KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
A. HUKUM SHALAT IDUL ADHA
Menurut madzhab Hanafi hukumnya wajib ain yaitu wajib bagi setiap muslim atau muslimah, menurut madzhab Hanbali hukumnya fardhu kifayah yaitu jika di suatu wilayah sudah ada yang melaksanakannya maka sudah mawakili yang lainnya, adapun dalam madzhab Syafii hukumnya sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Terlepas dari perbedaan hukumnya, hendaknya bagi seorang muslim atau muslimah tidak meninggalkan syariat dan syiar yang mulia ini. Dalam kondisi adanya wabah covid 19 seperti saat ini, jika memang tidak memungkinkan dilaksanakan di tanah lapang atau di masjid, maka bisa dilaksanakan di rumah, baik secara sendirian maupun berjamaah bersama keluarga.
B. PANDUAN SHALAT IDUL ADHA DI RUMAH
PERTAMA: Seperti shalat lainnya, shalat idul adha harus memenuhi 5 syarat sahnya shalat, yaitu sucinya anggota badan dari hadats dan najis, menutup aurat dengan pakaian yang suci, berdiri pada tempat yang suci, mengetahui masuknya waktu shalat, dan menghadap kiblat.
KEDUA: Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ada sunnah-sunnah pada hari raya idul adha, di antaranya:
1. Mandi sekujur tubuh, yaitu setelah fajar
Dari Ali radhiyallahu anhu bahwa ia pernah ditanya perihal mandi, maka ia menjawab, yaitu pada hari jumat, hari arafah, hari raya idul fithri dan hari raya idul adha. (HR. Baihaqi)
2. Menggunakan pakaian terbaik serta wewangian
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah menggunakan kain ganggang Yaman pada hari raya. (HR. Thabrani)
3. Dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu saat hendak shalat
Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
4. Memperbanyak takbir
Untuk takbir hari raya idul adha ulama berbeda pendapat, sebagian ulama mengatakan, bertakbir sudah bisa dilakukan dari habis subuh hari arafah hingga shalat ashar hari terakhir dari hari tasyriq (yaitu tanggal 13 dzulhijjah – pada hari tasyrik takbir dilakukan setiap selesai salat 5 waktu-), sebagian ulama mengatakan bahwa takbir dilakukan sejak selesai salat dzuhur hingga shalat ashar hari terakhir dari hari tasyriq (yaitu tanggal 13 dzulhijjah – pada hari tasyrik takbir dilakukan setiap selesai salat 5 waktu-). Dan sebagian ulama lainnya berpendapat dilakukan seperti hari raya idul fitri yaitu dari terbenam matahari hingga hari terakhir pada hari tasyrik (pada salat asar).
5. Diperbolehkan mengucapkan selamat kepada kaum muslimin atau keluarga dan kerabat, dengan ucapan:
تقبّل اللهُ منّا ومنكم
Taqabbalallahu minna waminkum
“Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian”.
قَالَ أَحْمَدُ رَحِمَهُ الله: وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْك
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tidak mengapa seseorang mengucapkan kepada orang lain pada hari raya: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْك ”
KETIGA: Tata cara shalat idul adha di rumah
Waktu shalat idul adha adalah seperti shalat dhuha yaitu setelah matahari naik seukuran tinggi tombak (sekitar 15 menit setelah matahari terbit) sampai waktu zawal (tergelincirnya matahari atau sekitar 15 menit sebelum waktu dzuhur). Tata cara shalat idul adha di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan tata cara shalat idul adha yang dilakukan di tanah lapang atau di masjid. Hanya saja saat dilakukan di rumah tidak perlu ada khutbah sebagaimana pendapat sebagian ulama, baik shalat idul adhanya sendirian maupun berjamaah bersama keluarga. Namun sebagian ulama lainnya tetap menganjurkan adanya khutbah. Kita boleh memilih dari dua pendapat tersebut sesuai yang kita kehendaki. Shalat idul adha di rumah tetap dilakukan dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, sebelum shalat tidak ada adzan dan iqamah. Sebagian ulama madzhab Syafii menganjurkan adanya seruan “ash-Shalatu jami’ah” sebelum shalat dimulai, namun pendapat mayoritas ulama tidak menganjurkannya.
Adapun tatacara shalat idul adha secara rinci adalah sebagai berikut:
1. Berdiri menghadap kiblat dan disertai dengan niat di hati
2. Rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram
3. Selanjutnya membaca doa iftitah
4. Selanjutnya melakukan takbir tambahan sebanyak 7 kali. Disyariatkan mengangkat tangan pada setiap kali melakukan takbir tambahan. Adapun di sela-sela takbir tambahan, sebagian ulama mengatakan bahwa tidak ada bacaan khusus, sedangkan ulama lainnya menganjurkan membaca tasbih, tahmid, takbir dan shalawat. Silahkan memilih salah satu dari dua pendapat ini.
5. Selanjutnya membaca surat al-Fatihah
6. Selanjutnya membaca surat. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca surat al-A’la (untuk rakaat keduanya membaca surat al-Ghasyiyah) atau surat Qaf (untuk rakaat keduanya membaca surat al-Qamar). Jika tidak hafal kedua surat tersebut maka membaca surat yang ia hafal.
7. Selanjutnya rukuk
8. Selanjutnya i’tidal
9. Selanjutnya sujud (sujud pertama)
10. Selanjutnya duduk di antara dua sujud
11. Selanjutnya sujud (sujud kedua)
12. Selanjutnya masuk pada rakaat kedua dengan diawali takbir intiqal (perpindahan dari rakaat pertama ke rakaat kedua)
13. Selanjutnya melakukan takbir tambahan 5 kali
14. Selanjutnya membaca surat al-Fatihah
15. Selanjutnya membaca surat. Dianjurkan membaca surat al-Ghasyiyah (jika pada rakaat pertama membaca surat al-A’la) atau surat al-Qamar (jika pada rakaat pertama membaca surat Qaf). Jika tidak hafal kedua surat tersebut maka membaca surat yang ia hafal.
16. Selanjutnya rukuk
17. Selanjutnya i’tidal
18. Selanjutnya sujud (sujud pertama)
19. Selanjutnya duduk di antara dua sujud
20. Selanjutnya sujud (sujud kedua)
21. Selanjutnya tahiyat (dengan duduk iftirasy atau sebagian madzhab dengan duduk tawarruk)
22. Selanjutnya salam
23. Sebagaimana disampaikan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa shalat idul adha di rumah tidak perlu ada khutbah (baik shalatnya sendirian maupun berjamaah), namun tidak mengapa jika diadakan khutbah satu kali (sebagian pendapat dua kali) sebagaimana anjuran sebagian ulama. Bagi kita bisa memilih salah satu dari dua pendapat ini.
Demikianlah panduan shalat idul adha di rumah. Semoga bermanfaat dan bisa diamalkan. Wallahu a’lam
Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud
Artikel: www.inilahfikih.com