KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
KELUAR MADZI APAKAH MEMBATALKAN PUASA?
Madzi adalah air yang lembut dan lengket, ia keluar di saat syahwat sedang memuncak, seperti saat kedua pasangan bercumbu atau ketika ingat
hal-hal yang berkaitan dengan persetubuhan atau saat timbul hasrat untuk bersetubuh. Ketika keluar, ia tidak muncrat dan tidak disertai rasa capek setelah
keluarnya, bahkan bisa jadi seseorang tidak merasakan keluarnya air madzi. Apakah keluar madzi membatalkan puasa? berikut keterangan ulama;
Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah berkata;
خروج المذي لا يبطل الصوم في أصح قولي العلماء؛ سواء كان ذلك بسبب تقبيل الزوجة، أو مشاهدة بعض الأفلام، أو غير ذلك مما يثير الشهوة، ولكن لا يجوز لمسلم مشاهدة الأفلام الخليعة، ولا استماع ما حرم الله من الأغاني وآلات اللهو.
أما خروج المني عن شهوة، فإنه يبطل الصوم سواء حصل عن مباشرة، أو قبلة، أو تكرار نظر، أو غير ذلك من الأسباب التي تثير الشهوة كالاستمناء ونحوه.
أما الاحتلام والتفكير فلا يبطل الصوم ولو خرج مني بسببهما.
“Keluar madzi tidak membatalkan puasa menurut pendapat ulama yang paling sahih, baik keluarnya disebabkan mencium istri, atau melihat beberapa konten tidak senonoh, atau apa saja yang membangkitkan syahwat, namun seorang muslim tidak boleh melihat konten-konten tidak senonoh, dan tidak boleh menikmati perkara yang Allah haramkan seperti nyanyian-nyanyian dan alat-alat musik.
Adapun keluar mani atau sperma maka membatalkan puasa, karena bercumbu, mencium, memelototi sesuatu yang menimbulkan syahwat atau sebab lainnya yang membangkitkan syahwat seperti onani dan semisalnya. Adapun mimpi atau berkhayal sesuatu yang tidak senonoh sekalipun keluar mani tidak membatalkan puasa”.
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan,
لو قبل امرأة وتلذذ فأمذى ولم يمن لم يفطر عندنا بلا خلاف
“Jika seseorang mencium istrinya dan terasa nikmat, lantas keluar madzi dan bukan mani, maka puasanya tidak batal. Inilah pendapat kami, ulama Syafi’iyah, tanpa ada perselisihan sama sekali di antara kami.”
Dalam Al-Ikhtiyarot, Syaikhul Islam berpendapat,
ولا يفطر بمذي بسبب قبلة أو لمس أو تكرار نظر وهو قول أبي حنيفة والشافعي وبعض أصحابنا
“Puasa tidaklah batal jika keluar madzi karena sebab mencium, menyentuh atau berulang kali memandang istri. Inilah pendapat Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan sebagian ulama Hambali.”
Syaikh Muhammad bin Sholih rahimahullah ditanya, “Bagaimana dengan seseorang yang mencumbu istrinya sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, lantas keluar madzi? Apa hukum puasanya?” Jawab beliau, “Jika seseorang mencumbu istrinya lantas keluar madzi, puasanya tetap sah. Dia sama sekali tidak kena hukuman apa pun. Inilah pendapat terkuat menurut kami dari berbagai pendapat ulama yang ada. Alasannya, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan bahwa keluarnya madzi membatalkan puasa. Dan tidak tepat dimisalkan dengan mani. Karena madzi masih lebih ringan dibanding mani. Pendapat ini juga dipilih dalam madzhab Syafi’i, Abu Hanifah dan dipilih oleh Syaikhul Islam. Disebutkan dalam Al-Furu’, “Inilah pendapat terkuat”. Begitu pula disebutkan dalam Al-Inshof, “Inilah pendapat yang tepat”.”
Kesimpulannya bahwa keluar madzi tidak membatalkan puasa. Wallahu A’lam
@inilahfikih.com