KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
7 DOSA YANG MEMBINASAKAN KEBINASAAN
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ
KHUTBAH PERTAMA
Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh
Marilah kita jaga dan kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Alloh dengan senantiaasa memperbaiki ibadah kita kepada-Nya. Melaksanakan apa yang Alloh perintahkan dan menjauhi apa yang telah Alloh larang. Shalawat dan salam kita persembahkan untuk teladan dan uswah kita Rasulullahg.
Sebagai agama yang lurus, Islam telah menunjukkan jalan-jalan kebaikan dan juga memberi peringatan terhadap umatnya tentang jalan-jalan keburukan. Diantara peringatan yang telah disampaikan oleh Rasulullah g adalah apa yang tercantum dalam sebuah hadisnya yang sahih sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyalloohu ‘Anhu,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: (( اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ )). قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: (( الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالَ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ ))
Dari Abu Hurairah h, dari Nabi g beliau berkata: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya: “Apa tujuh perkara itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Alloh b, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Alloh b kecuali dengan haknya, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran saat perang berkecamuk, dan menuduh berzina terhadap wanita baik-baik yang mukmin yang terbebas dari tuduhan-tuduhan seperti itu.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh b
Dalam hadits diatas Rasulullah g memerintahkan umatnya untuk menjauhi tujuh perkara yang membinasakan dengan menggunakan kalimat “ijtanibū” yang berarti “Jauhilah…”, suatu perintah yang tegas dan gamblang agar ummatnya menjauhi 7 perkara yang membinasakan tersebut, yang demikian juga berarti adanya larangan untuk mendekati sesuatu yang diperintahkan untuk dijauhi tersebut.
Adapun tujuh perkara yang harus dijauhi adalah:
Yaitu menjadikan tandingan bagi Alloh dalam beribadah kepada-Nya. Artinya disamping seseorang beribadah kepada Alloh, ia beribadah juga pada tandingannya baik berupa pohon, batu, patung, seseorang yang dianggap wali, dan sebagainya; atau juga seseorang yang hanya beribadah kepada tandingan Alloh dan justru meninggalkan Alloh b secara totalitas. Inilah yang merupakan dosa terbesar dan kedzaliman yang tertinggi. Sebagaimana yang tertera dalam firman Alloh b:
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣
“Sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)
Ketahuilah, sesungguhnya orang yang meninggal dan ia tidak bertaubat dari perbuatan syirik niscaya kelak di akhirat Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut, Alloh berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa:48)
Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabi g tentang dosa terbesar disisi Alloh b? Beliau menjawab: “Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dia yang telah menciptakanmu.”
Dalam bahasa arab sihir adalah ungkapan untuk sesuatu yang tersembunyi dan sebabnya sangat lembut. Abu Muhammad al-Maqdisy menyebutkan bahwa: yang dimaksud dengan sihir adalah jimat, mantera, dan buhul atau ikatan, yang diyakini akan memberikan dampak tertentu bagi hati dan tubuh manusia, sehingga bisa mengakibatkan seseorang menjadi sakit atau bahkan mati, dan digunakan pula untuk memisahkan antara seorang suami dan istrinya.
Alloh b telah memerintahkan kaum muslimin untuk berlindung dari bahaya sihir ini. Karena sebagaimana yang telah menjadi aqidah Ahlu sunnah wal jama’ah bahwa sihir itu memang ada dan ia memiliki hakekat nyata seperti hal lainnya. Alloh b berfirman:
وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤
“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul.” (QS. al-Falaq [113]: 4)
Jikalau sihir itu tidak memiliki hakekat nyata, tidak mungkin Alloh b memerintahkan kita untuk berlindung dari bahayanya. Hal ini juga bisa dibuktikan dengan apa yang telah terjadi pada Rasulullah g ketika beliau disihir oleh Labid bin al-A’sham dengan sisir dan rambut yang dibungkus dengan pelepah yang disimpan di dekat sumur dzarwan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih.
Apa yang dilakukan oleh para tukang sihir merupakan hal yang tidak ia kerjakan sendiri, akan tetapi ia meminta bantuan syaithan dan jin. Hal ini sesuai dengan apa yang telah Alloh b gambarkan dalam firman-Nya bahwa ada sebagian manusia yang meminta bantuan mereka.
وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ٦
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin [72]: 6)
Al-Imam Ibnu al-Qoyyim r berkata: “Dan barangsiapa menyembelih binatang untuk syaithan, berdo’a kepadanya, meminta perlindungan padanya, dan mendekatkan diri padanya dengan melakukan hal-hal yang memang disukai oleh syaithan, maka sungguh ia telah mengibadahinya. Walaupun orang ini tidak menamakan perbuatannya ini sebagai ibadah akan tetapi sekedar “meminta bantuan” kepada syaithan. Dan benarlah ucapannya ini; hal itu memang merupakan permintaan bantuan dari syaithan padanya, sehingga orang ini akan menjadi pembantu syaithan dan pemujanya, dan untuk itu pulalah syaithan membantunya. Akan tetapi, bantuan syaithan terhadapnya bukanlah sebuah bantuan yang merupakan peribadatan kepada orang ini; karena syaithan tidak tunduk kepada manusia dan tidak pula beribadah kepada mereka. Berbeda dengan permintaan bantuan dari manusia kepada syaithan, karena hal ini merupakan peribadatan pada syaithan.”
Yang dimaksud dengan jiwa yang diharamkan oleh Alloh untuk membunuhnya adalah jiwa seorang muslim atau orang kafir dzimmi yaitu yang berjanji untuk tidak memerangi kaum muslimin dan siap untuk membayar jizyah. Kecuali membunuh mereka karena alasan yang dibenarkan seperti orang yang telah membunuh orang lain, maka ia terkena hukum qishash dengan dibunuh pula; atau orang yang berzina padahal ia telah menikah, maka ia terkena hukum rajm.
Artinyaseseorang dilarang untuk menggunakan harta tersebut dalam berbagai keperluan hidupnya dan tidak terbatas dengan memakannya. Untuk itu orang yang memiliki harta dari hasil riba harus disalurkan kepada orang lain dan hal tersebut tidak dianggap sebagai amal baiknya. Hal ini dikarenakan Alloh b sendiri mengharamkan secara umum mu’amalah atau transaksi yang mengandung unsur riba. Alloh b berfirman:
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ ٢٧٥
“…padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. al-Baqoroh [2]: 275)
Alloh juga telah memberikan gambaran yang menakutkan bagi orang-orang yang memakan harta riba ini dalam firman-Nya:
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٧٥
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan karena kesurupan.” (Qs. Al-Baqoroh [2]: 275)
Penggunaan kata “memakan” dalam hadits ini untuk menunjukkan keumuman yang terjadi di masyarakat. Dan hal ini tidak menutup kemungkinan penggunaan harta tersebut dalam hal lain yang masih tetap masuk dalam larangan untuk memakan harta anak yatim ini. Larangan ini Alloh b nyatakan dalam firman-Nya:
وَاٰتُوا الْيَتٰمٰىٓ اَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيْثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَهُمْ اِلٰٓى اَمْوَالِكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حُوْبًا كَبِيْرًا ٢
“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.” (Qs. an-Nisa’ [4]: 2)
Disamping larangan ini, Alloh b juga memberikan gambaran balasan orang-orang yang memakan harta mereka secara dzalim. Alloh b berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ ١٠
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. an-Nisa’ [4]: 10)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Hal ini juga merupakan dosa besar yang telah Alloh b larang dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوْهُمُ الْاَدْبَارَۚ ١٥
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerang kalian. Maka janganlah kalian membelakangi mereka (mundur).” (QS. al-Anfal [8]: 15)
Dan larangan ini berlaku jika hal itu dilakukan untuk benar-benar lari dari medan jihad/perang untuk keluar dari pertempuran. Karena Alloh b telah menyatakan bahwa lari dari medan perang ini dibolehkan jika dilakukan untuk bergabung dengan pasukan lain atau lari untuk mengelabuhi musuh yang termasuk dari siasat perang. Alloh b berfirman:
وَمَنْ يُّوَلِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ دُبُرَهٗٓ اِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ اَوْ مُتَحَيِّزًا اِلٰى فِئَةٍ فَقَدْ بَاۤءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٦
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal [8]: 16)
Alloh berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاۤءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًاۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۙ ٤
“dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik (QS. An-Nur :4)
إنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآيـُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صّلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا فَإِنْ لمَ ْتَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَلَمِيْن