Adakah Perintah Nabi Untuk Mengabarkan Kedatangan Bulan Rajab?

Adakah Perintah Nabi Untuk Mengabarkan Kedatangan Bulan Rajab?

Setiap menjelang malam pertama atau tanggal 1 bulan rajab seringkali kita menjumpai pesan berantai yang bunyinya kira-kira sebagai berikut;
__________________
“60 hari lagi masuk ramadhan…Mulai Malam ini (Ba’da Maghrib sudah masuk 1 Rajab. Rasullullah Bersabda “Barang Siapa Yang Memberitahukan Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya”. Dan berdzikirlah mengingat اَللّهُ … “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ maaf… Jangan putus di Anda. Gak sampai 1 menit kok اَللّهُ maha besar ]”

Dan versi lain berbunyi;

“Assalamualaikum wr wb,,,,sekedar mengingatkan,menginformasikan bhwa bsk hr selasa tgl 25 februari 2020..bertepatan tgl 1 RAJAB 1441 H…Bg yg mengerjakan PUASA 3 hr diawal Rajab seakan Ibadah 2 thn(selasa rabu kamis )bg yg mengerjakan 3 hr berturut d bln Rajab mk pahalax ibadah 700thn & bg yg mengingatkan org lain ttg puasa seakan ibadah 80thn…Subhanalloh…begitu mulya & indah bln Rajab…Saudaraku jgn sia2 kan bln yg sangat Mulya ini,,,Aamiin ya robalallamin🌺🌸
__________________

Benarkah ucapan itu dari Rasulullah?

Tidak usah ragu lagi bahwa ucapan itu bukan dari Rasulullah dan juga bukan bersumber dari dalil yang shahih. Redaksi atau teks pesan tersebut seringkali berubah-ubah di setiap datang bulan atau momentum tertentu. Saat datang nuzulul quran, datang ramadhan, datang jumadil awal, datang muharram, datang shafar dan bulan lainnya pesan berantari tersebut terus disebar dengan pola yang sama hanya saja dirubah nama bulannya saja.

Semangat dan antusias dalam beribadah adalah sebuah keharusan, namun bukan berarti asal kutip, comot sana sini, menyandarkan ucapan yang bukan dari Nabi disandarkan kepada Nabi sedangkan ia belum tahu pasti sumbernya dari mana.

Tahukah anda? Perbuatan seperti ini bukan sesuatu yang remeh dan sepele. Coba simak baik-baik ancaman bagi orang yang menyebarkan hadits palsu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Berhati-hatilah, sebelum menyebar sebuah berita berupa hadits yang itu belum jelas sumbernya bertanyalah kepada orang yang lebih berilmu dan lebih paham dalam masalah itu.

Catatan ini semata-mata sebagai nasehat dan pengingat kepada saudaraku seiman dan seislam sekaligus menyampaikan pesan Nabi agar tidak bermudah-mudah menyandarkan ucapan yang itu belum jelas apakah dari Nabi atau bukan. Wallabu a’lam

@Abul Fata Miftah, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *