalu berhenti, kemudian tanggal 10 -14 mengeluarkan darah lagi. Dengan demikian masa keluar darah haid dihukumi masa haid, sedangkan masa tidak keluar darah dihukumi masa suci.
  2. Bagi mu’tadah (mengetahui kebiasaan keluarnya darah) maka dengan cara menggabungkan masa kebiasaan keluarnya darah yang paling banyak, kemudian ditambah 3 hari. Sedangkan masa tidak keluarnya darah ditetapkan sebagai masa suci dan wajib baginya untuk bersuci. Contoh, seorang wanita mempunyai kebiasaan pada bulan oktober, mulai tanggal 1 -5 keluar darah haid, kemudian suci, bulan november mulai tanggal 1-5 keluar darah haid setelah itu tanggal 6-10 tidak keluar darah, dan tanggal 11-13 keluar lagi. Maka masa darah keluar tersebut digabungkan kemudian ditambah 3 hari, merupakan masa haid. Namun ketika masa tidak keluarnya darah itu lebih dari 15 hari maka jelas dihukumi dengan haid secara tersendiri.

Ketiga: Dalam madzhab Syafi’i, masalah tersebut diterapkan istilah talfiq yang dimaksudkan dengan menggabungkan masa keluar darah, dengan masa tidak keluarnya darah menjadi satu dihukumi haid, dengan syarat masa keluar darah yang terputus- putus tersebut tidak lebih dari 15 hari dan tidak kurang dari 24 jam. Contoh, seorang wanita tanggal 1 mengeluarkan darah selama 12 jam, kemudian setelah itu bersih tidak ada darah sama sekali, kemudian pada tanggal 14 keluar lagi selama 14 jam, maka masa bersih tersebut dihukumi masa haid.

Keempat: Sedangkan dalam madzhab Hanbali juga menerapkan istilah talfiq sebagaimana berlaku dalam madzhab Syafi’i, dengan syarat bahwa dua darah tersebut merupakan darah haid (harus ada 24 jam dan tidak lebih dari 15 hari), dan masa tidak keluar darah tersebut tidak lebih dari 13 hari. Maka kedua darah tersebut dikatakan haid, sedangkan masa tidak keluar darah tersebut merupakan masa suci sehingga ketetapan sebagaimana hukum wanita suci. Contoh, seorang wanita pada tanggal 1 mengeluarkan darah selama 12 jam, kemudian setelah itu bersih tidak ada darah sama sekali, hingga kemudian pada tanggal 11 keluar lagi selama 14 jam, maka masa bersih tersebut dihukumi masa suci.

Dari penjelasan tersebut diatas, penulis memandang bahwa pendapat madzhab Hanafi dan Syafi’i lebih aplikatif, sebagaimana disinggung oleh Syaikh DR. Wahbah Zuhaili dalam Fiqh Al- Islam wa Adillatuhu. Dikarenakan realitanya  secara umum wanita akan kesulitan untuk meneliti antara keluar dan tidaknya darah haid disebabkan terkadang keluarnya darah sangat terasa menyakitkan dan bahkan bias tidak terasa sama sekali.

Sebagaimana konsep inti Islam adalah agama yang memberikan kemudahan bagi pemeluknya, maka pendapat madzhab ini sangat tepat untuk diterapkan bagi kebanyakan wanita sekarang, terlebih bagi mereka yang aktif. Berbeda halnya dengan madzhab Maliki dan Hambali, yang cenderung lebih memberatkan untuk dilakukan oleh masyarakat awam. Wallahu a’lam.

Sumber:

Diambil dari buku ”Fikih Darah Wanita Menurut Empat Madzhab Karya Alfa Syahriar

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *